Surat Terbuka Mantan Aktivis GAM di Eropa untuk Ketua KPK

halaman7.com – Banten: Kabar kedatangan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri, yang berkunjung ke Aceh terdengar oleh Tarmizi Age, putra Aceh yang mantan aktivis GAM di Denmark.

Mendengar kabar itu, Tarmizi mencoba menulis surat secara terbuka kepada ketua KPK tersebut, Jumat 26 Maret 2021.

Bagaimana isi surat terbuka tersebut, simak tulisan berikut:
Pak Firli, ketahuilah. Kami rakyat Aceh seumuran saya yang lahir sekitar 70-an, sudah merasakan miskin pembangunan sejak lahir.

Baru-baru ini Aceh juga diumum sebagai daerah termiskin se-Sumatera. Saya yakin bapak pasti tau informasi ini.

Makanya pikir-pikir, saya coba menulis kepada Pak Firli melalui media ini. Siapalah tau bapak sebagai ketua KPK bisa membantu menelusuri lubang tikus yang telah membuat rakyat Aceh miskin dari dulu, hingga kini dan mungkin selamanya.

Masa Lalu
Pak Firli, saya paling ingat sekitar tahun 1985-1986 saat berangkat pagi-pagi ke sekolah SMP di Kecamatan Peudada dari kampung saya di Alue Sijuek. Dengan menaiki sepeda yang dibeli ayah dan mak hasil panen kacang kedele.

Jika saja musim hujan tiba. Saya tidak bisa menggunakan sepeda. Karena harus melewati jalan yang becek dan terkadang becek sekali sampai berlumpur. Sehingga sepatu dan buku harus dijinjing di tangan.

Begitu sampai di pinggir jalan Banda Aceh – Medan, barulah kaki yang terbalut kotoran tanah liat yang berwarna hitam dan yang kekuningan dicuci di sumur orang. Itu pun sedikit berebut sama teman-teman. Agar tidak lambat sampai ke sekolah dengan menaiki mobil labi-labi di jalan raya.

Pada saat jalan tidak becek, saya bersepeda dari kampung di Alue Sijuek hingga ke sekolah SMP di Peudada, lebih kurang 10 Km. Saya tidak naik mobil (angkot) karena uangnya yang pas pasan.

Baca Juga  Basarnas Selamatkan Rohingga yang Tenggelam di Laut Aceh

Padahal ketika itu Aceh terkenal dengan ada PT Arun NGL. Perusahaan penghasil gas alam cair Indonesia. Salah satu perusahaan penghasil LNG terbesar di dunia.

PT Arun merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar bagi kota Lhokseumawe dan Indonesia. Tapi nasib kami di Aceh, seperti saya katakan pak, miskin, miskin sekali pak ketua.

Masa Kini
Saya sedih Aceh tetap saja miskin dan tertinggal pak ketua. Bahkan dengan anggaran yang cukup besar plus Dana Otsus, Aceh masih saja menjadi daerah tertinggal. Sekaligus jadi bahan pembicaraan sebagai daerah termiskin di Sumatera.

Kemiskinan membuat putra-putri Aceh ada yang harus menjadi buruh dan kuli di negeri orang. Sedih dan malu sekali kita pak Firli, termasuk kami malu sama bapak.

Sebagai ketua KPK apa yang bisa bapak bantu untuk Aceh. Terutama selepas bapak memberikan pembekalan antikorupsi kepada para dosen dan mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) melalui kuliah umum bertajuk “Pembekalan Antikorupsi bagi Civitas Akademika Universitas Syiah Kuala” pada Kamis, 25 Maret 2021.

Tolonglah Aceh pak ketua. Kami takut Aceh itu miskin bukan karena miskin pendapatan tapi karena dimiskinkan.

Terimakasih atas kunjungan Bapak Firli ke Aceh. Semoga bapak bisa mendapat gambaran lebih jelas tentang Aceh setelah 75 tahun Indonesi merdeka.

“Semoga kedepan bapak lebih sering-sering ke Aceh,” tutup Tarmizi Age dalam surat terbukannya itu.[andinova | red 01]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *