Cerita Lara dari Bumi Hamzah Al-Fansuri, Meurah Sakti: Kita ikut Bersedih

halaman7.com – Banda Aceh: Cerita lara (sedih) dari bumi Hamzah Al- Fansuri mengalir ke permukaan. Cerita ini bergulir setelah Menteri Dalam Negeri (Mendagri) menyataan Indek Inovasi Daerah (IID) 2020, Kota Subulussalam dinyatakan terpuruk.

Meurah Sakti
Meurah Sakti

Salah seorang satu tokoh yang menjadi bidan melahirkan Kota Subulussalam, Meurah Sakti, menyatakan ikut sedih dan prihatin.

“Ini menyedihkan, Kota Subulussalam masuk kategori tiga kota yang tidak dapat dinilai inovasinya alias disclaimer dalam penilaian IID 2020,” ujar Meurah Sakti, Senin 21 JUni 2021 di Banda Aceh.

Kehadiran Kota Subulussalam, lanjut mantan bupati Subulussalam ini, diperjuangkan bersama-sama bertujuan untuk memperpendek rentang kendali pelayanan publik. Ini telah diterapkan dan diupayakan saat Meurah memimpin Kota Subulussalam dua periode.

“Sebelumnya, kita telah berupaya maksimal memasukkan anggaran sebanyak-banyaknya dari pusat dan provinsi ke Subulussalam,” ujarnya.

Ini dilakukan guna mempercepat kemajuan daerah. Membangun di segala sektor. Melahirkan Kemenag, Polres, Kodim, Kejari, Mahkamah Syariah. Tujuannya agar pelayanan lebih baik. Karena waktu itu masih tunduk ke kabupaten induk, Aceh Singkil.

Saat itu, ungkapnya, instansi vertikal yang belum defenif Pengadilan Negeri termasuk Lembaga Pemasyarakatan yang belum ada.

“Jadi memalukan kalau Kota Subulussalam sekarang malah masuk kategori tidak dapat dinilai dalam penilaian IID 2020 dari Kemendagri,” ujar Meurah.

Menurutnya, Kota Subulussalam infrastruktur jalan di bangun hampir kesemua pelosok desa. Pesantren-pesantren dibantu, guru-guru terbaik dari pesantren berangkat umroh. RSUD di bangun, asrama mahasiswa di Banda Aceh dan di Medan dibangun bahkan bus sekolah gratis.

Disisi lain, hasil kerja keras itu pengelolaan keuangan dapat WTP. Menariknya, WTP malah lebih duluan diraih Kota Subulussalam yang lahir dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2007 pada 2 Januari 2007, dibandingkan kabupaten lainnya di pantai Selatan Aceh, seperti Kabupaten Aceh Selatan, Abdya dan Aceh Singkil.

INFO Terkait:

Catatan Besar

Meurah menilai memasuki tahun ke tiga  pemerintahan Kota Subulussakam sekarang ada tiga catatan besar. Menurutnya ini merusak citra daerah Subulussalam. Yakni rapor merah KPK. Kemudian, kinerja rendah penilaian dari Kemendagri dan serapan DOKA  terendah di Aceh.

Melihat kondisi Kota Subulussalam hari ini, Meurah mengajak semua pihak serta masyarakat bersatu dan kompak untuk bangkit membangun negeri bertuah, bumi Syech Hamzah Al Fansury.

“Jangan biarkan negeri ini hancur, sungguh sangat memalukan dengan beberapa penghargan yang menyakitkan kita diberikan untuk Kota Subulussalam,” sebut Meurah yang menyatakan secara moral dirinya bertanggungjawab terkait maju dan mundurnya negeri Sada Kata tersebut.

Sebelumnya, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Dalam Negeri, Agus Fatoni, mengungkapkan hasil penilaian Indeks Inovasi Daerah 2020. Dimana terdapat lima provinsi yang memiliki nilai indeks inovasi terendah.

Lima provinsi yang masuk dalam kategori kurang inovatif berdasarkan penilaian Indeks Inovasi Daerah tahun 2020 itu, yakni Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Maluku, Kalimantan Timur, dan Gorontalo.

Selain itu, ada 55 kabupaten kategori kurang inovatif dan tiga kota kategori tidak dapat dinilai (disclaimer). Tiga Kota dengan kategori Tidak Dapat Dinilai adalah Kota Sorong, Kota Gunungsitoli dan Kota Subulussalam.[ril | red 01]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *