halaman7.com – Aceh Besar: Keunggulan Visual Inseminasi Buatan Hendra atau disingkat VIB-H dari alat IB konvensional adalah lebih efektif pada proses inseminasi, efisien dan ekonomis bagi para peternak.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala UPTD Inseminasi Buatan dan Inkubator Dinas Peternakan Aceh, selaku inventor VIB-H, saat menyampaikan materi pada Training Series V, yang mengusung tema ‘Peningkatan Produktivitas Ternak Melalui Inseminasi Buatan Berbasis Artificial Intelligence, di aula UPTD IBI Saree, Selasa 18 Nopember2025.
“Sejak 2020, saya tergerak untuk menciptakan alat yang mampu mendeteksi masa subur ternak atau saat ternak betina ingin dibuahi. Dalam dunia peternakan, khususnya proses IB, pengetahuan ini penting agar proses IB dilakukan di saat yang tepat. Dengan demikian, akan memberi keutungan secara ekonomi dan waktu, baik bagi peternak maupun bagi para petugas,” ujar Hendra.
Dikatakan selama ini, proses IB manual dilakukan oleh petugas, kondisi bukaan servik hanya sang petugaslah yang tahu karena metodenya perabaan. Dengan VIB-H, kondisi bukaan servik bisa dilihat tidak hanya oleh petugas tetapi juga bisa dipantau oleh peternak karena semua prosesnya telah memanfaatkan AI serta tersambung pada aplikasi di gawai.
Hendra menambahkan, dengan VIB-H maka proses IB bisa dilakukan tepat waktu serta meminimalisir human error. Jika IB dilakukan saat ternak betina tidak ingin dibuahi atau saat mulut serviknya tidak terbuka, maka proses IB bisa dipastikan gagal.
“Berbeda dengan manusia yang bisa dibuahi kapan saja, ternak betina berbeda. Jika dia tidak ingin dibuahi atau mulut serviknya tidak terbuka, maka proses pembuahan bisa dipastikan tidak akan berhasil,” ucap Hendra.
Karena itu, sambung Hendra, tampilan visual serviks pada proses IB menggunakan VIB-H akan sangat membantu petugas mengambil keputusan, apakah ternak berada pada posisi birahi puncak dengan serviks yang membuka sempurna.
“Di sisi lain, dengan tampilan visual pada VIB-H, maka masyarakat juga dapat memantau langsung, apakah ternak mereka yang akan menjalani proses IB memang berada dalam birahi puncak. Jika tidak, maka masyarakat bisa menangguhkan proses IB hingga waktu birahi puncak tiba,” ungkap Hendra.
Kegiatan ini turut menghadirkan dua pembicara lainnya, yaitu dosen Universitas Bina Bangsa Getsempena, Teuku Muhammad Mirza Keumala, dan Dosen Universitas Abulyatama, Dedhi Yustendi.
Sekilas tentang VIB-H
VIB-H mulai diinisiasi oleh pria bertitel lengkap Dr Ir Hendra Saputra SPt MM IPU ASEAN Eng ini sejak 2020 silam. Kini, alat tersebut telah bersertifikat Hak Atas Kekayaan Intelektual dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum Indonesia.
Beberapa waktu lalu, Hendra juga telah diundang oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional di Lembang Jawa Barat. Hendra mempresentasikan VIB-H di hadapan Kepala Pusat Riset Peternakan-BRIN Dr drh Santoso, MSi, dan para pakar peternakan BRIN, yaitu Prof Dr drh Herdis MSi, Ir Tri Puji Priyanto M Agr Sc Phd, serta Dr Fitra Aji Pamungkas, S Pt MSi.
Kepala Pusat Riset Peternakan-BRIN mengapresiasi dan sangat menyambut baik serta menegaskan komitmen BRIN untuk mengembangkan VIB-H. Santoso menjalankan, VIB-H sangat sejalan dengan visi Pemerintah Pusat dalam upaya pengembangan teknologi di dunia peternakan.
Para pakar berpendapat, pemanfaatan AI pada VIB-H bukan semata lompatan teknologi di dunia peternakan, tetapi juga sangat efektif dalam penerapan dan berefek ekomomi bagi peternak dan petugas IB.[ril |red 01]

















