Ini Solusi untuk Mensejahterakan Aceh dari IKAT

halaman7.com Banda Aceh: Ketua OIAA Organisasi Internasional Alumni Al Azhar Dr TGB Muhammad Zainul Majdi Lc MA mengungkapkan, membangun Aceh diperlukan kekompakan dan kebersamaan.

Dalam hal ini perlu berkaca pada sejarah. Dimana Aceh menjadi garda terdepan di Nusantara ini. Saat ini Aceh memiliki Qanun tersendiri yang memudahkan untuk bangkit.

Hal itu diungkapkan, TGB secara virtual dalam diskusi yang diselenggarakan Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh dalam mencari solusi terkait permasalahan kesejahteraan masyarakat Aceh, Jumat 2 April 2021, malam.

Ketua IKAT Aceh Tgk Muhammad Fadhilah Lc MUs menyampaikan, kegiatan ini fokus mencari pokok persoalan yang menjadikan Aceh sebagai daerah termiskin di Sumatera. Kemudian mencari solusi dan langkah apa yang harus dilakukan dalam mewujudkan kesejahteraan Aceh serta menyerap aspirasi dari masyarakat.

Kegiatan ini sebagi bentuk ikhtiar bersama. Untuk mencari solusi dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat Aceh ke depan.

“Hasil dari yang kita diskusikan malam ini nantinya menjadi masukan bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan terhadap pengentasan kemiskinan di masa mendatang,” ujar Tgk M Fadhillah.

Ia juga mengajak semua pihak untuk bersatu, mengambil peran sesuai dengan tupoksi masing masing dalam menyelesaikan persoalan kesejahteraan di Aceh.

“Kami berharap agar pemerintah bersama semua elemen masyarakat sama-sama menaruh perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat Aceh dari tingkat bawah. Karena ini menjadi tanggung jawab kolektif.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Ketua DPR Aceh, Dahlan Jamaluddin SIP, Bappeda Aceh, Komisioner Baitul Mal Prof Nazaruddin A. Wahid, dan Dr Drs Yusrizal MSi selaku Kepala Dinas Sosial Aceh.

Hadir juga Wakil Ketua MPU Aceh, Muhibuttabari, Prof Eka Srimulyani PhD selaku akademisi UIN Ar-Raniry. Prof Nasir Aziz MBA selaku akademisi USK, Kadin Aceh, Anggota DPD Aceh, M Fadhil Rahmi Lc, perwakilan ormas, mahasiswa, pegiat sosial Edi Fadhil dan sejumlah tokoh Aceh lainnya.

Dalam talk show ini, para pakar saling memberikan pernyataan dan solusi guna menekan angka kemiskinan di Aceh. Hingga pada akhirnya lahirlah sejumlah rekomendasi yang akan disampaikan kepada pemerintah Aceh.

Solusi Rekomendasi

Solusi yang lahir dari diskusi tersebut di antaranya, perlu adanya integrasi data terkait kemiskinan/kesejahteraan yang disempurnakan secara berterusan. Perlu  penyadaran bayar zakat bagi yang wajib zakat untuk meningkatkan jumlah zakat sebagai salah satu instrument pengentasan kemiskinan di Aceh.

Selanjutnya, diperlukan adanya studi inventarisasi masalah yang perlu diselesaikan serta fokus pada prioritas, koordinasi/sinergi  antar lembaga (SKPA) kompak dan satu visi, keberlanjutan yang fokus pada outcome bukan project-based, didukung legislatif. Diperlukan pemerataan pembangunan dan fokus pada sektor pertanian dan pendidikan.

Kemudian, membangun data-data kemiskinan kultural (bukan struktural) dan membangun kemitraan dengan berbagai macam pihak (pentahelix). Perlu intervensi dengan pendekatan kultural/agama untuk membangun etos kerja yang Islami. Perlu sinergisitas dan pemilahan untuk tidak merusak nilai-nilai agama.

Program bantuan harus memenuhi aspek 6T: tepat disain, tepat sasaran, tepat cara, tepat jumlah, tepat waktu, dan tepat potensi, dan harus mengukur juga aspek sebaliknya seperti kebahagiaan orang Aceh (mungkin lebih tinggi).

Kegiatan ini dipimpin Dr Amri Fatmi Lc MA diikuti ratusan peserta dan juga disiarkan livestreaming. Kegiatan ini merupakan kerjasama dengan OIAA Organisasi Internasional Alumni Al Azhar, Centriefp, IIA Islamic Institute of Aceh, serta ICAIOS. [ril | red 01]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *