Catatan: Eddyanto SST
“59 tahun Bulog, Mengawal Pangan Menjaga Masa Depan”. Tema ini cukup bermakna, karena tak dipungkiri kehadiran Badan Urusan Logistik (Bulog) ini sangat vital dalam menjaga ketahanan dan stabilisasi pangan nasional tanah air.
Ya, terhitung 10 Mei 2026 lalu, Bulog yang saat ini dipimpin Letnan Jenderal TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani, sudah memasuki usia ke 59 tahun sejak resmi berdiri pada 10 Mei 1967.
Berbicara konteks mengawal pangan dalam konteks tata kelola negara dan masyarakat sebagaimana dikutip penulis dari berbagai sumber dan referensi, mengawal pangan adalah upaya strategis untuk memastikan ketersediaan, keterjangkauan, keamanan, dan stabilitas pasokan makanan bagi seluruh rakyat dari tingkat pusat hingga perseorangan.
Aktivitas pengawalan ini mencakup berbagai rantai dari hulu hingga hilir guna mewujudkan kemandirian bangsa.Pengawalan ini difokuskan pada empat pilar utama ketahanan pangan:
- Ketersediaan Pangan (Availability). Memastikan pasokan makanan pokok selalu cukup melalui produksi dalam negeri (pertanian, peternakan, perikanan), cadangan pangan pemerintah, hingga kebijakan impor jika diperlukan. Contoh: Optimalisasi lahan transmigrasi dan pembentukan lumbung pangan di daerah.
- Keterjangkauan Pangan (Accessibility). Memastikan masyarakat memiliki akses secara fisik dan ekonomi untuk membeli makanan yang layak. Hal ini berkaitan dengan distribusi yang merata, konektivitas transportasi, dan stabilitas harga pasar. Contoh: Operasi pasar dan stabilisasi harga oleh instansi seperti Bulog.
- Keamanan dan Pemanfaatan Pangan (Utilization & Safety). Menjamin makanan yang dikonsumsi aman dari cemaran biologis atau kimia serta memiliki gizi yang memadai. Pengawalan gizi ini penting untuk kesehatan dan kualitas hidup manusia.Contoh: Inspeksi pasar untuk mengawasi keamanan pangan segar dan olahan.
- Mitigasi dan Stabilitas (Stability)Upaya pengamanan rantai pasok agar tidak mudah terganggu oleh anomali cuaca (iklim ekstrem seperti El Nino/La Nina), krisis global, atau rantai distribusi yang tersendat. Contoh: Asuransi gagal panen dan pemanfaatan data iklim dari lembaga terkait.
Pihak yang Terlibat dalam Pengawalan PanganProses ini bukan hanya tanggung jawab sektor pertanian saja. Berbagai elemen harus bersinergi, mulai dari pemerintah (seperti Badan Pangan Nasional), akademisi, hingga masyarakat umum dan media yang mengawasi transparansi data stok pangan di lapangan.
Pada konteks ketahanan pangan, pers memiliki peran penting untuk menyampaikan kondisi nyata di lapangan dan mendorong transparansi.
Aceh
Di Provinsi Aceh, khususnya Kota Langsa, Aceh Timur dan Aceh Tamiang kehadiran Perum Bulog Cabang Langsa ini juga begitu membumi. Dalam mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus mendukung asta cita Presiden, Prabowo Subianto dalam mewujudkan kemandirian pangan.
Sebagaimana catatan yang dirangkum penulis dari Bulog dan berbagai sumber, pada semester II tahun 2025 lalu Bulog Langsa melaksanakan program penyerapan gabah dan beras dari petani lokal di tiga wilayah kerjanya yang meliputi Kota Langsa, Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Aceh Tamiang.
Kepala Bulog Cabang Langsa, Nasrizal Ramadhan menegaskan langkah ini merupakan lanjutan dari kesuksesan program serapan pada semester I lalu, di mana Bulog Langsa berhasil menyerap sekitar 28.000 ton padi dari petani di wilayah tersebut.
Capaian yang diperoleh Bulog Cabang Langsa ini tidak lepas dari kerja sama semua pihak. Baik pemerintah daerah, TNI, maupun para petani yang terus bersemangat mendukung program pemerintah.
Menurutnya, kegiatan serapan padi ini tidak hanya bertujuan menjaga stabilitas stok beras di gudang Bulog, tetapi juga sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kesejahteraan petani, dengan penyerapan langsung oleh Bulog, harga gabah di tingkat petani dapat tetap stabil dan tidak merugikan pelaku usaha tani.
Seperti diketahui, dalam pelaksanaannya, Bulog Langsa tidak berjalan sendiri, program ini dilaksanakan bersama pemerintah kabupaten dan kota melalui Dinas Ketahanan Pangan, serta mendapat dukungan aktif dari TNI dan kelompok Tani Merdeka. Sinergi lintas sektor ini menjadi langkah nyata untuk mewujudkan Asta Cita Presiden, khususnya dalam mencapai swasembada pangan nasional.
Bulog Cabang Langsa berkomitmen untuk terus mendukung asta cita presiden dalam mewujudkan kemandirian pangan, kerja sama ini akan terus diperkuat agar hasil panen petani dapat terserap dengan baik dan manfaatnya langsung dirasakan masyarakat.
Nasrizal Ramadhan juga menyampaikan, program penyerapan padi oleh Bulog juga berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Terutama menghadapi potensi fluktuasi harga beras di pasar.
Dengan stok beras yang cukup di gudang Bulog, pemerintah memiliki ruang lebih besar dalam melakukan operasi pasar apabila terjadi lonjakan harga.
Bulog Langsa menargetkan agar realisasi serapan padi di semester II ini bisa melampaui capaian sebelumnya. Seiring dengan meningkatnya produktivitas petani di wilayah Aceh Timur, Aceh Tamiang, dan Kota Langsa.
“Kami optimistis, dengan sinergi yang baik dan semangat petani yang tinggi, target serapan di semester kedua ini bisa tercapai bahkan meningkat,”sebut Nasrizal Ramadhan.
Pasar Murah dan Gerakan Pangan Murah

Langkah ini upaya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok. Ini menjadi bukti nyata kepedulian dan kehadiran pemerintah di tengah masyarakat.
Walikota Langsa, Jeffry Sentana dalam salah satu kesempatan baru-baru ini menegaskan pasar murah dan gerakan pangan murah merupakan langkah strategis pemerintah untuk menekan inflasi serta mengantisipasi potensi kerawanan pangan menjelang hari besar keagamaan, terlebih pasca bencana hidrometeorologi yang terjadi pada November lalu.
Sejarah
Hari jadi Perum Bulog diperingati setiap 10 Mei. Badan yang memiliki peran vital dalam menjaga ketahanan dan stabilisasi pangan nasional ini resmi berdiri pada 10 Mei 1967.
Bulog dibentuk berdasarkan Keputusan Presidium Kabinet Nomor 114/U/KEP/5/1967. Tujuan utamanya pada masa awal pembentukan adalah untuk mengamankan penyediaan pangan dan menjaga stabilisasi harga, guna mendukung eksistensi pemerintahan baru saat itu.[]
[Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Karya Jurnalistik Perum Bulog 2026]

















