Mushaf Al-Quran yang Dirindukan

bersama dua anak pengungsian korban banjir di Aceh Tamiang.[FOTO: h7 - dok pribadi]

Catatan: Iranda Novandi

“SIAPA, yang bisa baca Alquran,”

“Saya Om, saya..,” jawab anak-anak Kampung Banjir yang saat ini mengungsi ke Desa Bundar, Kuala Simpang, Aceh Tamiang, dengan antusias sambil mengajungkan tangan meraka.

“Bapak ada bawa Alquran, tapi ngak banyak. Kalau ada yang mau bapak kasih. Nanti baca ngaji sama-sama ya,”

Saat mushaf Alquran itu kubagikan, mereka pun rebutan untuk bisa mendapatkannya. Saling tarik satu sama lain. Seakan-akan mereka yang paling berhak menerimanya. Akhirnya tak sampai hitungan menit Alquran yang kubawa tak dalam jumlah banyakpun hilang. Yang tersisa hanya plasik kresek putih, pelbalut Alquran saat dibawa dari Banda Aceh.

Rasanya menangis dalam hati melihat antusias anak-anak pengungsian yang harus akan bimbingan rohani dan mental dalam menghadapi cobaan ini. Padahal bukan makanan, snak, baju atau kebutuhan sandang atau pangan lainnya.

“Makasih ya Om, saya akan baca nanti Alquran ini,” ujar Rini dengan senyum sumringah yang terpancar dari raut wajahnya.

“Iya, om. Kami akan baca sama-sama,” ujar Rahmad menimpali.

“Iqra ada Om, kalau ada mau juga,” ujar anak lain yang terlihat masih sangat polos. Mungkin saat ini ia masih belajar mengaji. Makanya ia menanyakan Alquran Iqra. Sayangnya, kini mereka tak bisa lagi belajar mengaji, karena semuanya sudah lenyap disapu sang banjir.

“Maaf ya, bapak Cuma bawa dikit dan Cuma Alquran, gak ada Iqra, InsyaAllah ada dermawan lain nantinya akan bawa Alquran untuk kalian, hingga kebagian semua,” ujar ku lirih.

Rahmad pun bercerita, sebelum bencana yang melenyapkan kampong mereka. Anak-anak Kampung Banjir, kerap mengangi dib alai pengajian di desa. Hanya saja, sekarang balai pengajian itu sudah tak ada lagi.

Baca Juga  Mengenal Sastra Lisan Gayo lewat Bincang Kekeberen

Jangankan balai pengajian, kampong mereka pun sudah lenyap disapu banjir raya yang meluluh lantakan, Kabupaten Aceh Tamiang, tak terkecuali kampong mereka.

Pemulihan mental dan rohani ini, kiranya sangat perlu dilakukan bagi anak-anak korban pengungsian.  Traphy religius, sangat memungkinan percepatan mental anak-anak dalam bisa mengobati trauma hebat akibat bencana ini.

Kiranya ini bisa menjadi perhatian serius, para pihak yang ingin membantu meringankan rsa traumatic anak-anak korban benca banjir raya ini. Bantuan berupa sarana ibadah, menjadi bagian penting yang harus dipikirkan, seperti kain sarung, sajadah, mukena dan Alquran.

Sungguh memilukan, saat bencana seperti ini, sebagian besar korban sandang, pangan untuk hidup, namun  anak-anak pengungsian ini merindukan Mushaf Alquran. Agabr bisa baca Kalam Illahi, sebagai penenang jiwa.[] bersambung ..”Kisah wartawan Bertaruh Nyawa Arungi Banjir Demi Orang Tercinta”.

Ini tulisan 3 dari 4 tulisan laporan pandangan mata dalam perjalanan menyertai PWI Aceh dan PT WU menyalurkan bantuankorban bencana  ke Aceh Tamiang pada, Sabtu 27 Desember 2025.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *