FJPP, Gotong Royong Anak Bangsa Putus Mata Rantai Covid 19

Catatan: Eddyanto SST

PANDEMI covid 19 yang melanda tanah air dan belahan dunia sungguh berdampak pada berbagai sektor kehidupan masyarakat. Terutama kesehatan, ekonomi, pendidikan dan lainnya.

Eddyanto
Eddyanto

Virus atau musuh yang tak tampak dengan mata ini benar-benar telah membuat dunia kelimpungan. Dimana telah merenggut nyawa manusia diberbagai penjuru dunia.

Meski hingga kini belum ditemukan obat yang efektif untuk menghempang corona ini. Pemerintah tidak tinggal diam dan terus berjibaku dalam mencegah bahaya yang lebih besar lagi dari Covid-19 ini.

Salah satu ikhtiar yang saat ini tengah dilakukan bahkan sejak akhir tahun lalu adalah upaya mengedukasi masyarakat terkait perubahan perilaku serta kedisiplinan protokol kesehatan.

Ikhtiar dengan melibatkan ribuan juru warta tanah air dari berbagai platform media. Baik, cetak, online, televisi dan radio. Melalui media diharapkan selalu mengkampanyekan dan  mengingatkan masyarakat tanah air. Untuk berperilaku hidup sehat serta 3M. Rajin mencuci tangan dengan sabu di air mengalir, memakai masker saat beraktifitas dan menjaga jarak hindari kerumunan.

Apresiasi

Wakil Presiden Republik Indonesia KH Ma’ruf Amin sangat mengapresiasi inisiasi Satgas Nasional Penanganan Covid 19 dan Dewan Pers dalam Program Fellowship Jurnalisme Perubahan Perilaku (FJPP) guna memutus mata rantai Covid-19.

Program ini disebutkannya sebagai salah satu langkah meningkatkan gotong royong anak bangsa. Dalam menghadapi dan memutus mata rantai covid 19.

“Saya sangat mengapresiasi kerja kerja rekan jurnalis/wartawan dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mematuhi Protokol Kesehatan (Prokes), 3M dan juga pemahaman tentang vaksin. Ini semua untuk memutus mata rantai Covid-19,” kata Ma’ruf Amin saat Pembekalan FJPP secara daring, Senin 14 Desember 2020 lalu.

Wapres saat itu juga berharap sebagai garda terdepan, rekan-rekan jurnalis juga harus terus bersemangat. Untuk mengkampanyekan prilaku hidup sehat, budaya sehat dan lainnya kepada masyarakat.

“Saya juga berharap agar rekan-rekan jurnalis menjadi kanal informasi dan pers harapan. Dalam mengedukasi masyarakat. Salah satunya terkait informasi vaksin untuk negeri guna memutus mata rantai Covid-19,” ujar Wapres.

Isyarat

Sebelumnya Ketua Dewan Pers, Muhammad Nuh mengatakan program fellowship ini bekerjasama dengan BNPB, Satgas Nasional Penanganan Covid-19. Ini upaya membangun dan menumbuhkan partisipasi publik  dalam memutus mata rantai Covid-19 lewat pemberitaan dan liputan para jurnalis di tanah air. Mulai dari Sabang hingga Merauke yang berkisar 5.200 an wartawan.

“Pandemi Covid-19 ini adalah sebuah isyarat bahwa kita harus berubah, berubah dan berubah,” sebut M Nuh kala itu.

Lanjutnya lagi, bukan orang kuat yang mampu bertahan, atau orang pintar yang bisa bertahan. Tapi orang-orang yang mau berubahlah yang akan tetap bertahan meski didera pandemi Covid-19 ini.

“Perubahan, kedisiplinan, doa dan solidaritas, saling memberi, saling berbagilah yang menjadi kunci kita bersama sama memutus mata rantai Covid-19 ini,” tegas Nuh.

Sementara Kepala BNPB kala itu, Doni Monardo mengatakan Satgas BNPB sangat terbantu atas fellowship ini. Karena dapat menangkal berita berita hoaks terkait Covid-19.

“Terimakasih untuk rekan rekan jurnalis/wartawan yang juga menjadi relawan-relawan tangguh untuk bangsa dan negara Indonesia dalam memutus mata rantai Covid-19 ini,” ujarnya.

Garda Terdepan

Sebelumnya Ketua PWI Pusat, Atal S Depari mengatakan wartawan sebagai garda terdepan perubahan perilaku memutus maya rantai Covid-19.

“Mereka (wartawan-red) mengawal ruang-ruang publik. Mengkampanyekan tentang pentingnya Prokes, sosialisasi 3M. Baik di kota maupun desa,” sebutnya.

Kedisiplinan Prokes belum dilakukan secara penuh oleh masyarakat atau publik. Karena itu, wartawan menjadi garda terdepan dalam mengedukasi masyarakat. Semoga.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *