Dilema, Antara Jam Malam dan Isi Perut

Catatan: Putra Zulfirman

STATUS darurat kesehatan, berujung pemberlakuan jam malam di Aceh, berbuah dilema.

Disatu sisi, jam malam bertujuan untuk menghambat laju penyebaran Corona Virus Disaese (Covid-19).

Disisi lain, jam malam telah merebut paksa kesempatan mengais rizki para pedagang kecil maupun pelaku usaha lainnya.

Sebut saja, penjaja makanan pinggir jalan. Mereka mulai membentang lapak dagangan, kala matahari hendak condong ke barat.

Lokasinya pun di emperen toko, bahkan di bahu jalan yang diperolehkan berjualan dengan berbagai ketentuan dan pertimbangan, tentunya.

Sudah pasti, pedagang tersebut tak diperkenankan jualan sejak pagi hingga jelang sore.

Selain menganggu empunya ruko yang juga berniaga, dengan ragam dagangannya. Lain itu, pedagang lapak di bahu jalan, tentu menganggu arus lalu lintas.

“Sudah tiga malam ini diminta tutup cepat, sesuai pemberlakuan jam malam mulai 20.30 WIB,” ujar pemuda penjaja kopi di seputaran jalan Jenderal Ahmad Yani, Kota Langsa, Kamis, 2 April 2020 malam.

Pemuda tadi, mengantungkan rizki dari penjualan kopi. Ibaratnya, hasil penjualan sehari untuk makan hari itu pula.

Bila tutup lebih awal, maka kesempatan mengais rizki tentu terbatas, dengan penghasilan seadanya pula.

Hendak berjualan siang hari, tidak ada lapak lain dan tak memungkin pula dilakukan, karena fasilitas tempat berdagang yang terbatas.

“Memang jam malam agar terhindar penyebaran Covid 19. Tapi kami bisa terserang kelaparan bila terus begini,” tandas pemuda tadi.

Belum lagi, anjuran isolasi diri secara mandiri di rumah yang sudah dimulai sejak 16 Maret lalu. Kondisi ini, kian mempersulit ekonomi kaum lemah.

Namun, ironisnya. Masih ada usaha warung kopi yang terbilang maju, tidak ikut anjuran jam malam. Padahal, lokasi usahanya strategis di jantung kota.

Hal ini membuat gerah sebagian pedagang yang patuh terhadap pemberlakukan jam malam. Tim gabungan dari TNI/Polri, Satpol PP, BPBD maupun Dinas Kesehatan setempat, terus berpatroli.

Mengimbau seluruh warga agar tidak berkumpul di tempat keramaian. Pedagang diminta menutup usahanya.

Lagi-lagi, upaya ini belum menuai hasil maksimal. Padahal, tim gabungan telah berjibaku. Imbauannya jelas, bahwa sangat berbahaya bila ada kerumunan orang. Kontak fisik, bisa menularkan virus Corona.

Sepertinya, kekhawatiran pemerintah akan dampak pandemi Corona tidak begitu digubris sebagian warga.

Mereka lebih khawatir bila wabah kelaparan melanda. Karena, lapar menyebabkan kematian. Namun, terpapar Corona belum tentu langsung mati.

Karena, banyak kasus Covid-19 di belahan dunia. Mereka yang terinfeksi virus itu bisa sembuh dengan menjaga pola makan, memiliki imun tubuh kuat dan konsumsi vitamin.

“Kalau tak ada uang, tak bisa beli beras dan lauk. Malah mudah diserang Corona, karena tubuh tidak sehat, kurang makan, tidak ada vitamin dan imunitas menurun,” ungkap pemuda penjaja kopi tadi berargumen.[]
*penulis: Ketua PWI Kota Langsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *