Mengintip Kamar Rahasia Cut Nyak Dhien

Rumah peninggalan Cut Nyak Dhien di Lampisang, Peukan Bada, Aceh Besar.[FOTO: h7 - iranda novandi]

Catatan: Iranda Novandi

NAMA Cut Nyak Dhien tentu tidak asing lagi ditelinga kita, baik masyarakat Aceh maupun Indonesia secara umum. Bahkan, Negeri Belanda sendiri, mengakui kehebatan wanita perkasa satu ini.

Betapa Belanda dibuat repot dan kewalahan menghadapi perlawanan Cut Nyak Dhien. Pnatang menyerah dan memiliki taktik perang yang jitu hingga strategi bergrilya, membuat Belanda kehabisan akal sehat menghadapinya.

Bahkan, saat berperang melawan istri dari Teuku Umar ini, Belanda sama sekali tak mengenalnya secara langsung. Ini dikarena, konon katanya, Cut Nyak Dhien selalu mengenakan hijab dan bercadar. Sehingga Belanda kesulitan mengenal wajah asli sosok wanita tangguh ini.

Kamar Cut Nyak Dhien.[FOTO: h7 iranda novandi]
Menggunakan cara-cari licik dan kotor, Belanda barulah bisa menangkap dan mengasingkannya ke pulau Jawa, tepatnya ke Sumedang. Strategi ini dilakukan, agar semangat juang Cut Nyak Dhien tidak menular ke para pejuang Aceh tempo dulu.

Lalu apakah Cut Nyak Dhien, sedih saat ditangkap dan dibuang Belanda. Jawabannya, tentu tidak. Cut Nyak Dhien baru menetes air matanya, saat dia dipaksa membuka jilbab dan cadarnya di pengasingan.

“Ini foto asli dari Cut Nyak Dhien, foto disaat Cut Nyadk Dhien menangis karena dipaksa membuka jilbab dan cadarnya,” ujar Aisyah, seorang penjaga rumah peninggalan sejarah, Cut Nyak Dhien, dikawasan Lampisang, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar.

Rumah peninggalan Cut Nyak Dhien yang dibangun kembali pemerintah, setelah rumah itu sempat rata dengan tanah, setelah dibakar Belanda. Belanda membakar rumah tersebut karena ingin mematahkan perjuangan Cut Nyak Dhien.

Tindakan Belanda, semakin panik dan kalap, setelah ternyata, meskipun Belanda telah membunuh Teuku Umar, suami Cut Nyak Dhien, ternyata, perlawanannya tak semakin kendor. Bahkan semakin bergelora, hingga membuat Belanda lebih takut pada 1 orang Cut Nyak Dhien dibandikan 10 pejuang laki-laki Aceh saat itu.

Baca Juga  Sekelumit Cerita dari Jalan Cut Nyak Dhien Langsa

Rumah Cut Nyak Dhien yang berbentuk rumah tradisional Aceh itu, dinilai Belanda sebagai rumah perjuangan. Karena di rumah itulah strategi perang dirancang dan dikobarkan, guna melawan penjajahan Belanda kala itu.

Dari rumah inilah, segala strategi disusun dan dirancang melawan kafe-kafe Belanda. Saat berkunjung ke rumah peninggalan Cut Nyak Dhien pekan lalu, halaman7.com menemukan banyak bukti dan saksi bisa sejarah perjuangan bangsa Aceh melawan Kolonial Belanda.

Rumah ini berbentuk persegi Panjang, dengan berbagai pilar atau ruangan di dalamnya. Di bagian depan terdapat lorong yang pada bagian dindingnya terdapat banyak duplikat foto-foto perjuangan Aceh masa lampau.

“Ini foto-foto hanya copiannya saja, aslinya ada di museum di Belanda,” ujar Aisyah saat memandu saat melihat-lihat isi peninggalan rumah Cut Nyak Dhien.

Selain foto Cut Nyak Dhien, terpajang juga sejumlah foto pahlawan Indonesia asal Aceh lainnya disana. Seperti Cut Mutia, Cut Meurah Intan. Sama halnya dengan Cut Nyak Dhien, Cut Meurah Intan, juga seorang pejuang perempuan di Aceh, yang oleh Belanda di buang ke Blora. Hanya saja, hingga saat ini, pemerintah belum menganugerahkan pahlawan nasional bagi Cut Meurah Intan.

kamar juru masak Cut Nyak Dhien.[FOTO: h7 – iranda novandi]
Di bagian depan rumah, kita menemukan dua kamar yang pintunya saling berhadapan. Ini adalah kamar dayang-dayang dari Cut Nyak Dhien. Mengapa ada dua?, karena Cut Nyak Dhien memiliki dua pasang suami istri yang menjadi dayang dan pengawal di rumah tersebut.

Penempatan dua kamar dayang-dayang di depan, sebagai salah satu strategi mengelabui Belanda. Dimana, saat Belanda mendatangi rumah tersebut, untuk mencari Cut Nyak Dhien, pasti yang dituju kamar depan.

Ternyata hasilnya zonk alias nihil, karena Belanda tak menemukan Cut Nyak Dhien, melainkan para pembantu atau dayang-dayangnya saja.

Baca Juga  Kadisdik Aceh Tinjau Sekolah di Pedalaman Aceh Jaya

Di sisi kiri rumah terdapat kembali lorong yang arah depan menuju sumur dan arah belakang menuju ruang makan dan dapur. Sumur yang terdapat di rumah Cut Nyak Dhien ini dibuat tinggi, sejajar dengan rumah.

Sumur rumah Cut Nyak Dhien.[FOTO: h7 – iranda novandi]
Ini dilakukan guna menghindari niat busuk Belanda Bersama antek-anteknya untuk berniat meracuni Cut Nyak Dhien dan keluarga.

Dibagian dapur, selain terdapat meja makan, juga terdapat berbagai pajangan senjata tajam, seperti keras, parang, pedang, yang tersimpan dan tertata rapi. Senjata-senjata tersebut, pada zaman dulu menjadi alat perang atau senjata pertempuran bagi rakyat Aceh dalam melawan Belanda.

Di dapur ini juga ada, kamar juru masak, yang sehari-hari mempersiapkan makanan bagi Cut Nyak Dhien dan keluarga serta para pejuang Aceh yang senantiasa datang ke rumah Cut Nyak Dhien, guna menyusun strategi perang menghapi Belanda.

Ruang rapat.[FOTO: h7 – iranda novandi]
Strategi perang itu disusun dan dirancang disalah satu ruangan khusus, yaitu ruang rapat. Letaknya persis ditengah-tengah kamar juru masak dan kamar pribadi Cut Nyak Dhien. Di ruang rapat inilah banyak para pejuang Aceh menyusun strategi perang melawan Belanda.

Ruang rapat ini berbeda dengan ruang tamu, kalau ruang tamu berada diposisi depan rumah, pada sisi sebelah kiri dari tangga masuk ke beranda rumah. Ruang tamu hanya dipergunakan guna menerima tamu-tamu biasa yang datang bersilaturrahmi dengan Cut Nyak Dhien.

Tamu-tamu ini tak akan pernah dibawa ke ruang rapat oleh Cut Nyak Dhien. Ruang rapat diguakan Cut Nyak Dhien hanya menerima para tamu pejuang guna menyusun strategi perjuangan.

Menyangkut ruang rapat dan kamar khusus Cut Nyak Dhien yang memiliki aura berbeda, rasanya sulit diuraikan secara detil dalam tulisan ini. Lebih baik, anda berkunjung sendiri ke peninggalan Rumah Cut Nyak Dhien yang terletak di Gampong Lampisang, Peukan Bada, Aceh Besar.

Baca Juga  Dandim Aceh Timur: Ramadhan Perbanyak Ibadah

Posisinya persis sebelah kiri jalan Banda Aceh – Meulaboh, Aceh Barat, jika anda ingin berkunjung ke rumah tersebut dari arah Banda Aceh. Namun, jika anda dating dari arah Meulaboh, Aceh Barat, posisinya berada di sebelah kanan, sekitar 1-2 km sebelum sampai Simpang Rima, Peukan Bada.

Bagaimana, anda tertarik mengunjunginya secara langsung. Ya pastikan anda untuk berkunjung kesana. Saksikan dan lihat sendiri, nuansa dan aura perjuangan di dalam rumah tersebut.[]

seorang pengunjung mengabadikan foto-foto di rumah peninggalan Cut Nyak Dhien.[FOTO: h7 – iranda novandi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *