PWI Aceh – GBTMA Bahas Penanganan Covid-19

halaman7.com – Banda Aceh: Sejumlah kalangan dokter di Aceh dengan berbagai spesialis melakukan diskusi bersama pengurus PWI Aceh guna membahas penanganan Covid-19 di Aceh saat ini.

Diskusi yang dilakukan di ruang rapat PWI Aceh, Rabu 15 April 2020 ini diikuti Ketua GBTMA dr Nurkhalis, Ketua IDI Aceh dr Syafrizal Rahman, Nazaruddin Kabid APD GBTMA Syahrul Humas GBTMA, dr Fathurrahmi Wakil Ketua GBTMA.

Dari PWI Aceh ikut dalam diskusi yang berlangsung sekitar 90 menit itu diantaranya Ketua PWI Aceh Tarmilin Usman, Wakil Ketua Iranda Novandi, Sekretaris Aldin NL, Bendahara Azhari, Ketua Siwo Imran Joni, anggota DKP PWI Aceh Nasir Nurdin serta pengurus lain Nasir Yusuf dan Legiono Tarigan.

Ketua PWI Aceh Tarmilin Usman mengharapkan ada sinergi semua pihak dan berperan sesuai dengan fungsi masing-masing.

“Pers berperan menyampaikan informasi yang benar dan akurat tentang Covid-19 di Aceh,” ujar Tarmilin Usman.

Dikatakan, perlu ada kesamaan persepsi sesama wartawan di Aceh agar dalam menyampaikan informasi tetang Covid-19. Hingga tidak menimbulkan kegaduhan atau kepanikan yang berlebih di tengah masyarakat.

Saat ini yang sangat dibutuhkan edukasi, guna memberikan pencerahan bagi masyarakat agar memahami kondisi saat ini. Saat ini masyarakat lagi euforia dengan diumumkan bahwa Aceh nol PDP.

Ketua GBTMA dr Nurkhalis mengungkap para dokter yang berada di ring pertama dalam penanganan kasus Covid-19 ini, seperti dokter spesialis paru dan penyakit dalam sudah kewalahan menangani kasus Covid-19 ini.

Hal ini bukan dialami para dokter dan para medis, namun para ahli dan pakar juga seakan sudah putus asa dalam kasus penanganan virus ini.

Dikatakan, Pers adalah garda terdepan dalam hal penanggulangan Covid-19 ini. Sedangkan dokter berada di garda terbelakang, karena berhadapan dengan para pasien yang sudah terpapar.

Saat ini harus disiapkan langkah besar agar, penanggulangan Covid-19 ini. Pers bisa menciptakan atmosfer yang benar, bagaimana sebenarnya kondisi penyebaran Covid-19 di Aceh saat ini.

Sementara, Ketua IDI Aceh, Syafrizal Rahman, Aceh saat ini sama seperti Indonesia dua bulan lalu, saat wabah ini merebak di Wuhan, Tiongkok.

Kondisi ini belumlah berakhir. Meskipun jumlah berkurang, namun hal itu belumlah aman. Karena, kondisi saat ini, ada kesan di tengah masyarakat bahwa Aceh sudah aman dari penyebaran virus Covid-19.

“Aceh belum efisentrum, makanya mungkin kurangnya perhatian pemerintah pusat dalam pendistribusian APD,” ujarnya.[andinova | red 01]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *