Kisah Heroik Seorang wartawan di Aceh Tamiang; Bertaruh Nyawa Arungi Banjir untuk Orang Tercinta

Abdul Karim (inzet) saat bertatung mencari makanan saat banjr merendam rumah mereka.[FOTO: h7 - dok ist]

Catatan: Iranda Novandi

KAMIS 27 Nopember 2025, kondisi Aceh Tamiang semakin runyam. Selepas magrib pada hari itu, Kampung Bukit Tempuruk, Kecamatan Kota Kuala Simpang, semakin menyaramkan.

Banjir yang terjadi sejak 25 Nipember 2025 dan merendam Kota Kuala Simpang dan hampir seluruh kawasan di Aceh Timur. Malam Jumat, kodisi semakin horor dan menakutkan, banjir kini sudah merendam hingga ke lantai dua rumah warga, artinya air banjir sudah setinggi lebih dari 6 meter.

​Abdul Karim (50 tahun) yang sehari-hari menetap di Kampung Alur Bemban, Kecamatan Karang Baru, mulai cemas. Ancaman nyawa akan merengut ia bersama orang-orang tercinta, istri dan anak-anaknya.

Karim mengisahkan, saat detik-detik bencana, ia bersama istri beserta empat anaknya, Muhammad Arfi, Afdilla Zikri, Cinta Salsabila, dan Luthfi Sakhi Zaidan, serta adik iparnya, Fery Agustian masih di rumah yang didiaminya Kampung Alur Bemban, saat itu air sudah merendam pemukinan hingga selutut orang dewasa.

Hanya saja, saat itu pikirannya teringat ke rumah almarhum mertuanya yang berada di  Kampung Bukit Tempuruk, Kecamatan Kota Kuala Simpang. Tanpa pikir panjang, ia memboyong keluarganya untuk mengungsi ke rumah mertua, dengan harapan kondisinya lebih baik dibandingkan Alur Bemban.

Lagi pula, kalaupun banjir, rumah mertuanya terdiri dari dua lantai dengan bayangan bisa menyemalamatkan diri hingga kelantai 2 nantinya, jika air banjir semakin parah.

Satu hari di rumah mertua, Karim kembali mengungsikan istri dan anak-anaknya ke lantai 2, karena air semakin parah. Hingga akhirnya lepas magrib pada Kamis 27 Nopember 2025, air sudah nyaris menelan semua kawasan rumah.

“Selepas magrib itu, air sudah setinggi bubung (atap) rumah di lantai 2,” kisah Karim saat bercerita di komplek DPRK Aceh Tamiang kepada kawan-kawan wartawan lainnya dari PWI Aceh dan PWI Kota Langsa, Sabtu 27 Desember 2025, malam yang saat itu sedang mengantarkan bantuan berupa paket kuah Beulangong ke para pengungsi yang berada di Komplek DPRK Aceh Tamiang tersebut.

Baca Juga  Museum Kebangkitan Nasional Gelar Diskusi Daring

Kondisi air yang memuncak hingga keatap rumah, membuat Karim semakin panic dan berpikir keras bagaimana bisa menyelamatkan istri dan anak-anaknya. Kondisi semakin mencekam ia bersama keluarnya menyaksikan bagaimana rumah-rumah warga yang terbawa hanyut dan sebagian warga yang terseret arus beriak minta tolong. Namun apa hendak dikata, dengan segala keterbatasannya, ia hanya bisa menyaksikan warga hanyut terseret arus sedangkan ia tak mampu berbuat apa-apa.

Kondisi sekiyr kejadian banjir, tempat Abdul Karim dan keluarga.[FOTO: h7 – dok ist]
Mukjizat dari Allah

Di tengah kondisi yang semakin mencekam dan rasa putus asa. Karim menemukan tali nilon sepanjang 10 meter. Bagai mendapat mukjizat dari Allah SWT. Tali nilon tersebut dijadikan alat evakuasi sederhana.

Dengan modal nekad dan tak mau berpikir panjang lagi, pada salah satu ujung tali nilon tersebut diikatnya ke badan anak dan ujung lainnya, di ikatnya ke badannya, lalu ia pun terjun ke derasnya banjir bandang itu untuk berenang ke rumah tetangga yang kondisinya jauh lebih tinggi dari rumah merrtuanya.

Saat ia sampai di rumah tetangganya tersebut, ia meminta anaknya untuk terjun ke luapan banjir dengan secepatnya dan sekuat tenaga, ia menarik anaknya yang terikat tali nilon untuk bisa menyeberangi arus banjir bandang yang begitu deras itu.

Setelah satu anaknya selamat, ia kembali ke rumah mertuanya untuk menjemput anak-anaknya yang lain. Seperti yang dia lakukan pertama, itu juga yang dilakukan selanjutnya. Hingga semua anak dan istri serta adik iparnya berhasil diselamatkan dari atas atap rumah mertuanya.

“Alhamdulillah semua keluarga selamta dan bisa dievakusi, ke rumah tetangga yang lebih tinggi, meski anak-anaknya harus menangis kesakitan karena badan penuh luka akibat terbentur seng dan kayu-kayu yang hanyut saat menyeberang,” ujar Karim yang sehari-hari berprofesi sebagai wartawan di tabloidbnn.info.

Baca Juga  Banjir Masih ‘Hantui’ Kabupaten Aceh Timur

Akhirnya malam itu, mereka bisa berkumpul bersama dengan keluarga utuh. Malam itu dilewati tanpa tidur dalam kegelapan, karena listrik padam. Komunikasipun terputus, selain tak ada sinyal, handphone pun sudah basah dan padam karena seharian ikut berenang dalam banjir.

Sabtu 28 Nopember 2025, mentari pagi kembali menyingsih. Menunjukan dunia belum kiamat dan kehidupan kembali harus dijalani dengan segala konsekuensi hidup yang arus diarungi.

“Ayah, Mamak, kami lapar dan kami haus,” keluah anak-anak Karim pada pagi sabtu itu.

​Tanpa berpikir panjang, Abdul Karim kembali nekat berenang dan berjalan di atas atap-atap rumah warga untuk mencari makanan dan minuman. Setelah berjuang sejauh kurang lebih 80 meter, ia menemukan satu rumah berlantai dua yang lebih tinggi.

​Disana, ia bertemu dan mendapat pertolongan dari keluarga bernama Kak Yuslina dan Yus Witriati yang juga menampung beberapa keluarga yang mengungsi. Mereka memberikan bantuan makanan dan air bersih.

Dengan bungkusan nasi dan air yang didapat, Karim kembali berenang dan memanjat atap untuk membawa bekal tersebut kepada keluarganya. ​Bantuan makanan dari Kak Yus dan Wiwid ini terus didapatkan selama empat hari bertahan di pengungsian sementara.

Saat berenang membawa bungkusan nasi dan satu buah galon berisikan air bersih yang hanyut akibat talinya putus dari ikatan di badannya. Ia pun sempat terseret dan kehabisan tenaga serta pasrah sampai akhirnya mampu mengapai dan menggenggam kanopi salah satu rumah warga.

Disaat kritis itu, Karim bergumam dalam hatinya “ya Allah, selamatkanlah aku dan keluargaku“.

“Berkat pertolongan Allah SWT, saya berhasil memanjat atap rumah warga setelah melewati arus kencang meskipun tanpa membawa pulang galon berisikan air bersih yang telah hanyut,” kisahnya pada kawan-kawan wartawan lainya.

Baca Juga  Danramil Ikut Evakuasi Korban Banjir

Ketika air mulai surut dengan kedalaman sekitar 2,5 meter, Abdul Karim berusaha keluar mencari bahan pokok yakni beras. Meskipun tanpa membawa uang, ia berhasil mendapatkan 15 kg beras (cash bon) dari warung milik Nova adik dari Kak Yus dan Wiwit untuk dimasak dengan cara dimasukkan ke dalam tupperware berukuran besar.

Senin 18 Desember 2025, air sudah benar-benar surut. Abdul Karim dan keluarga kembali ke rumahnya untuk membersihkan lumpur setebal 30 cm. sedangkan kondisi rumah mengalami kerusakan yang sangat parah.

Bantuan mulai diterima berupa bahan makanan beras, roti, minyak goreng, air bersih, dan kebutuhan lainnya berdatangan baik dari pemerintah maupun dari para dermawan yang berasal dari luar Provinsi Aceh.

​Termasuk bantuan dari para sahabat se profesi yang bernaung dibawah panji Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) se Aceh.[] bersambung tulisan penutup: “Wawancara Eksklusif dengan Raja Muda Sedia, sultan Kerajaan Benua Tunu (Aceh Tamiang)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *