Oleh: Sarah Almaira Faradisa
DALAM perbincangan tentang pemberdayaan kesetaraan perempuan, kita sering mendengar tentang hak bekerja, kesetaraan gaji, atau posisi di pemerintahan. Hal-hal tersebut memang penting.
Namun, ada satu hal yang jarang dibicarakan, yang mana hal ini justru menjadi fondasi dari semuanya, yaitu “Bagaimana cara perempuan memegang kendali atas hidupnya sendiri?”.
Mengapa banyak perempuan tetap tangguh meski menghadapi badai atau permasalahan yang berat, sementara yang lain merasa hancur oleh tekanan yang serupa? Jawabannya terletak pada pusat kendali diri, atau dalam psikologi dikenal dengan internal locus of control.
Pada 1950-an, psikolog asal Amerika yang bernama Julian Rotter memperkenalkan konsep internal locus of control yang menjelaskan individu memiliki cara pandang berbeda terhadap kendali dalam hidupnya. Konsep ini membantu meyakinkan bahwa kita adalah “pengemudi” bagi hidup kita sendiri.
Kebahagiaan, kesuksesan, kesedihan, dan kegagalan yang kita dapatkan adalah hasil dari keputusan dan usaha yang kita jalankan. Sebaliknya, konsep external locus of control menumbuhkan pemahaman bahwa hidup kita ditentukan oleh faktor eksternal seperti penilaian orang lain.
Bagi perempuan, perbedaan cara pandang ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap kesejahteraan psikologis. Data dari World Health Organization menunjukkan perempuan memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan dibanding laki-laki.
Perempuan sering memikul beban ganda, dituntut untuk profesional di ranah publik, tetapi juga memikul tanggung jawab penuh di dalam rumah. Tanpa keyakinan mereka mampu dan memiliki kendali untuk merespons semua tuntutan tersebut, stres dapat berkembang dengan mudah menjadi kecemasan yang berkepanjangan.
Situasi ini sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit perempuan yang ragu melanjutkan pendidikan atau mengambil peluang karir karena takut dianggap meninggalkan keluarga.
Masih banyak juga perempuan yang selalu membandingkan dirinya dengan orang lain di media sosial, sehingga selalu merasa tertinggal dan kehilangan kepercayaan diri. Situasi-situasi tersebut menunjukkan bahwa tekanan sosial sering kali membentuk cara perempuan memandang kendali atas hidupnya sendiri.
Sayangnya, lingkungan sosial kita masih membentuk perempuan untuk bersikap pasrah terhadap keadaan. Banyak anggapan bahwa nasib perempuan bergantung pada tradisi, kondisi keluarga, atau batasan sosial yang kaku.
Akibatnya, banyak perempuan yang tumbuh dengan keyakinan external locus of control, dimana rasa percaya diri dan kebahagiaan mereka sangat bergantung pada validasi dari lingkungan sosial.
Jika orang lain memuji, mereka merasa berguna. Namun sebaliknya, kritikan akan membuat mereka merasa gagal dan tidak berharga. Di sinilah penting untuk menggeser cara pandang dari external menjadi internal locus of control.
Mengembangkan internal locus of control dapat menjadi langkah penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis perempuan. Memiliki kendali diri bukan berarti kita dapat mengatur segalanya. Kita tidak bisa mengendalikan situasi eksternal seperti komentar orang lain.
Namun, inti dari kesejahteraan psikologis adalah mampu untuk membedakan apa hal yang bisa dikendalikan dan yang berada di luar kendali kita. Energi yang dihabiskan untuk memikirkan penilaian orang lain sebenarnya bisa kita gunakan untuk memahami diri sendiri dengan mengelola respons dan pilihan yang kita ambil.
Dari sini, kita mulai membangun kendali atas hidup sendiri. Kekuatan cara berpikir menjadi faktor penting untuk bertahan dan berkembang.
Selama ini, pembicaraan tentang pemberdayaan perempuan terlalu sering berhenti pada hal-hal yang terlihat di permukaan saja. Kita sibuk membahas akses, kesempatan, dan posisi, tetapi jarang membahas bagaimana cara perempuan memandang dirinya sendiri.
Padahal, tanpa rasa kendali dari dalam, semua pencapaian itu bisa saja terasa kosong dan melelahkan. Kita juga perlu jujur bahwa banyak perempuan yang tidak bisa bebas dalam mengambil keputusan, bukan karena tidak mampu, tetapi karena terbiasa mempertimbangkan penilaian orang lain. Ada semacam dorongan untuk terlihat baik di lingkungan sosial, yang akhirnya membuat mereka menjauh dari diri sendiri.
Mengembangkan internal locus of control bukan tentang menjadi sepenuhnya mandiri atau menutup diri dari orang lain, melainkan tentang sadar kapan harus mendengar saran dari orang lain dan kapan harus kembali pada diri sendiri.
Ini tentang menyadari bahwa kita sebagai perempuan punya hak untuk menentukan arah hidup tanpa harus selalu memikirkan omongan orang lain. Pada akhirnnya, menjadi perempuan yang benar-benar berdaya bukan hanya yang memiliki kesempatan, tetapi juga yang berani mengambil kendali atas pilihannya sendiri.[]
Penulis, Mahasiswi Program Studi Psikologi Universitas Syiah Kuala
















