Mengutuk Tarian Pang Tibang Dengan Kemarau Kemarahan

INI adalah sebuah buku dengan tebal 449 halaman karya Yusra Habib Abdul Gani. Mengisahkan sejarah ringkas tentang konflik vertikal yang terjadi antara Acheh Darussalam versus kolonial Portugis, Belanda, Jepang dan Indonesia.

Disusul kemudian dengan paparan mengenai asbabun nuzul dan epilog dari konflik horizontal antara sesama bangsa Acheh dalam, mulai dari Peristiwa/Perang Cumbok (akhir 1945 – awal 1946).

Konflik internal antara sesama pejuang Acheh Merdeka di dalam di luar negeri yang berakhir

dengan pembunuhan. Munculnya milisi dan penumpang gelap dalam perjuangan Acheh Merdeka; tidak terkecuali uraian tentang peran komponen Masyarakat Sipil dalam upaya menamatkan konflik antara Acheh Darussalam versus pemerintah Indonesia.

Dalam buku ini terjawab: apa saja sebetulnya faktor-faktor penyebab yang menjadi punca kelemahan, bahkan runtuhnya perjuangan Acheh Merdeka dan rapuhnya perjuangan Masyarakat Sipil. Acheh ternyata: selain bangsa pejuang yang dikagumi, juga bangsa pengkhianat, koéh akai dan bukan bangsa perunding! Inilah antara kesimpulan yang paling menarik untuk difahami dan dianalisis dalam buku ini.

Bukan saja itu, kadar emosional dan tensi semangat heroik para petinggi Gerakan Acheh Mereka (GAM) turut mengalami kemerosotan berfikir yang tajam, tidak memiliki kecakapan mengambil keputusan terbaik baik politik masadepan Acheh Darussalam menuju sebuah bangsa dan negara Merdeka dan berdaulat.

Ini terbukti semasa berunding dengan juru runding Indonesia di Geneva (2000-2002) dan Helsinki (2005). Misalnya saja, dengan diterimanya MoU Helsinki – klausul amnesty khususnya – secara hukum, politik dan moral berarti: semua pejuang GAM mengaku telah melakukan kesalahan dan dosa besar terhadap pemerintah Indonesia sebelum ini dan perlu diberi ampunan. Perkara ini sudah lebih awal dibaca dan dijengkal kadar keilmuan dan kemampuan berhujah.

Baca Juga  Resensi Buku: Hasan Gayo Ikut Grup Radikal

Hingga akhirnya juru runding GAM rebah terkapar di jalan yang datar, ideologi perjuangan terlantar dan seiring dengannya para pejuang kehilangan pemimpin. Klimaksnya, Tengku Hasan di Tiro – pemimpin tertinggi Acheh Merdeka kala itu ( Juni 2010) berada dalam situasi koma di Rumah Sakit Zainal Abidin – sementara itu situasi politik masa depan Acheh Darussalam tidak menentu.

Akhirnya Malik Mahmud dan Zaini Abdullah memanfaatkan situasi kritikal itu, supaya sebelum Tengku Hasan di Tiro meninggal, status kewarganegaraan beliau sudah ditukar dari WNA ke WNI. Persis 26 jam sebelum Tengku Hasan di Tiro meninggal dunia pada 3 Juni 2010, sertifikat kewarganegaraan dikeluarkan yang diserahkan oleh Panglima TNI kepada pihak famili di Tiro di Rumah Sakit Zainal Abidin.

Harga naturalisasi Tengku Hasan Tiro hanya RP15 juta yang diterima langsung Tengku Fauzi Tiro. Sesudah Tengku Hasan Tiro tiada, hanya dalam jangka masa 17 hari saja, pimpinan GAM pun menukar status kewarganegaraan mereka dari WNA ke WNI. Keputusan ini mereka sebut: “Ikut jejak langkah Wali.” Dengan cara itu Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf memiliki tiket untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur + Wakil, sementara itu Malik Mahmud, dilantik menjadi Wali Nanggroë.

Semua tokoh dan politisi yang merancang dan bertanggungjawab menjebloskan Tengku Hasan Tiro dan pimpinan GAM menjadi WNI, dimuat dalam buku ini desertai foto.

Sejak meninggalnya Tengku Hasan Tiro pada 2010, institusi negara Acheh Darussalam kehilangan pemimpin nasional dan baru disambung semula – dibentuk Pemerintahan

Negara Acheh Darussalam (PNAD)– pada 2020. Fakta politik yang terjadi di Acheh, dimana mantan kombatan GAM lebih memilih mencicipi dan menikmati hidup di bawah NKRI yang berselindung di bawah Partai Lokal. Lantas, bagaimana arah perjuangan bangsa Acheh ke depan.

Baca Juga  Buku Otobiografi Yusra Habib Abdul Gani Terbit

Baca selengkapnya dalam buku ini. Meski baru beredar, buku ini akan naik cetak kedua dalam waktu dekat dan sudah dua kali dibedah melalui akun Tiktok Diaspora Indonesia-Inggris Yusradi Usman al-Gayoni pada 5 dan 6 Maret 2026.[]

Bio Buku;

Judul: Mengutuk “Tarian Pang Tibang” Dengan Kemarau Kemarahan

Penulis: Dr H Yusra Habib Abdul Gani SH

Tebal: 449 halaman

Penerbit: Institute For Ethnics Civilization Research

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *