Sudahkan Anda Membaca Buku Hari ini?

Catatan Iranda Novandi

Ups… Maaf, jika judul itu kesannya sombong dan sok hebat. Seakan saya paling hebat, sudah membaca buku banyak sekali. Tidak. Sama sekali tidak bermaksud demikian. Itu hanya sekedar, pertanyaan spontan yang muncul dalam benak saya.

Kalau juga tidak sepakat, lupakan saja judul itu. Seorang sastrawan kondang nan ternama saja, William Shakespeare menyatakan, “apalah arti sebuah nama”. Begitu juga tulisan ini. Anggap saja, “apalah arti sebuah judul”.

Kalau belum juga bisa terima, begini aja. – jangan tutup dulu, lanjutkan dikit lagi aja membacanya – intinya yang ingin saya sampaikan, bahwa pada 17 Mei ini merupakan Hari Buku Nasional. Lalu, apakah karena Hari Buku Nasional kita harus membaca buku? Hari-hari lainkan juga bisa!!.

Nah, itu dia yang ingin saya sampaikan. Membaca buku bukan harus pada hari tertentu, namun kapanpun juga hendaknya kita lakukan. Bukankah agama kita (Islam) juga mengajarkan hal itu. Iqra..

Sebagai refrensi sebelum menulis ini, saya mencoba berselancar di di Dumay (dunia maya), betapa terkejutnya, ketika menemukan bahwa ternyata Perpustaakaan Aceh – mungkin yang terbesar di Aceh — yang terletak di Jalan T Nyak Arief, Lamgugop ternyata jumlah buku yang ada sangat sedikit. Hanya, ada 32.654 judul buku dengan jumlah 285.816 eksemplar. Sangat sedikitkan?

Data buku dan kunjungan ke perpustakaan wilayah Provinsi Aceh

Bayangkan saja, jika di Perpustakaan Daerah Aceh saja jumlah bukunya sangat sedikit, bagaimana dengan perpustaan di daerah kabupaten/kota lainnya. Bahkan, bisa jadi di daerah kabupaten/kota ada yang tidak memiliki perpustakaan daerah.

Bisa jadi kecilnya jumlah judul buku atau banyaknya eksemplar itu, karena minat baca masyarakat kita yang masih rendah. Atau minat baca masyarakat kita cenderung di warung kopi (warkop), itupun yang dibaca bukan buku, namun koran.

Konon atau dulu, cukup dengan modal Rp5.000 untuk segelas kopi pancung ditambah dua potong kue, maka satu Koran (surat kabar) bisa kita lumat habis dalam waktu yang berjam-jam duduk di warkop itu. namun, saat ini rasanya sudah langka Kit temukan koran di warkop. Kalaupun ada, mungkin bisa dihitung dengan jari.

Disamping rendahnya minat baca dan membaca di warkop, tidak bisa juga kita pungkiri, dijaman serba modern dan canggih ini, kita bisa membaca berbagai informasi dari telepon cerdas (smartphone) yang kita miliki. Namun saya kembali yakin, kalau yang kita baca itu hanya seputar berita realtime di media online, atau sekedar update status dan berkomentar ria di media sosial (medsos). Mungkin, tidak ada yang membaca buku lewat e-book yang tersedia?

Disisi lain, meskipun minat baca yang kecil, namun minat menulis buku oleh orang-orang Aceh saat ini sangat tinggi. Mereka itu umumnya, menulis sebagai bentuk pendokumentasian berbagai jejak sejarah atau peristiwa di Aceh masa lampau. Tentunya ini patut diapresiasi. Sebuat saja seperti Murizal Hamzah (MH) dengan buku Hasan Tiro-nya atau Zaini Abdullah.

Bersama Khalisuddin, MH juga menulis “Jejak Jokowi di Gayo”. Ada juga Yusradi Al-gayoni yang banyak menulis buku-buku tentang tanah leluhurnya Gayo. Khusus untuk Gayo banyak juga penulis potensial, sebut saja diantaranya Muhammad Syukri dengan “Hikayat Negeri Kopi” dan Muhammad Fathan dengan “Inspirasi dari Gayo”.

Untuk buku-buku sastra, sederet nama bisa saya sebutkan seperti LK Ara, Fikar W Eda, LK Ara. Ada juga Salman Yoga, Sulaiman Juned yang menginisiasi lahirnya buku sastra (puisi) 6,4 SR, yang merupakan kumpulan puisi tentang Gempa Pidie Jaya dan banyak lainnya.

Namun, jika di hitung-hitung, mungkin jumlah buku yang diterbitkan di Aceh bahkan Indonesia sangatlah kecil. Rata-rata di Indonesia hanya 18 ribu judul buku yang dicetak setiap tahunnya. Jumlah tersebut jauh berbeda dengan negara lainnya, seperti Jepang dengan 40 ribu judul buku per tahun dan China dengan 140 ribu judul per tahun.

Sedikitnya jumlah buku yang terbit setiap tahun inilah yang membuat Menteri Pendidikan dari Kabinet Gotong Royong, Abdul Malik Fadjar sejak 2002, menelurkan ide untuk menjadikan tanggal pendirian Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) di Jakarta pada 17 Mei 1980, menjadikan Hari Buku Nasional.

Memang Hari Buku Nasional ini tidaklah sepopuper Hari Buku Internasional 23 April. Karenanya, lewat Hari Buku Nasional ini hendaknya bisa menjadi momentum bagi masyarakat Indonesia untuk lebih mengenal perpustakaan dan meningkatkan minat baca buku bagi masyarakat.

Menumbuhkan kecintaan terhadap membaca buku menjadi tantangan bagi setiap individu. Mungkin seperti yang dilakukan Ruman Aceh yang setiap minggu menggelar Mibara, merupakan ‘Hipnotis’ dari Blang Padang layak ditiru banyak pihak dan dikembangkan di banyak daerah juga, terutama di Aceh.

Membaca dan menulis buku itu, tentunya bentuk upaya pencerdasan anak bangsa sekaligus melawan lupa dari banyak hal, terutama dengan adanya buku-buku tentang sejarah Aceh masa lalu. Mungkin Pemerintah Aceh perlu menyiapkan anggaran besar untuk mencetak buku, agar minat menulispun tinggi.

Begitu juga hendaknya, Pemerintah kabupaten/kota juga harus mengeluarkan Qanun (Perda) tentang perpustakaan. Sehingga disemua daerah di Aceh ada perpustakaan. Bisa juga menginisiasi lahirnya taman bacaan, yang tidak mesti di dalam gedung, hingga menimbulkan minat baca yang tinggi dari masyarakat.

Caranya..? silahkan anggota dewan yang terhormat dan pemerintah daerah memikirkannya. Penciptaan generasi emas Aceh masa depan, juga harus dibangun dari sekarang. Membangun infrastruktur modern dan megah tentu sangat perlu, namun tanpa dibarengi generasi cerdas, tidak mungkin Aceh bisa mengulangi masa emas, kejayaan tempoe doeloe.

Terakhir, siapa lagi yang akan mengenalkan Aceh lewat buku, jika bukan anak-anak Aceh? Sebelum ditutup, kembali saya pertanyakan: Sudahkan Anda Membaca Buku Hari Ini? Jika sudah, sebutkan di kolom komentar di bawah tulisan ini..!

Tulisan ini sudah pernah dipublis di blog bukuiranda@worldpress.com dengan judul yang sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *