Catatan: Iranda Novandi
DI seri terakhir dalam jelajah dari masjid ke masjid selama Ramadhan 1446 H ini, kita singgah dan melihat kemegahan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.
Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, merupakan masjid yang memiliki lembaran sejarah tersendiri. Masjid ini persis terlekak di jantung ibukota Provinsi Aceh. Masjid Raya Baiturrahman awalnya dibangun masa Kesultan Iskandar Muda (1022 H/1612 M). Ini merupakan masjid pertama yang dibangun Pemerintahan Sultan Iskandar Muda.
Dalam perjalanan sejarah, masjid ini sempat pernah terbakar habis pada agresi tentara Belanda kedua pada bulan shafar 1290/April 1873 M. Dibakarnya masjid yang menjadi roh penyebaran Islam di Aceh saat itu. Dimana emosi masyarakat Aceh terbakar sehingga terjadi perang hebat yang mengakibatkan Mayjen Khohler pimpinan Belanda saat itu tewas di ujung senjata rakyat Aceh.
Peristiwa matinya jenderal Belanda ini diabadikan dengan satu prasati persis di tempat tertembaknya. Monumen lokasi tertembaknya Jenderal Kohler ini berada diselah utara pintu masuk Masjid Raya Baiturrahman dibawah pohon Ketapang atau Geulumpang. Sayang, bukti sejarah ini saat ini sudah tak ada lagi, sejak masjid tersebut direvosi secara besar-besaran 2016-2017 lalu.
Empat tahun setelah Masjid Raya Baiturrahman itu terbakar, pada pertengahan shafar 1294 H/Maret 1877 M, dengan mengulangi janji Jenderal Van Sweiten, maka Gubernur Jenderal Van Lansberge menyatakan akan membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman yang telah terbakar itu.
Pernyataan ini diumumkan setelah diadakan permusyawaratan dengan kepala-kepala Negeri sekitar Banda Aceh. Dimana disimpulkan bahwa pengaruh masjid sangat besar kesannya bagi rakyat Aceh yang hampir 100 persen beragama Islam.
Janji tersebut dilaksanakan Jenderal Mayor Vander selaku Gubernur Militer Aceh pada waktu itu. Tepat pada Kamis 13 Syawal 1296 H/9 Oktober 1879 M, diletakan batu pertamanya yang diwakili Tengku Qadhi Malikul Adil. Masjid Raya Baiturrahman ini siap dibangun kembali pada tahun 1299 Hijriyah bersamaan dengan kubahnya hanya sebuah saja.
Pada 1935 M, Masjid Raya Baiturrahman ini diperluas bahagian kanan dan kirinya dengan tambahan dua kubah. Pada 1975 M terjadinya perluasan kembali. Perluasan ini bertambah dua kubah lagi dan dua buah menara sebelah utara dan selatan. Dengan perluasan kedua ini Masjid Raya Baiturrahman mempunyai lima kubah dan selesai dikerjakan dalam tahun 1967 M.
Dalam rangka menyambut Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional ke-XII pada 7-14 Juni 1981 di Banda Aceh, Masjid Raya diperindah dengan pelataran, pemasangan klinkers di atas jalan-jalan dalam pekarangan masjid raya.
Perbaikan dan penambahan tempat wudhuk dari porselin dan pemasangan pintu krawang, lampu chandelier, tulisan kaligrafi ayat-ayt Al-Qur’an dari bahan kuningan, bagian kubah serta intalasi air mancur di dalam kolam halaman depan.
Pada 1991 M, dimasa Gubernur Ibrahim Hasan terjadi perluasan kembali yang meliputi halaman depan dan belakang serta masjidnya itu sendiri. Bagian masjid yang diperluas, meliputi penambahan dua kubah, bagian lantai masjid tempat shalat, ruang perpustakaan, ruang tamu, ruang perkantoran, aula dan ruang tempat wudhuk, dan 6 lokal sekolah. Sedangkan. perluasan halaman meliputi, taman dan tempat parkir serta satu buah menara utama dan dua buah minaret.
Pada rentang 1991-1993, Masjid Raya Baiturrahman melaksanakan perluasan kembali pada masa Gubernur Ibrahim Hasan. Perluasan tersebut meliputi halaman depan dan belakang serta bangunan masjidnya itu sendiri.
Bagian masjid yang diperluas meliputi bagian lantai masjid tempat shalat, ruang perpustakaan, ruang tamu, ruang perkantoran, aula dan ruang tempat wudhu, serta enam lokal sekolah. Sedangkan, perluasan halaman meliputi taman dan tempat parkir serta satu buah menara utama dan dua buah minaret.
Sehingga, luas ruangan dalam Masjid Raya Baiturrahman menjadi 4.760 meter persegi berlantai marmer buatan Italia, dengan ukuran 60 x 120 cm, dan dapat menampung 9.000 jamaah. Dengan perluasan tersebut, Masjid Raya Baiturrahman sekarang memiliki tujuh kubah, empat menara, dan satu menara induk.
Dilihat dari sejarah, Masjid Raya Baiturrahman ini mempunyai nilai yang tinggi bagi rakyat Aceh, karena sejak Sultan Iskandar Muda sampai sekarang masih berdiri megah di tengah jantung kota Banda Aceh.
Masjid Raya ini mempunyai berbagai fungsi selain shalat, yaitu tempat mengadakan pengajian, perhelatan acara keagamaan seperti maulid Nabi Besar Muhammad SAW, peringatan 1 Muharram, masjid ini juga kerab menjadi lokasi Musabaqah Tilawatil Qur’an yang diselenggarakan berbagai pihak.
Pada saat gempa dan tsunami, 26 Desember 2004 yang menghancurkan sebagian Aceh, masjid ini selamat tanpa kerusakan yang berarti dan banyak warga kota yang selamat di sini.
Peristiwa gempa dan tsunami Aceh ini, selain Masjid Baiturrahman, Masjid Baiturrahim, Ulee Lhueu juga menjadi saksi bisu dari gempat dan tsunami ini. Banyak cerita yang terjadi saat gempa dan tsunami melanda Aceh. Semua cerita tersebut menggambarkan betapa besarnya kekuasaan Allah SWT.
Pascatsunami, setelah dibersihkan, tepat pada 7 Januari 2005 masjid ini kembali difungsikan dengan menggelar shalat Jum’at untuk pertama kalinya. Kerusakan-kerusakan Masjid Baiturrahman diperbaiki. Sebagian dilakukan lewat sumbangan masyarakat tak lama setelah bencana.
Perbaikan besar-besaran dilakukan lewat sumbangan lembaga donor, di antaranya Saudi Charity Campaign yang juga membuat fasilitas umum seperti tempat wudhu di sisi utara, penataan lansekap di sekitar bangunan, kolam, dan kolam itu juga sebagai monumen.
Semua perbaikan dan renovasi itu menghabiskan dana Rp 20 milyar dan selasai pada 15 Januari 2008.
Kini, Masjid Raya Baiturrahman semakin indah, dengan dilakukan renovasi besar-besaran pada 2017 lalu. Dimana, halaman masjid kini semuanya dilapisi granit dan terdapat payung laksana di Masjidil Haram, Arab Saudi.
Keindahan, keagungan dan kemegahan masjid raya berhasil menarik perhatian dunia. Huffington Post, media online yang berkantor di Amerika Serikat, memasukkannya dalam daftar 100 masjid mengagumkan di dunia. Sementara raksasa internet Yahoo menempatkannya di urutan 10 besar terindah dunia.
Nah.. bagi pembaca semua yang berlibur Idulfitri 1446 H tahun ini. Maka tak salah, jika anda menunaikan shalat idulfitri di masjid ini.[tulisan ini penggalan dari isi buku: 7 Alasan Mengapa Harus ke Banda Aceh]