PON Aceh, Masyarakat Hanya Jadi Penonton…?

Ilustrasi

halaman7.com – Banda Aceh: Pekan Olah Raga (PON) Aceh-Sumut tinggal tiga bulan lagi. Perhelatan olah raga skala nasional yang menjadi rutinitas empat tahun sekali. Tahun ini, Aceh-Sumut ditunjuk sebagai tuan rumah. Tentu sudah harus memastikan persiapan pelaksanaannya terlaksana dengan sukses.

Jauh-jauh hari Aceh setelah ditetapkan sebagai tuan rumah pelaksanaan PON semestinya fokus persiapan prasarana dan sarana. Namun sangat disayangkan persiapan prasarana dan sarana baru lebih fokus dalam delapan bulan terakhir. Sehingga sepertinya prasarana venue, asrama atlet, dan fasilitas lainnya masih dalam on proses perkerjaan.

Sayangnya, masyarakat Aceh hingga jelang PON ini, masih hanya sebagai penonton dan diperkirakan hingga perhelatan PON di gelar, masyarakat hanya kebagian sebagai penonton, tanpa ada keterlibatannya.

Usman Lamreung

Akademisi Unaya, Dr Usman Lamreueng, menyatakan, sebagai masyarakat Aceh berharap PON Aceh-Sumut harus sukses. Semua prasarana, sarana, dan keterlibatan semua lintas sektor temasuk masyarakat Aceh.

“Tanpa dukungan masyarakat Aceh jangan harap PON sukses,” tegas Usman Lamreueng, Selasa 18 Mei 2024.

Untuk itu, Usman menyarankan, panitia pelaksana PON dan Pemerintah Aceh diharapkan melibatkan semua komponen masyarakat Aceh. Jangan sampai masyarakat Aceh hanya sebagai penonton saja.

Berikan peluang dan ruang pada kelompok-kelompok masyarakat sebagai upaya pertumbuhan ekonomi termasuk lapangan kerja sementara, seperti tukang becak, travel, rental, sektor UMKM, Masyarakat Pengiat Parawisata, relawan dan sebagainya.

Saat ini sepertinya Panitia PON terkesan masih bergerak sendiri dengan unsur kepanitian. Belum terlihat sejauh mana keterlibatan masyarakat Aceh, termasuk sosialisasi dan koordinasi masih sangat lemah.

Belum lagi sektor parawisata yang harus dipersiapkan dengan baik, khususnya adalah infasruktur dasar belum memadai. Termasuk transportasi, koordinasi lintas daerah (kepala daerah) harus dipersiapkan dengan baik.

Baca Juga  Vespa Festival Sedot Rp1 Miliar, Hasilnya Apa?

Kalau terabaikan, ujar Usman, akan banyak masalah yang dihadapi nantinya. Ini adalah momentum mempromosikan Aceh, keindahan alam, keramahan masyarakat, adat/budaya, kuliner, kebersihan, penataan taman-taman, internet gratis ruang terbuka, traspormasi, dan pelayanan publik lainnya.

“Ini harus benar-benar terkoneksi dengan baik, agar pengunjung berminat kembali lagi setelah mereka pulang,” ujar Doktor lulusan Universitas Medeka, Malang ini.

Dikatakannya, panitia PON juga harus membentuk relawan pengendalian sampah plastik, apalagi dipusat-pusat kegiatan pelaksanaan PON termasuk pada saat pembukaan. Relawan penting sekali.

Jangan sampai sampah bergentayangan dibawa angin dan bertebaran dimana-mana dan untuk menjaga kawasan pusat kegiatan tetap dalam keadaan bersih. Relawan bisa saja dilibatkan pelajar dalam organisasi OSIS.

Satu lagi yang menurut Usman, hal kecil dan sering diabaikan adalah kebersihan toilet dilokasi-lokasi vennue dan pusat pertandingan. Apalagi daerah dengan slogan Syariat Islam, sarana toilet dan kebersihannya harus benar-benar dikelola dengan baik.

Dengan PON setidaknya ada peningkatan pendapatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Artinya PON berdampak mendongkrak ekonomi rakyat Aceh. Maka pemerintah Aceh harus melibatkan masyarakat sebesar-besarnya.

“Dengan demikian diharapkan PON sukses meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja sementara,” pungkas Direktur EDR ini.[ril | red 01]

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *