Innalillahi…KH Ridwan Sururi telah berpulang

halaman7.com – Banyumas: Inna lillahi wa inna ilaihi rajiu’n. Banyumas berduka. Salah satu ulama kharismatik sekaligus pengasuh Pondok Pesantren An Nur Kedung Lemah, Kecamatan Kedung Banteng, Kabupaten Banyumas, KH Ridwan Sururi meningal dunia di salah satu Rumah Sakit di Purwokerto pada Sabtu 12 Juni 2021, malam.

Kabar meninggal ulama yang akrab disapa Kyai Iket itu beredar luas dalam pesan berantai. Sejumlah sumber yang berhasil dikonfirmasi terkait informasi itu membenarkan kabar duka tersebut.

“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’un. Sampun kapundut wonten ngarso dalem gusti, KH Ridwan Sururi Kedung Banteng. Mugi-mugi sedoyo amal ibadahipun Almarhum katampi dening Alloh SWT, kaparingan Maghfiroh, Husnul khotimah, kaparingan panggenan kang sae mungguh Alloh SWT, lan keluarga dipun paringono sabar tawakal tuwin ikhlas. Aamiin aamiin aamiin yaa robbal ‘alaamiin,” kata Ali Munif Sekretaris Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kabupaten Banyumas.

Sebelumnya, Kyai Ridwan Sururi sempat dikabarkan sedang dirawat di RSUD Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto. Sang kiai yang berkarakter teguh dengan gaya dakwah yang khas saat di atas panggung. Cara penyampaiannya unik, menarik, dan komunikatif mengejutkan banyak kalangan sejak kabar tersiar melalui media sosial.

Almarhum KH Ridwan Sururi semasa mudanya pernah nyantri di Pesantren Buntet Cirebon. Dalam suatu kesempatan acara haul pesantren tersebut dirinya didaulat sebagai penceramah yang menyatakan bahwa watak manusia itu seperti wataknya gelas.

“Artinya manusia (itu) seperti gelas,” terangnya.

Menurutnya, gelas memiliki tiga watak, yakni melumah, tengkurab, dan miring. “Gelas itu punya tiga watak yakni tengkurab, miring, melumah,” bebernya.

Watak melumah lanjutnya, merupakan watak yang baik karena dapat menerima dengan baik apa yang dituangkan di dalamnya. Artinya, manusia dapat menerima dengan baik apa yang didengar, dibaca, maupun apa yang diperhatikannya.

Berbeda dengan dua watak lainnya, yakni miring dan tengkurab tidak bakal bisa menerima dengan baik air yang dituangkan, seberapa pun banyaknya. Tapi jika miring (ataupun) tengkurab, walaupun diisi air seberapa banyak pun akan tetap tidak sampai penuh.

Kiai Ridwan Sururi, diakui semangat dakwahnya luar biasa, penampilannya pun berbeda dengan umumnya kiai. Beliau seringkali menggunakan iket kepala, bukan peci putih, peci hitam atau songkok bahkan blangkon melainkan iket khas tradisi Jawa Banyumas.

“Inyong Wong Banyumas, bangsa panginyongan ya iketan,” demikian laku lampahnya. Sehingga beliau dikenal dengan Kyai Iket.

Sosok kyai yang sederhana, merakyat, nyemedulur yang berkarakter teguh sebagai manusia pribumi Nusantara. Lahul Fatihah.[Aji S | red 01]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *