Ramadhan dan Muhasabah

Pembaca yang berbahagia

Mulai besok secara umum di dunia, khususnya di Aceh akan menjalankan ibadah puasa. Bulan yang selalu dinanti ummat Islam di belahan dunia manapun. Karena di bulan ini, ummat Islam akan berlomba menjadi insan yang taqwa.

Anjuran (wajib) berpuasa ini sudah ditegaskan Allah pada  firmannya dalam Surah Al-baqarah ayat 183 :

يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Tentu kita sebagai ummat muslim sangat tau dan bahkan hafal ayat satu ini. Ayat ini juga paling sering disampaikan khatib atau penceramah pada saat shalat tarawih. Anjuran berpuasa ini sangat khusus bagi orang yang beriman saja. Sebagaimana bunyi awal dari Al-baqarah:183 tersebut.

Ramadhan merupakan bulan yang agung. Dimana bulan tersebut dibukakan banyak pintu kebaikan. Lalu, sudahkan kita melakukan persiapan full power untuk meraih semua amal kebaikan dan limpahan pahala sepanjang Ramadhan ini?

Disisi lain, pada Ramadhan tahun ini, masih sama seperti tahun sebelumnya. Dimana, Indonesia secara umum dan dunia secara menyeluruh masih di hantui dengan pandemic Covid-19. Kita berharap, ini menjadi Ramadhan terakhir kita dihadapkan dengan covid-19 ini. Dalam artian, In syaa Allah, pada Ramadhan 1443 H, kita tak berjumpa namanya virus Corona.

Teguran Allah pada Ramadhan ini bukan saja lewat Covid-19. Jelang Ramadhan, kita (Indonesia) sudah dapat peringatan Allah berupa bencana alam. Seperti menimpa saudara kita di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Gempa bumi di Jawa Timur.

Tentu hal ini harus bisa menjadi intropeksi diri bagi kita semua. Muhasabah itu sangat penting. Terlebih lagi pada bulan Ramadhan ini. Sebab semua hidup ini, tidak ada artinya, jika kita tidak mampu ber muhasabah.

Muhasabah juga dipandang sebagai suatu sarana yang dapat mengantarkan seorang manusia untuk mencapai derajat yang tertinggi sebagai hamba Allah SWT.

Muhasabah merupakan tolok ukur keimanan. Artinya, keimanan seorang hamba Allah ditentukan oleh sejauh mana dia dapat menerapkan muhasabah dalam kehidupannya.

Muhasabah merupakan karakteristik seseorang yang bertakwa. Rasanya, tidak mungkin derajat taqwa dapat dicapai orang yang menghindari bermuhasabah. Dengan menghisab diri sendiri, seseorang dapat sadar diri. Pada akhirnya, kita kian termotivasi untuk meningkatkan kualitas amalan-amalan demi mendapatkan ridha-Nya.

Muhasabah adalah kunci sukses manusia, baik di dunia maupun akhirat. Dengan bermuhasabah, ada dorongan dari diri sendiri untuk melakukan yang lebih baik daripada hari kemarin.

Kita berharap, Ramadhan tahun ini semua harapan dan keinginan yang kita dambakan bisa terwujud dan Allah meridhai itu semua, sebagai satu kebaikan untuk kita semua.

Selamat berpuasa…[red 01]

Facebook Comments
(Visited 17 times, 1 visits today)
83 views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *