Taat Tradisi Mengabaikan Regulasi (Bagian I)

Oleh: Aleefa

SETIAP daerah ada tradisi yang walau bukan wajib. Tapi masyarakatnya sudah menggangap sesuatu yang harus di ikuti. Bahkan ada yang mengganggap itu sebagai kegiatan awal. Untuk memulai serta mensyukuri suatu kegiatan apa saja yang sudah dicapai lewat perjalanan bahkan perjuangan panjang dan melelahkan.

Ada juga yang menjalankan tradisi ini untuk mensyukuri keselamatan dalam bahaya atau musibah yang menerpa. Layaknya daerah-daerah lain di nusantara. Aceh juga memiliki tradisi pesijuek (tepung tawar) yang sangat melekat dengan masyarakat di tanah rencong ini.

Tradisi ini sudah di jalankan turun temurun sejak nenek moyang masyarakat Aceh sampai saat ini. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur terhadap keberhasilan dalam perjuangan dan perjalanan. Bahkan bagi yang akan melakukan perjalanan jauh.

Dalam sejarah Aceh. Pesijuek bukan saja untuk orang saja bahkan dilakukan untuk benda atau alat yang akan di gunakan untuk melakukan aktifitas kemasyarakatan. Lebih jauh lagi, para pejuang dulu selalu mempesijuek senjata-senjata yang akan di gunakan untuk berperang melawan penjajah.

Itulah sekelumit salah satu tradisi Aceh yang masih melekat sangat erat dengan masyarakat Aceh sampai saat ini.

Sepertinya begitu juga yang sedang terjadi di jajaran Kanwil Kemenag Aceh. Pascaterpilihnya Kakanwil yang baru hasil seleksi yang dilakukan di tingkat nasional dengan menerapkan metode open biding bebarapa waktu lalu.

Beberapa putra terbaik Aceh di jajaran Kementerian Agama Aceh, ikut bagian dalam kompetisi tersebut. Akhirnya Dr H Iqbal, salah seorang putra Glumpang Bungkok, Pidie terpilih sebagai pemenang kompetisi yang dibuka. Guna menhisi kursi yang di tinggalkan HM Daud Pakeh setelah hijrah ke Jambi. Daud dipercaya menjadi Kepala Biro di salah satu perguruan tinggi keagamaan Islam Negeri.

Ada yang menarik dalam perjalan panjang kompetisi ini yang sempat penulis buat sebagai catatan minimal utk pengayaan tulisan ini. Sempat terbaca di media lokal bahkan nasional dari beberapa calon lulus seleksi tahap CAT dari berbagai daerah.

Anak Mantan Gubernur GAM

Sampai media mengangkat salah satu yang lulus adalah anak mantan Gubernur GAM wilayah Pidie Tgk Muhammad Arif. Rasa bangga dalam hati tak terkira setelah membaca tulisan tersebut. Walau besoknya Iqbal mengatakan sebutan anak mantan Gubernur GAM, tidak korelasi dengan apa yang sedang beliau ikuti.

Namun sebagai masyarakat Aceh asli. Tentunya kami sangat bangga ada seorang yang masih memiliki turunan darah perjuangan yang berkompetis pada instansi vertikal tersebut yang memang langsung tunduk ke pusat bukan sebagai otonomi.

Akhirnya publik Aceh pun bisa menepuk dada dan berbangga hati. Ternyata hasil seleksi Dr Iqbal yang memang berdarah pejuang tersebut muncul sebagai pemenang. Dilantik pada 10 Juli 2020 sebagai Kakanwil Kemenag Aceh secara daring oleh Menteri Agama bersama beberapa pejabat eselon II lainnya secara nasional.

Seketika asa muncul dalam relung hati mendengar pengumuman tersebut sampai penulis menitikan air mata haru, bangga sebagai putra asli Aceh. Dengan bangga juga masyarakat ketika setiap daerah yang dikunjungi Kakanwil selalu di tunggu dan disambut dengan tradisi pesijuek sebagai pemenang kompetisi. Harapan dan asa yang sangat besar masyarakat taruh di pundak Dr Iqbal sebagai putra asli Aceh yang berdarah pejuang tersebut.

Iqbal di pesijuek seseuai tradisi ke Acehan. Bak panglima yang baru kembali dari medan perang dengan membawa kemenagan. Semua tau tradisi pesijuek dilakukan sebagai rasa syukur terhadap apa yang sudah diperoleh.

Bahkan lebih jauh tradisi tersebut sebagai pengingat bagi yang sudah berhasil untuk tidak sombong dan gegabah dalam menjalankan kemenangan. Ini sebagai penyejuk untuk setiap tindakan yang akan dilakukan hasil dari kemenagan tersebut.

Namun pada 24 Juli 2020 atau tepatnya dua minggu berselang setelah Iqbal menjabat Kakanwil Kemenag Aceh. Masyarakat Aceh di kejutkan kenyataan yang berbalik 180 derajat dari asa yang sudah terlanjur ada dalam hati.

Publik terperanjat berita gelombang tsunami mutasi yang sangat tiba-tiba. Bahkan tidak main-main sampai 13 pejabat eselon III di Kemenag Aceh di rotasi  dengan sangat cepat. Hanya dua minggu setelah menjabat. Termasuk sang Plt Kakanwil Kemenag Aceh yang hanya bersisa masa tugas seminggu lagi tidak luput dari sasaran dan dikursi panjangkan walau tinggal hitungan minggu menuju purna.

Merontokan Asa

Dengan kondisi sangat tergesa-gesa dan terkesan dipaksakan semua dilakukan dalam hitungan hari. Bahkan tanpa menghiraukan kesakralan hari besar umat Islam di Aceh. Karena saat itu hanya seminggu terpaut menjelang Hari Raya Qurban. Sungguh ini merontokkan asa dan harapan besar untuk lembaga keagamaan yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian ini.

Kalau kita bisa berhitung. Ini sangat tidak masuk akal. Bayangkan setelah dilantik pada Jumat, 10 Juli 2020, pukul 14.00 wib. Sehari setelahnya memasuki hari libur Sabtu dan Minggu, praktis Iqbal terkesan sangat tergesa-gesa dengan mempersiapkan semuanya dalam waktu 5 hari kerja.

ini jelas terlihat ketika pembacaan surat keputusan pelantikan tersebut bahwa usulannya tertanggal 17 Juli 2020. Persis hanya 5 hari kerja setelah Menteri Agama melantik Iqbal secara daring sebagai Kakanwil Kemenag Aceh.

Secara nalar ini tidak masuk logika untuk menjalankan semua proses penilaian kinerja terhadap proses usul mutasi tersebut yang merupakan bagian dari syarat usulan mutasi pejabat di Kementerian Agama.

Sudah pasti Panitia seleksi (Pansel) nya belum terbentuk. Dikarenakan secara regulasi Pansel untuk penilaian kinerja diketuai Kabag TU dengan beranggotakan seluruh Kepala Bidang juga termasuk dalam usulan mutasi tersebut.

Dalam pandangan masyarakat, sepertinya mustahil ini terjadi karena instrument… bersambung

Penulis, Pemerhati birokrasi pemerintahan

Satu tanggapan untuk “Taat Tradisi Mengabaikan Regulasi (Bagian I)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *