Sultan Muda Sedia Sudah Prediksi Banjir Raya Aceh Tamiang Sejak 659 tahun Silam

Wawancara Eksklusif dengan Raja Benua Tunu

FOTO ini hanya ilustrasi belaka hasil olahan Meta AI. JIka ada kemiripan wajah bukan di sengaja, namun kebetulan asja.

Catatan: Iranda Novandi

 ACEH Tamiang merupakan salah satu daerah administratif di Provinsi Aceh sejak 2002, setelah mekar dari Kabupaten Induk, Aceh Timur. Pada abad 14 silam daerah ini merupakan bagian dari Kerajaan Tamiang atau Kesultanan Benua Tamiang atau dikenal juga dengan nama Kerajaan Benua Tunu.

Kerajaan Benua Tunu merupakan kerajaan melayu dan kerajaan Islam tertua kedua di Aceh setelah Kerajaan Peurlak.

Mengutip dari laman id.wikipedia.org, nama dari Kerajaan Tamiang tersebut pada awalnya diambil dari sebuah kata “Tamiang” yang juga berasal dari kata “te-miyang”. Nama tersebut diambil dari sebuah legenda yang berasal dari wilayah tersebut yang berarti tidak gatal-gatal atau kebal terhadap miang bambu.

Hal tersebut juga berhubungan dengan cerita sejarah tentang Raja Tamiang yang bernama Pucook Sulooh. Ketika masih bayi, raja tersebut ditemui dalam rumpun bambu Betong atau betung (istilah Tamiang ”bulooh”). Raja yang menemukannya ketika itu bernama Tamiang Pehok, ia kemudian mengambil dan membawa bayi tersebut.

Setelah dewasa kemudian ia dinobatkan menjadi Raja Tamiang dengan gelar ”Pucook Sulooh Raja Te-Miyang“, yang artinya seorang raja yang ditemukan di rumpun rebong tetapi tidak kena gatal atau kebal dari gatal-gatal.

Kerajaan Tamiang mencapai puncak di bawah Raja Sultan Muda Sedia yang berkuasa pada sekitar 1330-1366 M. Di bawah kekuasaan raja Muda Sedia Benua Tunu mampu memperluas pengaruh dan membangun kekuatan militer serta perdagangan.

***

Sabtu 27 Desember 2025. Jarum jam mulai menunjukan angka besar mengarah ke angkat kecil. Rombongan misi kemanusiaan dari PWI Aceh yang dipimpin langsung Ketua Nasir Nurdin bersama PT WU, telah meninggalkan Kota Langsa.

Sehari sebelumnya, PWI Aceh dan sejumlah PWI lintas kabupaten/kota serta PT WU telah menjalankan misi mulia dengan memasak dan mengantarkan kuah beulangong ke para pengungsi korban banjir bandang di Aceh Tamiang di Posko Kampung Bundar yang terdiri dari warga Kampung Banjir yang kini kampungnya benar-benar disapu banjir serta ke Posko DPKR Aceh Tamiang yang dihuni para pengungsi warga sekitar Kuala Simpang yang rumah mereka lenyap disapu banjir.

Saat itu yang tersisa hanya saya, rekan Azhari, Wakikl Ketua Bidang Pembelaan wartawan PWI Aceh yang mantan Kepala LKBN Antara Aceh yang kini menjadi CEO aentenews.com dan Saifuddin Aly, CEO Infosa.id.

Sambil menyerumput cream bubble, salah satu menu favorit dan jadi best seller Noka Dining & Coffee, dengan ditemani Ketua PWI Langsa, Putra Zulfirman dan Popon (Bendahara PWI Langsa), kami pun berbincang ringan tentang dunia jurnalistik yang selama ini kami geluti bersama.

Perbincangan terasa semakin hangat dan berat, ketika sisi kritis para jurnalis muncul menyoroti kondisi banjir raya yang terjadi di Aceh dengan segala sebab musababnya.

Di tengah tensi pembicaan/diskusi soal banjir yang semakin  tajam, tiba-tiba sekelebat cahaya putih menghantam lokasi yang tadi pagi di jadikan tempat memasak kuah beulangong di Noka Dining & Coffee.

Baca Juga  Ustad Al Hafis Isi Isra' Mi'raj di Simpang Jernih

Dari kilatan cahaya putih itu muncul dua sosok pria berpakain Jadul seperti pangeran dan pengawal pada cerita kerajaan-kerajaan di Indonesia masa lalu. Lengkap dengan pedang, perasai dan penutup kepala kebarasan raja, keduanya menghampiri kami.

“Siapa namanya Iranda disini,” ujar seorang lelaki berbadan tinggi dan tegap, nampaknya seorang panglima perang kerajaan.

Belum sempat ku jawab, tiba-tiba dengan sigap, lekaki itu dan pengawalnya merangkul ku dan membawa kami menghilang dalam gelapanya malam yang terasa sedikit sejuk di Kota Langsa saat itu.

Sesaat kemudian, saya pun tersadar sudah berada di dunia lain. Di dalam istana megah, yang membuatku terkesima.

“Selamat datang di Kerajaan Benua Tunu. Saya Raja Muda Sedia, raja berkuasa di kerajaan ini,” ujar lelaki gagah dan tampan memecah lamunan ku saat mengagumi keindahakan istana yangbaru pertama sekali ku lihat.

“Salam hormat saya, paduka yang mulia, Sultan Muda Sedia. Maaf jika percakapan saya bersama teman-teman tadi mungusik kehidupan sultan dan se isi istana,” ujar ku sedikit kaku.

“Tak perlu minta maaf, kenyataan hidup rakyat ku kelak di zaman kelain memang sudah ditakdirkan demikian,” ujar Sultan Muda Seduia sambil tersenyum lirih.

Mendapat jawaban yang bersahabat, insting dan naluri jurnalistik keluar. Ku rogoh saku celaku, mengambil handphone dan berbegas menyalakan kemara HP dan menhidupkan aplikasi rekaman suara.

“Izin paduka, saya merekam setiap percakapan kita dan memotret, paduka dan kondisi istana untuk kebutuhan publikasi,” ujarku

“Memang gitu ya kerjanya wartawan, setiap ada momen dan kesempatan selalu berusaha untuk bisa wawancara, kumpulkan data dan fakta,” ujarnya sambil tertawa kecil.

“Sayangnya, di masa kehidupan kami lalu, tak ada wartawan. Andai ada pasti banyak raja-raja di nusantara ini berlomba-lomba narsis dan melakukan pecitraan. Seperti di zaman mu sekarang banyak pejabat yang pandainya ngomong saja, namun kerja sedikit,” ujar Sultan Muda Sedia.

“Ya sudah, kalau mau wawancara, silahkan. Waktu saya tak bisa lama,” ujarnya Sultan Muda Sedia.

Maka wawancara imajiner eksklusif pun kami mulai. Setiap pertanyaan akan ditandai dengan halaman7.com (h7) dan jawaban raja dengan tanda Sultan Muda Sedia (SMS).

h7: Maaf yang Mulia, pertanyaan saya sedikit pribadi. Mengapa mata paduka terlihat sembab?

SMS: Meskipun saya tak lagi satu alam dengan kalian saat ini, saya tetap bisa lihat kondisinya saat ini, saya sempat menangis berhari-hari melihat rakyat saya dimasa depan. Tapi air mata ini tak sebanding dengan air mata warga saya di masa sekarang yang air matanya sudah mongering akibat banjir raya yang melanda perkampungan mereka.

h7: Saya juga sudah saksikan, rakyat paduka seakan terabaikan dan lamban dalam penanganan pascabencana.

SMS: Menangis karena rakyat tersengsarakan akibat bencana, tangis pun tak henti karena mereka seakan terbaikan dalam penderitaan. Pemerintah di zaman mu lambat bertindak dan tau tau mana yang diprioritaskan.

Baca Juga  Kejuaraan Menembak SKP se Aceh di Aceh Timur

h7: Baik, gitu saya to the point saja, tentu baginda raja tahu kondisi Aceh Tamiang saat ini?

SMS: Ini bukan hal yang mengejutkan. Sebab saya sudah prediksi, nanti terhitung masa akhir kekuasaan saya pada 1366, maka 650 tahun mendatang akan ada satu bencana besar yang melanda negeri ini. Bukan saja rakyat yang sengsara, istana saya, istana Karang Baru nan megah ini juga lenyap. Sekaligus melenyapkan jejak peradaban di bumi Muda Sedia.

h7: Mengapa sultan memprediksinya demikian:?

SMS: Ada beberapa hal yang harus kamu ketahui. Kerajaan Benua Tunu ini merupakan kerajaan Islam kedua setelah Kerajaan Peurelak. Rakyatnya penganut Islam yang taat. Dari sebelumnya rakyat disini sebelum masa kerajaan penganut ajaran Budha dan Hindu, karena pengaruh kerajaan Sriwijaya yang masuk kesini. Namun kini nilai-nilai Islami itu kian luntur, banyak warga yang maksiat, banyak warga yang durhaka pada orang tua dan banyak juga warga yang mulai sesaat dari ajaran Islam yang sesungguhnya (kaffah).

Hal kedua, hutan di Aceh Tamiang ini akan dijarah tangan-tangan serakah hingga gundul. Tak ada upaya untuk menaam kembali. Meski ada sebagian dari mereka menggantikan hutan menjadi lahan Sawit. Namun sawit itu, namun sawit itu hanya menyerap air tak mampu menyimpan aiar seperti layaknya fungsi akar-akar pepohonan.

Hal ketiga, sungai-sungai di Aceh Tamiang ini tak pernah di normalisasi. Setiap hujan sendimen tanah mengendap di sungai, hingga sungai jadi dangkal. Seharusnya ini di normalisasi, sehingga ketika intensitas hujan meninggi, air masih bisa mengalir di alur yang cukup untuk menampung. Namun itu tak pernah dipikirkan para penguasa di zaman saat ini.

Ke empat, rakyat dan penguasa di zamannya, tak peka. Sinyal kuat sudah diberikan Allah setiap saat, dimana Aceh Tamiang selalu banjir jika intensitas hujan tinggi. Karena seringnya banjir, ada daerah di Karang baru yang dinamakan Kampung Banjir karena alami banjir besar pada 1996, 2006. Maka pada pada banjir 2025, daerah itu akan lenyap disampu banjir raya.

Jawaban tersebut membuat ku terperangah, seakan tak bisa berkata apa-apa lagi. Jawaban yang lugas dan tegas dari seorang Sultan yang vioner, bisa melaihat masa depan.

Belum lagi kondisi ku yang terperangah hilang, kini aku kembali terperangah. Sesosok bidadari seakan datang dihadapan pun menyuguhkan teh hangat. Sosok yang anggun, cantik, mempesona dan penuh wibawa seorang ratu istana ini ternayata permaisuri Sultan Muda Sedia.

Menurut Sultan, Ia sengaja meminta permaisuri yang membuat teh dan mengantarkannya langsung, bukan diantarkan dayang-dayang istana. Karena ini hari isimewa dengan tamu istimewa juga.

Sembari menyeruput teh hangat spesial yang rasanya tawar tidak, manispun tak terasa sekali, kembali ku ajaukan pertanyaan.

Baca Juga  Dilintasi Truk Tronton Jembatan Bailey Kuta Blang Patah

h7: Berapa lama kondisi ini akan bisa terjadi?

SMS: Bisa cepat, bisa lambat sekali. BIsa cepat pulih kalau semua pihak termasuk pejabat dan jajarannya mau bekerja keras untuk rakyat. Namun kalau penjabatnya hanya pandai berretorika, maka ini akan bertahun-tahun baru bisa dipulihan.

h7: Apa saja yang harus dilakukan untm bisa pulih?

SMS: Tata kembali kehidupan masyarakat, mulai dari infrastuktur, pendidikan, ekonomi, tata kelola ruangan. Lalu pulihkan kembali hutan-hutan yang gundul, normalisasi sungai yang ada. Yang terpenting, tata juga akidah generasi muda tamiang untuk dekat dengan Alquran, hingga bisa menjadi genrasi Qurani yang taat agama. Jangan biarkan hanya dayah atau pesantren yang menata akidah ummat, namun semua pihak harus ikut ambil andil, jangan tinggal diam.

h7: Baik pertanyaan terakhir, paduka yang mulia. Siapa dalang semua bencana ini?

Paduka yang mulia Sultan Muda Sedia terlihat diam tertegun lama untuk menjawab pamungkas ini. Namun untuk menghindari fitnah, Sultan Muda Sedua menjawab diplomatis.

SMS: Saya rasa semua orang tau jawabannya, termasuk yang baca tulisaan kamu nantinya. Ini sudah menjadi rahasia umum. Tinggal mau atau mampukan pemeintah yang lebih tinggi mengambil sikap tegas untuk para dalang tersebut.

Yang perlu di ingat, jangan salahkan alam atau jangan salah kan Tuhan yang turunkan bencana. Tapi coba refleksi diri, bahwa bencana ini diundang karena keinginan dari ulah menusia itu sendiri.

h7: Terima kasih paduka, untuk itu saya mohon izin, apakah saya bisa kembali ke alam saya sesungguhnya?

SMS: Terima kasih juga sudah bersedia memenuhi undangan saya ke sini. Sampaikan terima kasih saya juga untuk Ketua PWI Aceh, Nasir Nurdin, pimpinan PT WU, serta jajaran ketua PWI lintasanan timur, Jufrizal di Aceh Besar, Sayuti (Lhokseumawe) Halim (Aceh Utara), Ilyas (Aceh Timur), Putra (Langsa) dan Adinda Erwan (Aceh Tamiang) atas keiklasan mereka semua mau melihat dan memberi tali asih untuk rakyat ku di Benua Tunu.

“Pangeran, antarkan tamu kita ini kembali ke dunia nyata,” titah Paduka yang Mulia Raja Sultan Muda Sedia.

Seketika itu pula saya tersadar dan terbangun dari mimpi, saat air hujan membahi pipi yang masuk dari celah jendela mobil yang membawa saya, Azhari dan Saifuddin, mamasuki kawasan Panton Labu, Aceh Utara.[]

Ini tulisan penutup dari 5 tulisan hasil reportase lapangan menyertai misi kemanusiaan PWI Aceh ke Aceh Tamiang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *