Merosotnya Moral Anak Aceh, Tanggung Jawab Siapa?

Pembaca halaman7.com yang berbahagia

Kejadian miris dan memalukan wajah Aceh, berulang kali terjadi dan tersaji ke publik. Kejadian yang membuat kita istighfar terjai terus berulang. Seakan para pelaku, sudah hilang urat syaraf malu.

Berbuatan amoral, mulai dari pelecehan seksual, mesum dan hal-hal yang diluar batas manusia Islami begitu mudah dilakukan. Citra Aceh sebagai daerah religi, yang menjalankan syariat Islam secara kaffah, dengan mudah diporan-porandakan oleh manusia-manusia lemah iman.

Ironisnya, perbuatan amoral itu dilakukan mulai dari anak-anak, pelajar hingga orang dewasa. Mulai dari masyarakat biasa (awam) hingga masyarakat berpendidikan dan memiliki jabatan. Sungguh memilukan!

Tentu kita masih ingat dalam benak kita, pada minggu ke tiga Juni lalu. Ada pasangan selingkuh yang pamer ciuman bibir (cibir) dalam mobil. Pelakunya adalah oknum  yang berkerja dibawah naungan Kementerian Agama. Informasi ini bukan saja beredar luas di Medsos, juga di media meinstrem.

Tak lama berselang, giliran seorang oknum pejabat di Kanwil Kemenag Aceh yang digrebek warga di Blang Cut, Lueng Bata saat sedang asik mesum dengan seorang wanita, yang notabene bawahan si pejabat di kantor yang mengurusi ummat tersebut.

Itu cerita orang terdidik dan berpengetahuan. Lalu bagaimana dengan cerita orang awam? Tiga hari lalu, aparat kepolisian dari Polresta Banda Aceh menciduk seorang pria yang berusia 37 tahun. Pelaku yang merupakan seorang pegawai honorer di salah satu instansi, melakukan begal payudara terhadap mahasiswi di kawasan Gampong Pineung Banda Aceh.

Pada hari yang sama, Reskrim Polresta Banda Aceh juga membekuk seorang laki-laki paruh baya  berusia 48 tahun di kawasan Peukan Bada, Aceh Besar. Lelaki ini ditangkap karena melakukan sodomi terhadap anak dibawah umur.

Apakah sampai disitu? Belum!. Masih dari kawasan Peukan Bada. Seorang anak yang berstatus pelajar dan masih berusia 14 tahun, tega melakukan pelecehan seksual terhadap seorang anak tetangganya yang masih balita.

Tak bisa dibayangkan, seorang anak-anak yang masih berusia 14 tahun bisa melakukan perbuatan tak senonoh terhadap anak yang selayaknya sebagai adiknya.

Belum lagi ada pria di Banda Aceh yang mencuri uang celengan masjid dan uang hasil curiannya dipakai untuk judi online dan membeli sabu. Ada lagi cerita-cerita memalukan lainnya yang mencoreng muka Aceh di berbagai daerah kabupaten/kota lainnya di provinsi yang berjulukan Serambi Mekah ini.

Banyak cerita lain yang tak etis kiranya terlalu di umbar. Namun, begitulah kenyataannya. Ada apa sebenarnya ini? Segitu rusakah sudah moral anak-anak Aceh? Tanda-tanda dunia sudah akhir, makin tampak di bumi Aceh.

Kejadian demi kejadian terus terjadi. Ibarat gunung es, yang tampak kepermukaan hanya bagian kecil saja. Sedangkan, pada dasarnya banyak kejadian sama yang terulang terjadi, namun tak terungkap atau dirahasiakan oleh keluarga. Karena itu satu aib yang memang sangat memalukan.

Lalu pertanyaannya, ini tanggung jawab siapa? Apakah urusan lembaga yang ngurusi ummat? Rasanya sudah tak mungkin. Oknum di lembaga itu sendiri melakukan hal yang tak bermoral. Tugas tenaga pendidik kah? Ehm ada juga oknum guru selingkuh yang fotonya viral saat Cibir di mobil.

Orang tua bagaimana. Ini memang benteng terakhir. Pendidikan moral dari orang tua harus diperkatat. Orang tua harus bisa memainkan perannya dalam mengarahkan moral anak. Jangan sampai kebabalasan.

Apa cukup dengan orang tua? Tentu tidak. Peran ulama, cerdik pandai, ustad, ustadzah harus bisa dimaksimalkan. Tentu banyak cara dan sarana yang bisa dilakukan. Hingga akhirnya, bisa mengarahkan kalangan generasi emas Aceh nantinya bisa lebih baik.

Lalu pemerintah bagaimana? Peran penting harus bisa dilakukan dengan memperketat sistem pembinaan terarah. Regulasi pendidikan Islami harus benar-benar mampu dilahirkan. Tentu pweran serta ini bersama para anggota legistlatif.

Peran lembaga legislative tentu bukan hanya bagaimana bisa mensejahtera diri sendiri dan kelaurga. Harus bisa berbuat untuk melahirkan kebijakan yang nantinya bisa memperbaiki generasi Aceh.

Mental manipulasi dan korupsi dikalangan pejabat, anggota dewan dan semua pihak berkompeten juga harus bisa dihilangkan. Berpikirlah untuk generasi emas Aceh dimasa mendatang. Jangan hanya diam dan pasrah dengan keadaan. Seakan tak mau tahu akan kondisi disekeliling.

Semoga dalam waktu cepat, mental dan moral masyarakat Aceh bisa segera dibenahi. Mari berbuat bersama dan sama-sama berbuat. Bukan menonton apa yang dikerjakan orang saja.[h7]

Facebook Comments
(Visited 64 times, 1 visits today)
188 views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *