Selamat Jalan Guru Jurnalistik Kami…

PUKUL 09.33 WIB satu pesan forwaded dari Irawan yang tergabung dalam grup WhatsApp Grup (WAG) Kepala Sekolah SJI PWI masuk.

“Berita duka. Innalillahi wainna ilaihi rojiun.Telah meninggal dunia Bapak Encub Soebekti usia 76 th. Mantan pengurus PWI Pusat, SJI, tanggal 11 April 2021 jam 06.30 di RS Premier Jatinegara. Akan dimakamkan siang ini di Pemakaman Umun Prumpung.. Rumah duka: Jl. Warung Asem no. 6, Kel Rawabunga, Jatinegara”

Begitu pesan yang di forward Irawan dari SJI Jawa Timur. Sejenak saya tertegun. Diam. Innalillahi Wainnaillahi rajiaun. Pesan itu membawa ku kembali teringat akan sang Guru yang banyak memberi inspirasi dalam dunia jurnalistik. Terutama dalam hal meningkatkan SDM para wartawan.

Pada pertengah 2013, adalah awal perkenalan saya dengan Pak Bekti. Saat itu saya intens berkomunkasi dengan Almarhum guna mempesiapkan pembukaan Sekolah Jurnalime Indonesia (SJI) PWI Aceh.

Ketua PWI Aceh Tarmilin Usman, menunjuk saya sebagai Kepala SJI Aceh. Pak Bekti begitu telaten dan sabar membimbing kami di PWI Aceh, agar SJI angkatan I (pertama) ini bisa berjalan dengan baik dan lancar.

Wakil Gubernur Muzakir Manaf buka SJI PWI Aceh angkatan I. FOTO h7 – dok sji pwi aceh –

Sebelum kegiatan di mulai, Pak Bekti sudah berada di Aceh. Akhirnya SJI angkatan I sekaligus pengukuhan SJI PWI Aceh diresmikan. Wakil Gubernur Aceh kala itu, Muzakir Manaf langsung hadir dan membuka acara tersebut.

Selama dua pekan acara, sejak 18-31 Agustus 2013. Pak Bekti tidak selalu stand by di Banda Aceh. Almarhum hanya sekali pulang ke Jakarta, itupun setelah seminggu lebih di Aceh.

“Saya pulang sebentar, rindu keluarga dan cucu,” katanya.

Disela-sela kegiatan, sambil ngopi di PWI Aceh, saya dan Pak Bekti sering bertukar pikiran. Banyak ilmu yang saya serap darinya. Terutama menyangkut system dan pola pendidikan bagi wartawan.

Sistem dan pola itulah yang banyak saya adopsi dalam melaksanakan pelatihan atau pendidikan jurnalistik bagi wartawan di Aceh hingga saat ini.

INFO Terkait:

Tegas

Meski orangnya sangat lembut dan santun dalam berbicara. Jika dalam kelas Pak Bekti sangat tegas. Ada siswa SJI yang datang telat langsung disuruh pulang. “Ini belajar, bukan main-main,” katanya.

Begitu juga saat siding kelulusan siswa SJI PWI Aceh. Dalam siding kelulusan itu, Pak Bekti, Ketua PWI Aceh, saya sempat berdiskusi dan berdebat menyangkut siapa yang tak lulus.

“Tak lulus, bukan berarti gagal jadi wartawan. Mereka masih bisa belajar. Jadi jika memang nilainya tak memadai, biar mereka belajar lagi di lapangan, dengan mencari pengalaman lagi,” ujar Pak Bekti.

Selaku Direktur Eksekutif Yayasan SJI Pusat, Pak Bekti terlihat sangat perhatian akan SDM wartawan ini. Almarhum, tidak sombong dan pelit berbagi ilmu bagi para siswa SJI yang didominasi wartawan muda.

Di luar kelas, Pak Bekti sering terlibat diskusi dengan para wartawan muda ini. Bagaimana kiat menjadi wartawan baik dan andal, kerab dibagikannya. Berdasarkan ke ilmuan dan pengalamannya yang matang dalam dunia jurnalistik.

SJI PWI Aceh sendiri sempat berjalan dua angkatan. Angkatan pertama 2013 dan angkatan ke dua tahun berikutnya. Sayangnya, SJI ini tidak berjalan lagi hingga saat ini. Namun, ilmu dan pengalaman yang di titiskan Pak Bekti, tak pernah luntur hingga saat ini. Meski sang guru kini telah tiada.

Selamat jalan guru jurnalistik kami. Ilmu yang kau ajarkan, adalah ladang amal dan pahala yang terus mengalir hingga akhir zaman nanti.[iranda novandi]

Facebook Comments
(Visited 129 times, 1 visits today)
238 views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *