halaman7.com – Banda Aceh: Pimpinan Dayah Insan Qur’ani (IQ) Ust Muzakkir Zulkifli beserta pengurus dayah menyambangi kebun kurma milik Mahdi Muhammad di Barbatee, Aceh Besar, Rabu 26 Mei 2021.
Kunjungan itu untuk mempelajari pengembangan wakaf produktif khususnya di bidang pertanian. Hasil kunjungan ke kebun kurma itu nantinya akan dikembangkan Dayah IQ sebagai ikhtiar untuk mewujudkan kemandirian ekonomi pesantren.
Dayah yang berlokasi di Gampong Aneuk Batee, Suka Makmur Aceh Besar ini telah memiliki badan usaha dayah yang diharapkan dapat membantu pembangunan dan pengembangan pesantren.
“Badan Usaha Dayah kita saat ini masih fokus pada bidang perdagangan. Kita harap nantinya dari hasil kunjungan ini dapat juga merambah bidang pertanian. Karena harapan kita suatu saat nanti Badan Usaha Dayah ini dapat membantu para santri. Sehingga tidak harus lagi membayar SPP,” ujar Ust Muzakkir saat disambut pemilik Kebun Kurma Barbatee, Mahdi Muhammad.
Nantinya juga akan libatkan para santri dalam pengembangan dan pengelolaan wakaf produktif di bidang pertanian ini.
Ust Muzakkir mengatakan, pihaknya dalam waktu dekat akan memulai melakukan pembangunan kampus baru untuk pengembangan Dayah IQ di Blang Bintang.
“Saat ini ada 950 lebih santri mondok di Dayah IQ. Kondisinya sudah mengharuskan dilakukannya pengembangan. Alhamdulillah ada hamba Allah yang mewakafkan tanahnya untuk Dayah IQ di Blang Bintang. Mudah mudahan proses pembangunannya dapat segera terwujud,” jelas Ust Muzakkir.
Sementara pemilik kebun kurma Barbatee dan juga pengelola Baitul Mal pohon kurma Barbatee Mahdi Muhammad menyambut baik kehadiran pimpinan Dayah IQ beserta rombongan. Ia mendukung penuh langkah-langkah yang dilakukan pihak Dayah IQ dalam mewujudkan kemandirian pesantren.
Pada kesempatan itu, Mahdi mengajak rombongan Dayah IQ untuk berkeliling melihat usaha pertanian yang dikelolanya. Seperti pohon kurma, tambak ikan, penggemukan sapi, ternak madu linot dan sejumlah tanaman lainnya.
Solusi Entas Kemiskinan
Dijelaskannya, pertanian adalah solusi untuk mengentas kemiskinan. Hal tersebut berdasarkan inspirasi dari ayat Al Qur’an dalam Surah Al-Baqarah ayat 261. Allah subhanahu wata’ala menjelaskan dari satu benih tumbuh tujuh cabang dan masing-masing cabang menghasilkan 100 biji. Ini sungguh luar biasa apabila konsep ini benar-benar diamalkan oleh orang Islam.
Kalau konsep ini diterapkan dengan benar. Maka insyaAllah sektor pertanian akan menghasilkan benefit yang luar biasa. Sehingga dapat membantu meningkatkan ekonomi masyarakat. Bahkan bisa mengentaskan kemiskinan yang dialami masyarakat Aceh sekarang.
Kenapa sektor pertanian bisa melakukan ini?. Hal ini bisa dilihat dalam ketentuan zakat dalam islam. Ada perbedaan antara zakat tijarah dengan zakat pertanian. Dari sisi haul, zakat pertanian tidak dihitung dari tahun, tapi dari setiap panen. Juga dari sisi besaran yang harus dikeluarkan seorang muzakki juga lebih besar. Kalau zakat tijarah dll sebesar 2,5% tapi untuk pertanian 5-10℅.
“Ini artinya pertanian berperan dalam zakat,” lanjutnya.
Alasan memilih menanam pohon kurma?. Menurut Mahdi pohon kurma punya umur sampai 100 tahun. Selain itu, pilihannya memilih lahan tandus untuk ditanami kurma adalah sebagai bentuk penerapan salah satu konsep Islam yaitu ihyaul amwat.
“Apabila project kurma barbatee ini sukses. Maka insyaAllah seluruh Aceh dapat ditanami kurma,” sebut Mahdi.
Sebagai bentuk dukungan nyata untuk pelaksanaan Wakaf Dayah IQ, ia mewakafkan tiga batang pohon kurma untuk ditanam di kampus Dayah IQ dan siap untuk berdiskusi kalau dibutuhkan.
“Kita sangat mendukung ini. InsyaAllah kita juga siap untuk membantu apa yang dibutuhkan untuk menyukseskan program yang dikembangkan IQ sesuai dengan kapasitas kita,” tandas Mahdi.
Sebelum berkunjung ke kebun kurma Barbatee, Pimpinan Dayah IQ beserta rombongan terlebih dahulu melihat langsung lokasi untuk pengembangan Dayah IQ di Blang Bintang.[ril | red 01]
















