Nestapa Pedagang Kecil Saat Didatangi Satpol PP

kawasan pedangang kaki lima yang di bongkar Satpol PP.[FOTO: h7 - Antoedy]

Catatan: Eddyanto SST

PUSAT pertumbuhan ekonomi baru tersebut akhirnya tergusur juga. Puluhan pedagang atau masyarakat yang membuka lapak lapak kecil dagangan di sepanjang Jalan eks Rel Kereta Api (KAI) Langsa harus gigit jari.

Dalam beberapa hari terakhir ini, banguan bangunan lapak dagangan warga terpaksa dibongkar setelah sebelumnya didatangi tim Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemerintah Kota setempat.

Mau tidak mau, suka atau tidak suka, warga kecil akar rumput ini harus mengalah dan dikalahkan. Padahal mereka hanya mencari sesuap nasi untuk bertahan hidup, bukan untuk mencari kaya raya.

Usaha dagangan mereka disepanjang jalan eks KAI ini yang sudah hidup  dan tumbuh pesat, menopang perekonomian dapur rumah tangga mereka akhirnya hancur berantakan. Mereka harus menata kembali perekonomian mereka dari nol.

Nestapa warga atau pedagang ini, semakin menambah derita mereka karena sebelumnya, bencana alam hidrometreologi yang sudah berlalu 5 bulan lalu (sejak 26 Nopember 2025-red) juga mereka rasakan telah memporakporandakan kehidupan warga.

Bencana Hidrometeorologi tersebut membuat mereka terpuruk. Bahkan hingga saat ini masih banyak warga Langsa yang belum mampu bangkit apalagi tersentuh bantuan stimulan dari pemerintah pusat baik bantuan perbaikan rumah rusak berat, rusak sedang maupun rusak  ringan, (dari BNPB) juga bantuan jatah hidup (dari Kemensos) maupun bantuan pergantian perabotan rusak.

Dari pemerintah daerah Pemko Langsa, bantuan yang diterima warga hanya beras 20kg dan uang Rp200 ribu.

Diharuskan Bongkar

Kondisi ini semakin membuat mimpi gelap warga Langsa makin nyata. Baru mencoba bangkit, kini di bulan April 2026 ini, mereka kembali diharuskan menghentikan kegiatan berdagang kecil kecilan  penopang dapur rumah tangga mereka.

Baca Juga  Karang Baru Sabet Juara I Bunda PAUD se Aceh

“Kami kecewa, meski atas nama penertiban, penegakan qanun atau peraturan daerah, keindahan kota dan lainnya. Bagi kami rakyat kecil sebenarnya hanya mencari makan dengan hasil yang juga pas pasan,” sesal para pedagang akar rumput ini saat ditemui, Rabu 15 April 2026.

Sedih cukup sedih, namun itulah realitanya , tak ada pilihan yang terbaik dan memihak kami rakyat kecil di negeri ini, Kota Langsa, Kota Kelahiran dan tempat kami dibesarkan.

Kemana hati nurani para pemimpin kota ini, sesal warga. Sementara Pemko Langsa sendiri tak ada menyediakan tempat bagi kami untuk berjualan atau kami bisa menyewa, malah yang ada pembangunan pusat perekonomian atau toko dan sebagainya itupun dibangun masyarakat sendiri.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *