Corona dan Simalakama

Catatan: Putra Zulfirman

Wabah Corona Virus Disaese 2019 (Covid-19) terus mengancam penduduk dunia. Termasuk di Aceh.

Putra Zulfirman

Beragam upaya telah dilakukan. Mulai pencegahan diri, hingga pembatasan sosial berskala besar (PSBB), bila tak elok disebut Lockdown.

Apa nyana. Imbauan pemerintah, belum sepenuhnya diindahkan masyarakat. Social distancing maupun physical distancing, tampak tak berlaku.

Di pusat pasar. Masih ramai pengunjung berdesakan. Terlebih, berburu takjil jelang tiba waktu berbuka puasa di bulan suci Ramd 1441 H.

Anjuran pemberlakuan jam malam pun, menuai pro kontra. Padahal, pemerintah mengambil kebijakan tak populer demi menyelamatkan rakyatnya.

Sebaliknya, bagi pelaku usaha. Jam malam, telah mereduksi pendapatannya. Terlebih, saat bulan Ramadhan. Di mana, banyak orang sedang berburu pahala sekaligus ‘Dollar’ guna penuhi kebutuhan Idul Fitri mendatang.

Memang, dianjurkan agar tidak berpergian bila tak ada kepentingan mendesak. Namun, momentum idul fitri, tak bisa dihindarkan adanya silaturahmi antar kerabat.

Anak-anak menuntut baju baru saat lebaran. Sebagai hadiah, atas puasa sebulan penuh. Bila usaha orangtuanya meredup. Niscaya baju baru bisa terbeli.

Lain itu, si miskin masih berkutat dengan drama sembako bahkan BLT dari dana desa. Pembagiannya, belum menyasar kaum marginal yang memang sangat membutuhkan.

Di pulau Jawa, terdapat warga meninggal akibat kelaparan. Atau bunuh diri, karna di PHK dan tak sanggup penuhi kebutuhan pangan untuk anaknya, akibat wabah Corona menyerang daerah itu.

Lain itu, seorang ibu viral di media sosial saat melawan petugas penertiban pedagang. Ibu itu kekeh untuk berjualan demi hasilkan pundi, cukupi kebutuhan hidup.

Disisi lain, berjualan dan berada di tengah keramaian sangat rentan dengan terpaparnya Corona Virus Disaese.

Namun, ibu itu nekad keluar rumah dan berjualan. Dari pada mati kelaparan berdiam diri di rumah.

Bak simalakama. Corona telah memaksa pemerintah mengambil kebijakan tak populis. Menelan pil pahit.

Menghempang virus, sekaligus menjamin perekonomian tetap berdenyut.

Kini, kembali ke individu kita dalam menyikapi. Berupaya memutus mata rantai penyebaran Covid 19 adalah hal penting.

Tapi, bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup adalah hal yang tak kalah penting. Mari bijak. Lindungi diri kita, keluarga dan lingkungan sekitar.

Penulis adalah Ketua PWI Kota Langsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *