Ratusan Warga Tinggalkan Aceh Tengah/Bener Meriah Saat Lebaran Idulfitri

Begini Tanggapan Ketum KNA

Ilustrasi kondisi di Jembatan Tenge Besi.[FOTO: h7 - int]

halaman7.com – Banda Aceh: Ratusan warga Aceh Tengah dan Bener Meriah ramai-ramai meninggalkan daerahnya untuk liburan lebaran Idulfitri 1447 H tahun ini. Kondisi ini sangat berbalik saat lebaran tahun lalu, dimana ramai-ramai warga luar Aceh Tengah dan Bener Meriah yang berdatangan untuk liburan.

Amatan warga Banda Aceh yang lagi mudik lebaran ke Takengon Aceh Tengah, Jufriandi, mengungkapkan kondisi jalan Bireuen-Takengon macet ber kilo-kilometer. Tapi sangat di sayangkan, anomalinya yangg macet bukan arahan Bireuen ke Takengon tapi sebaliknya, arah dari Takengon ke Bireuen.

“Banyak masyarakat Takengon keluar kota, terutama Bireuen untuk liburan lebaran tahun ini,” ujar Jufriandi, Senin 23 Maret 2026.

Dari amatan Jufri, kemacetan terparah  itu di jembatan Tenge Besi dan Jamur Ujung. Dimana kemacetannya dari Tenge Besi sampai ke Digul. Sedangkan kemacetan di dari Jamur Ujung sampai ke Kupi Seladang.

Dikatakan, pemandangan tahun-tahun sebelumnya tidak dirasakan lagi. Dimana ramai kedai kupi H+1 sudah banyak yangg buka menyambut wisatawan dari luar. Tentu saja hal ini membuat perekonomian bergerak dengan sangat signifikan.

Menanggapi penomena ini, Ketua Umum (Ketum) Keluarga Negeri Antara (KNA), Sofyan Griantara mengatakan, ini salah satu dampak dari banyaknya destinasi wisata yang terdampak bencana. Mengingat mayoritas destinasi wisata di Tanoh Gayo adalah wisata alam.

Untuk itu, Sofyan member solusi kedepannya harus dimulai untuk dipadukan wisata alam yang di miliki Gayo dengan wisata atraksi. Hal ini bisa dilakukan dengan belajar dari Kabupaten Banyuwangi.

Kabupaten Banyuwangi walaupun alamnya indah namun untuk mendongkrak pariwisata mereka menggelar lebih dari 50 festival setiap tahunnya. Minimal 4 Festival setiap bulan atau 1 Festival setiap minggu.

Baca Juga  Bermain Sama Kelinci di Natural Park Takengon

Yang mereka Festivalkan hanyalah karya seni dan ritual budaya, seperti tradisi resam berume, pagelaran seni dan sendra tari dan lain-lain. Sedangkan untuk Tanoh Gayo juga banyak yang bisa digali untuk di Festivalkan, seperti lomba Munengel, lomba mungoro, lomba munyempak jele, jangin didong sire mulangku doran dan lainnya. Ini bisa diselenggarakan secara terschedul dan menjadi kalender tahunan.

“ini semua, disamping terus menyelenggakan secara konsisten atraksi yang telah terleselenggara menjadi legend selama ini seperti pacuan kuda, lomba perahu dan lainnya,” ujar Sofyan.

Dilakukan, penyelenggaraan festival ini lokasinya disebar ke setiap kecamatan dan kampung secara bergilir. Sehingga perekonomian rakyat setempat menjadi bergerak dan populeritas setiap kecamatan yang menjadi tuan rumah akan turut terdongkrak dengan sendirinya oleh para netizen yang mengupload di Media Sosial (Medsos).

Disamping itu, Sofyan menyarankan perlu dibuat Kegiatan turnament olahraga berskala regional, nasional bahkan internasional. Seperti tour the Gayo untuk Sepeda, jelajah negeri di atas awan untuk off road. Selain itu bisa juga lomba renang menyeberangi Danau Lut Tawar, Lomba Triatron dan lainnya.

“Ini semua bisa kita lalukan mengingat Tanoh Gayo memiliki keunggulan keindahan alam sebagai venue nya dan iklim udara yang sejuk,” pungkas Sofyan.[andinova | red 01]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *