NEKAD dan penuh perhitungan. Begitulah tekad Muharam yang menempuh perjalanan dari Banda Aceh ke Langsa untuk bisa bersua dengan keluarga, terutama anak dan istrinya.
Puncak hujan deras dan banjir raya yang melanda Aceh pada 25-26 Nopember 2025 mengakibatkan muharam, seorang warga Langsa yang bekerja di Banda Aceh, putus komunikasi dengan keluarga di Langsa.
Setelah total putus komunikasi selama 2 hari, sejak 26-27 Nopember 2025, Muharam nekad untuk pulang ke Langsa dengan segal konsekuensi yang harus di hadapinya di jalan. Rasa cemas dan kawatir akan keselamtan keluarga, semakin membesar, setelah ia melihat berbagai postingan di Media Sosial (Medsos) tentang kondiri banjir raya yang terjadi di wilayah timur Aceh tersebut.
Akhirnya pada Jumat 28 Nopember 2025, Muharam nekad untuk pulang ke Langsa. Dari Banda Aceh dengan menumpang angkutan umum L-300 memulai petualangannya. Rintangan pertama yang dihadapi ketika ia bersama penumpan lain harus melalui banjir dan longsor di kawasan Meuredu, Pidie Jaya.
Meski jembatan penghubung antara Banda Aceh-Medan di Meuredu terputus di terjang banjir bandang, Muharam bisa melaluinya setelah menempuh perjalanan dari jalan perkampungan hingga tembus ke Bireuen.
Di Bireuen, meskipun sudah sore hari, Muharam terasa lega karena merasa rintangan besar sudah bisa dilalui meski dengan susah payah dalam waktu yang panjang hingga 6 jam perjalanan. Meskipun jika waktu normal Banda Aceh-BIreuen bisa ditempuh hanya dalam waktu sekitar 4 jam saja.
Dari Bireuen berharap perjalan bisa mulus, namun semua itu hanya sebatas harapan saja. Di Kuta Blang, BIreuen, Muharam kembali harus menghadapi rintangan kedua setelah di Meureudu.
Jembatan Kuta Blang yang menjadi jembatan penghubung Jalan lintas Sumatera (Jalinsum) ternyata putus juga. Parahnya tidak ada jalan alternative yang bisa ditembus untuk bisa menyeberang, meskipun dengan menggunakan jalan perkampungan.
Bermalam di Kuta Blang
Kondisi ini membuat Muharam terpaksa bermalam di Kuta Blang, bersama dengan para penumpang lainnya. Sedangkan angkutan umum yang mereka gunakan lebih memilih balik kanan ke Banda Aceh.
Setelah bermalam di Kuta Blang dengan perbekalan seadanya. Pada Sabtu 29 Nopember 2025, Muharam melanjutkan perjalanan. Ia pun harus rela antri seharian untuk bisa menyeberang dengan menggunakan sampan warga.
“Warga setempat memasang tariff Rp20.000/orang, untuk bisa menyebrangi Sungai Kuta Blang yang airnya saat itu masih tergolong deras,” ujar Muharam saat bertemu dan bercerita di satu Warkop yang berada di perempatan Simpang Punge Blang Cut, Banda Aceh, Selasa 2 Desember 2025, malam.
Meskipun dengan wajah yang terlihat lelah namun terpancar rona kebahagian, karena telah bisa bertemu dengan keluarga di Langsa. Muharam melanjutkan ceritanya dengan nada serius dan penuh semangat.
“Sanking banyaknya orang yang ingin menyeberang, saya terpaksa antri dari pagi hari, hingga jam tiga sore baru bisa menyeberang,” lanjut Muharam.
Melihat situasi yang semakin tak menentu ini, ia merasa cemas dengan keluarganya, terutama istri dan dua anaknya yang masih kecil-kecil. Tak ada jalan lain, jalan kakipun dilakukannya.
Terkadang mendapat tumpangan dari kenderaan yang lewat, ada juga orang baik menawarkan tumpangan meski jaraknya hanya 100 meter. Namun itu semua tak menyurutkan langkahnya untuk bisa segera sampai ke Langsa.
Hingga akhirnya, ia mendapat tumpangan truk berbadan besar yang mengantarnya perjalanan hingga ke Idi, Aceh Timur. Di ibu kota Kabupaten Aceh Timur ini, ia terpaksa bermalam lagi, karena banjir di Jalinsum setinggi 1,5 meter lebih.
“Tinggi air sudah setinggi saya, truk pun gak bisa lewat,” kisah Muharam.
Bermalam di Kolong Truk
Akhirnya, memaksa Muharam terpaksa tidur bermalam di bawah kolong truk yang membawanya sampai ke Idi.
Pada Minggu 30 Nopember 2025, pagi bersama truk tersebut melanjutkan perjalan, karena airpun sudah mulai surut. Hanya saja belum bisa dilintasi kenderaan atau mobil pribadi berbadan kecil.
Untuk bisa keluar dari jembakan banjir di Idi, Muharam pun harus berjibaku bersama warga untuk mendorong mobil kecil yang mogok dalam jebakan banjir, karena nekad menerobos genangan air dan berlumpur.
Akibatnya, perjalanan Idi–Langsa yang biasa kalau kondisi normal hanya ditempuh 1 jam-an, ini harus ditempuh sehari semalam. Meski waktunya memaksanya untuk menginap di jalan sehari lagi, karean truk yang ditumpanginya tak melanjutkan perjalanan. Kesempatan itu tak dihiraukannya lagi.
Dengan nekad, Muharam menempuh perjalanan dengan jalan kaki sejauh 7 km agar bisa segera sampai di Langsa.
Tepat pada Senin, 1 Desember 2025, dini hari, Muharam sampai ke rumah. Tangispun pecah, dearai air mata istri mengucur deras di bahu Muharam yang memeluk istri dan anaknya dengan erat.
“Alhamdulillah, rumah saya gak kena banjir, karena kondis daerahnya agak tinggi,” ujar Muharam.
Namun, apa lacur, muharam yang bekerja di perusahaan ekspedisi pengiriman ternama di Indonesia, hanya memberikannya ijin tiga hari. Hingga merengut kebagiaannya yang baru bisa bertemu dengan keluarga.
Pada Selasa 2 Desember 2025, Muharam-pun dengan berat hati harus rela kembali meninggalkan anak-istri dan keluarga besar di Langsa karena harus kembali ke Banda Aceh.
Hanya saja, petualangannya tak sedahsyad saat ia kembali ke Langsa. dalam perjalanan pulang dari Langsa. ia menpuh jalur laut dengan menggunakan kapal cepat Ekspres Bahari dari Kuala Langsa ke Pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh dengan menempuh waktu selama 10 jam.
Menurut Muharam, kapal cepat yang biasanya menyebrangi rute Ulee Lheu – Balohan Sabang ini, dialihkan ke lintas Utara-Timur Aceh untuk membawa bantuan bagi korban bencana banjir raya di daerah tersebut.
Dari Banda Aceh hingga ke Langsa, membawa bantuan yang di drop di Pelabuhan Krueng Geukueh, Kota Lhokseumawe dan Pelabuhan Kuala Langsa di Kota Langsa. Pulangnya, karena kapal kosong, kapal cepat ini membawa penumpang dari Kuala Langsa dan Krueng Guekueh.[Iranda Novandi]

















