Dari ‘Tsunami’, Hingga Hadirkan Terang Untuk Indonesia

Oleh Eddyanto SST

 “TSUNAMI” itu telah berlalu, gelombang protes “akbar” terhadap Perusahaan Listrik Negara (PLN) pun lambat laun sirna. Seiring persuasifnya para petinggi perusahaan plat merah ini dalam menyikapi gelombang gelombang protes tersebut.

Kenapa disebut tsunami dan protes akbar? Ya, jawabannya karena masyarakat pelanggan PLN di hampir seluruh daerah ditanah air dihadapkan dengan kejadian yang sama. Melonjak drastisnya tagihan rekening listrik mereka saat itu atau tagihan sekitar medio Maret atau April 2020.

Lonjakan tagihan listrik yang tidak tedeng aling-aling itu bahkan mencapai 100 persen tersebut diibaratkan para pelanggan PLN sebagai “tsunami” bagi mereka. Tidak terkecuali yang dirasakan masyarakat Kota Langsa, Provinsi Aceh.

Masyarakat atau para pelanggan yang berada di wilayah ujung Timur Aceh ini seakan tak bisa menerima. Mereka harus membayar rekening tagihan listrik dua bahkan tiga kali lipat dari biasanya.

Ironi memang, lonjakan tagihan listrik atau tsunami itu malah terjadi disaat warga sedang dihadapkan dengan pandemi Covid-19. Warga atau pelanggan PLN yang sedang berjuang menghadapi teror pandemi Covid-19 ini yang juga telah memporak porandakan perekenomian mereka. Harus kembali menghadapi beban tagihan rekening listrik yang tinggi menjulang.

Alhasil komplain dan protes wargapun tak terbendung dan salah satu cara yang mereka rasakan efektif dengan “menggeruduk” kantor PLN Langsa Unit Pengaduan Pelanggan.

Puncaknya, 4 Mei 2020, puluhan pelanggan yang didominasi kaum emak-emak atau ibu-ibu mendatangi PLN Langsa. Mereka protes kecewa kesal bahkan marah marah. Ya, sah-sah saja. Apa yang dilakukan emak-emak ini karena memang mereka mencari keadilan dan butuh solusi cepat dari BUMN Plat Merah tersebut.

Walikota Langsa bersama Kepala UP3 PLN Langsa membahas masalah rekening listrik. FOTO h7 – istimewa –

Gelombang protes terhadap PLN inipun tak urung menjadi perhatian serius Walikota Langsa, Usman Abdullah atau yang akrab sapa Toke Seum. Walikota langsung mendatangi Kantor PLN Persero UP3 Langsa guna mencari solusi atas menjeritnya masyarakat dikota yang dipimpinnya itu.

Respon Cepat

Terkait gelombang protes ini, petinggi petinggi PLN inipun bergerak cepat. Media sebagai penyambung lidah dan pemberi informasipun dilibatkan PLN  guna memberikan informasi akurat. Terkait klaim sejumlah pelanggan atas membengkaknya tagihan listrik mereka beberapa waktu lalu.

Manager PT PLN Persero UP3 Langsa, Hariadi Fitrianto dalam kesempatan resminya dengan media, termasuk halaman7.com 8 Mei 2020 lalu menegaskan tidak ada kenaikan tarif listrik sejak  2017.

“Silahkan lapor bila ada ketidakwajaran,” harapnya.

Hariadi Fitrianto menegaskan sejak dari 2017 lalu hingga saat ini 2020, tarif listrik tidak pernah mengalami kenaikan. Ini menjawab polemik dan komplain para pelanggan PLN dan masyarakat  akibat dugaan melonjaknya rekening listrik mereka dimasa covid-19 ini.

“Tarif listrik tetap tidak naik hingga saat ini,” kata Hariadi saat itu.

Namun terkait dengan polemik dan komplain para pelanggan yang mengeluhkan dugaan membengkaknya rekening listrik yang harus mereka bayarkan untuk bulan Maret pada  tagihan bulan April. Lalu April pada tagihan bulan Mei ini.

Hariadi menjelaskan pihak PLN siap untuk membantu dan memberikan penjelasan terperinci kepada masyarakat pelanggan PLN yang melakukan komplain tersebut.

“Silahkan melapor ke PLN untuk dijelaskan dan dikoreksi. Bila memang ada kekeliruan namun tentunya tetap dengan memberikan data akurat yang dapat dipertanggungjawabkan,” kata Hariadi Fitrianto.

Boleh datang langsung ke Kantor PLN terdekat selain itu, dapat juga melaporkan call center PLN 123 dan mendownload aplikasi PLN Mobile di Play Store menggunakan android.

Diakui Hariadi, guna mendukung upaya pemerintah dalam memutus mata rantai Covid-19, pihaknya (PLN-red) tidak melakukan pencatatan meteran pelanggan di bulan Maret dan April 2020 tersebut. Karena para petugas pencatat meter juga menjalankan Protokol Kesehatan terkait Covid-19 ini.

Tambah Hariadi, langkah ini juga sesuai dengan instruksi PLN Pusat dan berlaku secara nasional sesuai SOP. Sekaligus sebagai upaya melindungi pekerja atau petugas pencatat meter dan juga masyarakat luas guna memutus mata rantai Covid-19 ini

Untuk menghitung rekening tagihan listrik pelanggan pada bulan-bulan tersebut. Dimana petugas tidak turun ke lapangan. Pihaknya menggunakan kalkulasi perhitungan rata-rata pada bulan-bulan sebelumnya. Hal ini juga sudah sesuai prosedur yang dilakukan PLN.

Solusi

Menejer PLN UP3 Langsa ini juga memberikan sejumlah solusi terlebih jika kondisi pandemi Covid-19 ini terus berlanjut atau tambah parah.

“Bisa-bisa petugas kita jadi tidak  mencatat lagi,” ujarnya.

Karena itu, solusi yang dapat ditempuh masyarakat atau para pelanggan PLN adalah dengan beralih ke Listrik Pintar atau ke Listrik Prabayar supaya kendali bisa ditangan pelanggan.

Selanjutnya solusi lain masyarakat diminta terus berhemat dalam pemakaian listrik. Pihak PLN sendiri akan tetap mengedepankan transparansi dalam persoalan kelistrikan negara ini.

Sebagaimana diketahui. Saat ini PT PLN Persero UP3 Langsa membawahi lima kabupaten/kota diantaranya ULP Idi, ULP Blangkejren, ULP Langsa. Saat ini juga tercatat ada sebanyak 326.706 pelanggan. Dengan rincian 133.579 pelanggan  pasca bayar dan pelanggan prabayar.

75 Tahun Hadirkan Terang Untuk Indonesia

Sementara itu, Peringatan Hari Listrik Nasional yang jatuh pada 27 Oktober 2020  menandakan 75 tahun perjuangan PLN melistriki negeri.

Saat ini akses listrik bisa dinikmati lebih banyak masyarakat. Terbukti rasio elektrifikasi (RE) nasional sudah mencapai 99,15 persen hingga September 2020.

Rasio elektrifikasi merupakan jumlah perbandingan rumah tangga berlistrik baik listrik PLN maupun non PLN. Dengan total rumah tangga yang ada di suatu wilayah atau negara.

Angka tersebut tumbuh sebesar 11 persen dalam lima tahun terakhir. Dimana pada 2015 lalu, rasio elektrifikasi nasional hanya mencapai 88,3 persen saja.

Hal tersebut sebagai wujud komitmen PLN untuk menghadirkan listrik hingga ke seluruh negeri. Dari perkotaan hingga pedesaan, bahkan hingga daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal).

“75 tahun, insan PLN terus bekerja keras, menghadapi berbagai tantangan untuk mewujudkan energi berkeadilan, menghadirkan terang untuk seluruh masyarakat Indonesia,” kata Direktur Utama PLN, Zulkifli Zaini.

Pertumbuhan RE dari tahun ke tahun, lanjut dia. Sejalan dengan peningkatan jumlah desa yang terlistriki oleh PLN. Dalam lima tahun terakhir, sebanyak 12 ribu desa berhasil dilistriki.

Pada 2015, jumlah desa berlistrik baru sebesar 70.391, meningkat menjadi 83.028 desa berlistrik pada September 2020.

Bangun Infrastruktur Listrik

Pembangunan infrastruktur listrik ke desa-desa terpencil terus dilakukan sebagai upaya meningkatkan RE. Sebagai contoh, pada peringatan Hari Listrik Nasional ke-75 ini, PLN berhasil menghadirkan listrik di 11 desa terpencil di Provinsi Riau.

Sebanyak 6 desa berlistrik di Kabupaten Kampar yang diresmikan antara lain Desa Sungai Santi, Kota Lama, Kebun Tinggi, Lubuk Bigau, Tanjung Permai, dan Desa Pangkalan Kapas.

Sedangkan 5 desa lainnya berada Kabupaten Indragiri Hilir yaitu Desa Sepakat Jaya, Kuala Sungai Batang, Bakau Aceh, Bantayan, dan Desa Batang Tumu.

Demi mewujudkan 11 desa berlistrik tersebut. PLN menggelontorkan dana sebesar Rp29,9 miliar untuk membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 59,35 kilometer sirkuit (kms). Jaringan Tegangan Rendah (JTR) 39,61 kms dan gardu distribusi sebanyak 19 buah dengan total daya 1.150 kiloVolt Ampere (kVA). Hadirnya listrik di 11 desa tersebut kini hampir 1.000 kepala keluarga dapat menikmati listrik.

Selain itu, upaya membangun jaringan listrik ke daerah 3T juga dilakukan di Sulawesi Tengah. Menjelang HLN ke-75 lalu, PLN juga berhasil melistriki empat desa yaitu di Desa Winangabino, Lijo, Sea dan Desa Parangisi yang berada di Kabupaten Morowali Utara.

Untuk melistriki empat lokasi terpencil ini. PLN mengeluarkan dana investasi sebesar Rp12,8 miliar untuk membangun JTM sepanjang 32,5 kms, JTR sepanjang 6,5 kms dan gardu distribusi sebanyak 6 buah dengan total 300 kVA. Serta memiliki potensi pelanggan sebanyak 515 kepala keluarga dengan lebih dari 1.800 penduduk.

Sambung Listrik Gratis

Selain membangun infrastruktur kelistrikan. PLN juga bekerja sama dengan banyak pihak untuk melakukan penyambungan listrik gratis bagi masyarakat tidak mampu.

Sebagai contoh, di Provinsi Kalimantan Utara, PLN bersama pemerintah daerah dan beberapa perusahaan tambang melakukan penandatanganan penyambungan listrik untuk 50.000 warga Kalimantan Timur yang belum menikmati listrik.

“Kami menyadari listrik merupakan kebutuhan utama masyarakat. Hadirnya listrik akan meningkatkan produktifitas dan menggerakan roda ekonomi. Sehingga akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat,” tutur Zulkifli seraya PLN juga akan mendorong pemanfaatan potensi lokal yang ada.[]

(Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Karya Jurnalistik Aceh Electrical Festifal, 75 Th Hari Listrik Nasional 2020)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *