Keuchik Beperan Penting dalan Pengembangan Pariwisata Sabang

Walikota sabang saat melantik para keuchik.[FOTO: h7 - dok humas pemkab]

BAGI Kota Sabang, sektor pariwisata menjadi salah satu keunggulan utama yang dapat diintegrasikan dengan pengembangan ekonomi gampong. Dari wisata bahari, wisata sejarah, hingga wisata budaya semuanya memiliki potensi besar jika dikelola dengan pendekatan berbasis masyarakat.

Pembangunan besar selalu dimulai dari langkah kecil dan di Kota Sabang, langkah itu dimulai dari gampong, dari tangan para keuchik, sebagai perpanjangan tangan pemerintah dan penjaga harapan masyarakat.

Peran keuchik menggiring masyarakatnya ke arah yang lebih baik, dan menjembatani kebijakan pemerintah kota dengan warga. Sehingga perkembangan pariwisata memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Harapan itulah yang disampaikan Walikota Sabang, Zulkifli H Adam saat melantik 18 keuchik dalam Kota Sabang.

Ini bukan hanya bentuk apresiasi, tetapi juga pesan kepercayaan bahwa para keuchik adalah figur sentral yang akan mengemban amanah besar sebagai perpanjangan tangan pemerintah sekaligus pemimpin masyarakat di gampong masing-masing.

Pelantikan keuchik bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari perjalanan panjang pengabdian. Sebuah perjalanan yang menuntut ketulusan, keberanian mengambil keputusan, serta komitmen untuk selalu berpihak pada kepentingan rakyat.

Pemerintah Kota Sabang melalui dinas terkait terus memperkuat pengembangan pariwisata berbasis komunitas sebagai strategi utama dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.

Lebihlanjut dikatakan, ketika gampong tertata, maka pembangunan akan lebih merata dan berkeadilan, dan untuk itu tugas keuchik lebih berat dari tugas pejabat lainnya, posisi keuchik sebagai motor penggerak pembangunan.

“Gampong bukan sekadar unit administratif, melainkan pusat kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Ketika gampong kuat, maka kota pun akan kokoh,” ujar Walikota yang akrab disapa Pak Zul.

Salah satu strategi yang ditekankan pemerintah adalah optimalisasi peran Badan Usaha Milik Gampong (BUMG). Dalam situasi dana transfer yang menurun, BUMG menjadi harapan baru untuk memperkuat kemandirian ekonomi desa.

Baca Juga  BI: Aceh Memiliki Kakayaan Melipah, Tapi Masih Bergelut dengan Kemiskinan

Keuchik didorong untuk berani melakukan inovasi, menggali potensi lokal, dan menciptakan sumber-sumber pendapatan baru yang berkelanjutan.

BUMG dapat menjadi pengelola homestay, penyedia jasa wisata, pengelola produk UMKM, hingga mitra strategis dalam pengembangan ekonomi kreatif. Dengan kepemimpinan yang visioner, gampong tidak lagi hanya bergantung pada dana transfer, tetapi mulai melangkah menuju kemandirian ekonomi.

Dalam konteks inilah, peran keuchik menjadi sangat strategis sebagai perpanjangan tangan pemerintah kota. Kebijakan nasional dan daerah akan menemukan wujud nyatanya di gampong.

Program pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas layanan publik, penguatan ekonomi lokal, hingga pembangunan infrastruktur skala kecil semuanya berpijak pada kepemimpinan keuchik yang responsif, adil, dan berintegritas.

Keuchik diharapkan mampu merangkul seluruh elemen masyarakat tanpa kecuali dari perangkat gampong, tuha peut, imum mukim, tokoh pemuda, tokoh agama, tokoh adat, hingga kelompok perempuan. Pembangunan tidak akan pernah berhasil jika hanya berjalan satu arah. Ia membutuhkan kolaborasi dan komunikasi harmonis sebagai fondasi utama.

Pembangunan dan Pelayanan Publik

Sejumlah geuchik yang dilantik Walikota Sabang.[FOTO: h7 – dok ist]
Di tengah tuntutan publik yang semakin tinggi terhadap tata kelola pemerintahan yang bersih, gampong harus menjadi contoh bahwa pemerintahan yang jujur dan profesional bisa dimulai dari level paling bawah.

Dengan kepemimpinan yang amanah, kolaborasi yang kuat, serta semangat membangun dari bawah, Kota Sabang optimistis dapat melangkah menuju masa depan yang lebih maju dan lebih baik.

Tantangan ke depan tidaklah ringan, banyak agenda strategis pemerintah yang harus disukseskan bersama, di antaranya pelaksanaan Program Koperasi Desa Merah Putih, percepatan pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas pelayanan publik di tingkat gampong, serta dukungan terhadap pencapaian target RPJMD Kota Sabang 2025–2029.

Namun, tantangan nyata telah menanti di awal masa jabatan para keuchik. Pemerintah Kota Sabang secara terbuka menyampaikan bahwa dana desa atau dana gampong untuk tahun 2026 mengalami penurunan yang sangat signifikan, yakni sekitar 59 persen.

Baca Juga  Ratusan Turis Mancanegara Kunjungi Sabang

“Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi realitas yang harus disikapi dengan kebijakan cerdas dan kepemimpinan yang bijak,” demikian Pak Zul mengingatkan.

Dalam kondisi keterbatasan anggaran, keuchik dituntut untuk menyusun APBG dengan skala prioritas yang ketat. Fokus utama harus diarahkan pada kebutuhan dasar masyarakat: pelayanan kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, serta penguatan jaring pengaman sosial.

BUMG dapat menjadi pengelola homestay, penyedia jasa wisata, pengelola produk UMKM, hingga mitra strategis dalam pengembangan ekonomi kreatif. Dengan kepemimpinan yang visioner, gampong tidak lagi hanya bergantung pada dana transfer, tetapi mulai melangkah menuju kemandirian ekonomi.

Selain kemampuan mengelola pembangunan, aspek lain yang tidak kalah penting adalah integritas. Walikota Sabang menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan gampong.

Kolaborasi, sinergi, dan kebersamaan. Pembangunan tidak bisa dijalankan sendiri-sendiri. Pemerintah kota membutuhkan dukungan penuh dari para keuchik, dan para keuchik membutuhkan partisipasi aktif masyarakat.

Keuchik diharapkan menjadi teladan bagi aparatur gampong dan masyarakat luas. Sebab, gampong adalah ujung tombak pelayanan masyarakat tempat pertama warga merasakan apakah negara hadir dengan wajah yang ramah atau justru sebaliknya, ujar Wali Kota.

Arah Pembangunan Pariwisata

Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susethia, mengatakan arah pembangunan pariwisata kini tidak lagi bertumpu pada pembangunan infrastruktur dan promosi semata, melainkan menekankan keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama.

Dinas Pariwisata terus melakukan pembinaan dan pelatihan bagi para pelaku wisata, mulai dari pengelola homestay, penyedia jasa snorkeling dan diving, pedagang kuliner, hingga pembuat suvenir khas Sabang. Tujuannya agar masyarakat memiliki standar pelayanan dan kesadaran lingkungan yang lebih baik.

Pemerintah juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mengelola kawasan wisata secara mandiri melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan lembaga ekonomi lokal. Model ini terbukti menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab warga terhadap destinasi di daerah mereka.

Baca Juga  Walikota Sabang Tegaskan Semua Pantai Terbuka untuk Umum

Dengan semangat kebersamaan inilah, diharapkan akan lahir gampong-gampong yang sejahtera, mandiri, dan berdaya saing. Gampong yang tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi subjek utama yang menentukan arah masa depan daerahnya.[adv]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *