Hj Hanifah Muyasarah, Sosok Ulama Perempuan yang Kreatif

HJ HANIFAH Muyasarah, lahir di Cilacap pada 19 Oktober 1969. Pengasuh Pondok Pesantren Puteri Al-Ihya Ulumaddin, Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Selain itu, Bu Muyas, demikian ia biasa dipanggil, adalah dosen tetap di Universitas Nahdlatul Ulama Al-Ghazali (Unugha), Cilacap, dan menjadi Kaprodi Komunikasi dan Penyiaran.

 Bu Muyas juga menjabat sebagai Presidium Nasional Kelompok Kepentingan Perempuan Buruh Migran Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) periode (2020-2025).

Sebelum itu, ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Cabang Koalisi Perempuan Indonesia Kabupaten Cilacap (2002-2007), dan Sekretaris Wilayah Koalisi Perempuan Indonesia Wilayah Jawa Tengah (2012-2017).

Hanifah Muyasarah menempuh pendidikan formal dari mulai SD di Pahonjean, Majenang, SMPN 2 Kebumen, Jawa Tengah, MA Al Muayyad di Solo Jawa Tengah, dan S1 di Institute Agama Islam Imam Ghozali (IAIIG) Cilacap, Program Studi Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam. Ia kemudian melanjutkan ke jenjang Magister Prodi Ilmu Adminitrasi di Universitas Soedirman, Purwokerto.

Bu Muyas lahir dari keluarga dengan delapan bersaudara, lelaki lima orang, dan ia perempuan sulung dari tiga saudara perempuan. Ayah Bu Muyas berasal dari lingkungan pesantren, dan sangat moderat.

Meski hanya lulusan pesantren, ayahnya sangat mendorong anak-anaknya untuk belajar setinggi mungkin. Ayahnya terinspirasi Prof Dr Zakiah Daradjat.

Namanya selalu didengung-dengungkan di hadapan tiga anak perempuannya dan disampaikan di hadapan banyak orang. “Anak ini besok yang akan menjadi Dr Zakiah Daradjat.”

Tidak hanya dirinya yang diperlakukan seperti itu oleh sang ayah. Tetapi juga adik-adik perempuannya. Maka ketika Bu Muyas merasa malas untuk kuliah lagi, adiknya yang sedang menempuh pendidikan doktoral di Yogyakarta mengatakan, “Mbak dulu ingat nggak, Bapak sering bilang Prof Dr Zakiah Daradjat?”

Baca Juga  Pelaku Curanmor di Banda Aceh Diringkus di Medan

Dengan motivasi dari sang ayah tersebut, adiknya kini sudah kuliah lagi, sedangkan Bu Muyas belum berkeinginan untuk melanjutkan ke jenjang doktoral.

Selain menjadi dosen sekaligus Kaprodi Komunikasi Penyiaran dan Islam di Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (Unugha) Cilacap, Bu Muyas aktif melakukan pengorganisiran buruh migran melalui Koalisi Perempuan Indonesia, sejak tahun 2002.

Pada tahun tersebut di Cilacap sudah ada organisasi underbrow KPI yang dinamakan Persatuan Keluarga Buruh Migran Indonesia (PKBMI) yang pendiriannya diinisiasi oleh Bu Muyas.

Keulamaan Perempuan

Bu Muyas merupakan alumni dari Pendidikan Ulama Perempuan (PUP) Rahima. Sebelum itu, sekitar tahun 1998, ia lebih dulu mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Kiai Masdar F. Mas’udi, yaitu Mashalih Ar-Ra’iyah yang salah satunya dilaksanakan di Pesantren Al-Ihya Ulumaddin, Cilacap.

Ia juga mengikuti pertemuan-pertemuan berikutnya. Sampai kemudian Rahima berdiri dan ia juga mengikuti kegiatan Rahima di Jakarta. Kegiatannya seperti PUP, meskipun secara resmi belum dinamai sebagai PUP.

Saat itu, Bu Muyas hadir satu forum dengan Kang Faqih Abdul Kodir dan Ibu Nyai Ruqoyyah dari Bondowoso. Kegiatan tersebut diselenggarakan secara regular oleh Rahima.

Ketika KUPI diadakan, Bu Muyas sudah berniat berangkat dan sudah membeli tiket. Namun sayangnya, ia ketinggalan kereta dan akhirnya tidak bisa hadir di dalam KUPI pertama di Cirebon.

Paska KUPI digelar, Bu Muyas berupaya mengaplikasikan 3 fatwa atau pandangan keagamaan KUPI ke dalam Program Koalisi Perempuan Indonesia.

Pada 2017, ia melakukan kampanye pencegahan perkawinan anak di Jawa Tengah dengan mengambil lokasi di Semarang, dan menghadirkan pemerintah daerah yang tinggi angka perkawinannya, seperti Brebes, Demak, dan Jepara.

Adapun unsur Pemda yang diundang antara lain Bappeda dan DP3AKB. Selain pemerintah daerah, organisasi masyarakat juga ikut diundang.

Baca Juga  Menpan RB, Tjahjo Kumolo Berpulang

Bu Muyas juga konsen dengan isu pencegahan kekerasan seksual. Ia mengelola shelter dan tempat untuk merujuk korban dan melaporkan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Ia melakukan kerjasama dengan P2TP2A dan DP3AKB untuk pendampingan korban dan layanan shelter.

Selama ini fasilitas shelter yang dikelola oleh Dinas dan Pemda masih terbatas dan seringkali tidak menyelesaikan masalah. Dinas sosial misalnya, hanya menyediakan shelter bagi korban maksimal tiga hari.

Padahal, korban membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk pemulihan dari trauma fisik dan psikis. Maka kemudian, Bu Muyas bersama komunitasnya menyiapkan shelter untuk keberlanjutan pendampingan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan.

Bu Muyas berpendapat bahwa bekerja dan berorganisasi membawa pengaruh positif bagi perempuan. Dengan bekerja, selain perempuan akan mandiri secara ekonomi, secara psikis ia akan lebih merasa percaya diri.

Sementara aktivitas perempuan di dalam organisai dapat menjadi batu lompatan yang signifikan bagi pengembangan dirinya. Karena perempuan belum tentu akan berhasil mencapai yang diharapkan dengan belajar sendirian.

Tetapi ketika berorganisasi, perempuan dapat belajar bersama dan mendiskusikan seluruh persoalan perempuan secara bersama-sama sehingga menjadi lebih cepat memahami dan lebih cepat melakukan gerakan-gerakan bersama.

Hanifah Muyasarah pernah mengikuti Short Course Preventing and Responding GBV di Adelaide Australia selama 10 minggu.

Hanifah Muyasarah menghasilkan karya-karya dalam bentuk tulisan, antara lain:

  1. “Kepemimpinan Perempuan Perspektif Islam”, di dalam Al Munqidz3, 15 LPPM IAIIG Cilacap (2016). https://scholar.google.co.id/citations?user=yy_91gEAAAAJ&hl=id
  2. “KOMUNIKASI ISLAM: Konsep Dasar Dan Pinsip-Prinsipnya”, Hujjah, Jurnal Komunikasi Islam dan Penyiaran, Vol 4, No 1 (2020). https://ejournal.iaiig.ac.id/index.php/hujah/article/view/304
  3. “Kajian Jenis Kecemasan Masyarakat Cilacap dalam menghadapi Pandemi Covid 19”, LembagaPenelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), Universitas Nahdlatul Ulama Al-Ghazali, Cilacap (2020). http://repository.unugha.ac.id/858/1/Riset%20Kecemasan%20Masyarakat%20Cilacap%20Menghadapi%20Pandemi%20Covid-19.pdf
  4. “Strategi Dakwah pada lanjut Usia di Panti Wredatama Kesugihan Cilacap”. https://www.semanticscholar.org/paper/Strategi-Dakwah-pada-lanjut-Usia-di-Panti-Wredatama-Hanifah/079fe666b3e71a76315ae0746bbda8f315fae82f
  5. “Implementasi UU No 39 tahun 2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri di Kabupaten Cilacap”, tahun 2008.
  6. “Perekrutan, Pendidikan, dan Pelatihan bagi Calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Kabupaten Cilacap, tahun 2011.
  7. “PublicRelations sebagai Management Pengembangan Organisasi”, 24 Oktober 2015.
  8. “Komunikasi Interpersonal antara Sponsor (Calo) dengan Calon TKI pada Proses Perekrutan di Kabupaen Cilacap, tahun 2018.
  9. “New Media sebagai media Dakwah Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin, Kesugihan Cilacap”, tahun 2021.
Baca Juga  Anak Yatim Piatu di Birem Puntong dapat Santunan

Wow, sosok perempuan produktif berkarya dan bergerak membangkitkan semangat emansipasi perempuan, sangat inspiratif dan mencerahkan.[Aji Setiawan]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.