Tantangan Mengubah Alam Menjadi Potensi Energi

Oleh: Aji Setiawan

JAGAD semesta yang berupa air, udara, bumi, matahari dan ruang semesta menyimpan potensi energi yang luar biasa. Dengan energi, penduduk bumi mengubah bahan bakar menjadi penggerak mesin industri, transportasi yang mengubah peradaban dunia.

Aji Setiawan

Listrik menjadi penerang dan pendorong industri maju yang membuat mesin industri bergerak 24 jam. Energi surya dan energi terbarukan lainnya adalah kebutuhan energi masa depan pengganti energi fosil yang lebih ramah lingkungan.

Penggunaan energi di dunia akan terus meningkat. Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Guna memenuhi kebutuhan, tak cukup hanya dengan mengandalkan energi fosil. Diperlukan juga sistematis untuk mengembangkan potensi energi baru dan terbarukan.

Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat konsumsi energi terbesar di dunia. Meskipun demikian, potensi besar tersebar luas di negeri ini.

Potensi tersebut berupa panas bumi, bahan bakar nabati, coal bed methane (CBM), tenaga air, matahari, hingga angin.

Untuk mengatasi ancaman defisit energi di masa depan. Pengembangan energi baru dan terbarukan (renewable energy) di Indonesia menjadi sebuah keniscayaan. Apalagi, potensi yang dimiliki Indonesia sangat berlimpah. Setiap orang harus menjaga kelestarian alam melalui aplikasi teknologi mikrohidro sebagai alternatif energi terbarukan.

Di Indonesia pada 2021 total penduduk 110 juta dari 265 juta penduduk yang tersebar dari 33 ribu desa belum mendapatkan penerangan. Solusi yang dapat dilakukan adalah dengan membuat energi bersih dan distribusi dilakukan secara merata.

Sebab jika distribusi tidak merata. Maka dapat menyebabkan naiknya kemiskinan. Terdapat tiga tingkatan energi daya terbarukan, yakni rendah di bawah 500 KW, medium antara 500 KW sampai 1,5 MW dan tinggi di atas 1,5 MW.

Indonesia memiliki banyak potensi daya kecil, terutama di desa-desa. Meskipun kecil, namun dapat memberikan penerangan kepada lima rumah. Cara mewujudkannya berbeda-beda antar tingkatan.

Tingkatan daya rendah dapat dilakukan dengan sistem hibah. Tingkat medium dengan pemberdayaan masyarakat di desa yang memiliki Sumber Daya Alam (SDA). Tingkatan tinggi yang minimal 1,5 MW dapat diwujudkan melalui investor. Perlu menjadi catatan bahwa para investor harusnya tidak hanya mementingkan profit semata. Melainkan juga kelangsungan hidup penduduk lokal sebagai pemilik SDA di daerahnya.

Luasnya lautan di Indonesia jangan sampai diambil alih pihak luar negeri atau investor. Karenanya, perlu ditingkatkan skill masyarakat untuk mengolahnya menjadi energi. Di masa sekarang, haruslah mengedepankan kerjasama antar pihak, sebab sudah saatnya menggunakan paradigama keadilan.

Perlu kemampuan yang tepat sebelum membangun rancang konstruksi energi. Dengan adanya skill yang dimiliki masyarakat, maka dapat mempermudah mereka dalam mengelolanya. Pihak pemerintah dapat mengelola uang negara untuk mengelola sumber daya yang pro dengan masyarakat lokal agar membangun demokratisasi di negeri kita.

Artinya, kedaulatan energi dibuat dan diperlukan sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan masyarakat lokal setempat (localy wisdom). Rancang bangun energi, dengan dukungan sistem demokrasi lokal, akan menumbuhkan kesinambungan (keberlanjutan) energi yang lebih partisipatif warga negara dan sekaligus mendapat dukungan kebijakan lokal.

Dengan membangun kebutuhan lokal (pendekatan geografis) yang belum teraliri listrik bahkan distribusi bbm yang tidak merata. Pemerintah bisa mendistribusikan rasa keadilan kepada seluruh rakyat Indonesia. Perlu dibangun, potensi energi berdasar potensi alam dan sumberdaya lokal (setempat).

Sebutlah untuk potensi anginnya tinggi, dikembangkan energi kincir angin. Potensi energi aliran airnya deras, dikembangkan pusat energi listrik tenaga listrik lokal dengan tenaga mesin turbin. Pun dengan energi lainnya seperti panas bumi, uap, matahari sampai energi sampah.

Banyak orang menganggap sampah menjadi suatu permasalahan. Paradigma tersebut haruslah dirubah. Sebab sampah sesungguhnya memiliki potensi besar menjadi biogas yang dapat dimanfaatkan manusia.

Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa teknologi dalam mengelolanya. Tidak hanya sampah, seperti kelapa sawit, enceng gondok, dan sisa kotoran hewan dapat juga dikelola menjadi energi. Limbah dapat berbentuk cair maupun padat yang pengelolaannya dengan beberapa metode yang berbeda.

Limbah padatan dapat dilakukan dengan model pretreatment. Seperti sand removal, vibrating screen for fiber rennoval, thermo pressure hydrolysis, chemical treatment. Sedangkan limbah cair seperti limbah tahu dapat diolah secara aerobic.

Di rumah, kantor, hingga sekolah sudah seharusnya mulai dilakukan kebiasaan memilah sampah menjadi beberapa macam. Seperti sampah organik, sampah plastik, sampah kertas. Hal ini yang nantinya mempermudah untuk diolah menjadi energi.

Cara konversi sampah menjadi energi ada beberapa hal teknologi. Antara lain Biological conversation, chemical conversation, thermo chemical conversion, dan physical conversion. Sampah jika dikelola dapat menjadi energi listrik atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

Teknologi pirolisis menjadi salah satu langkah praktis yang dapat dilakukan untuk mengolah sampah. Baik plastik atau ban yang jika didiamkan saja maka tanah butuh waktu ratusan tahun dalam mengurainya.

Pusat riset dan praktik dari Perguruan Tinggi saatnya dirangkul untuk mengelola sampah-sampah yang ada, salah satunya sampah plastik. Yang harus ditekankan adalah selain menyiapkan teknologi. Kita harus juga menyiapkan masyarakatnya dengan melakukan pemberdayaan.

Tentu banyak stake holder pelaku penyiapan energi masa depan untuk bersinergi. Baik dari pemerintah, swasta, perguruan tinggi, masyarakat, LSM, aktivis lingkungan dll.
Pekerjaan rumah masa depan adalah menemukan dan mewujudkan energi masa depan yang lebih ramah lingkungan. energi ramah lingkungan itu sesungguhnnya sering dan dapat dijumpai dengan memberdayakan potensi-potensi energi lokal yang ada di daerah itu (local potensial energy wisdom). Perlu sinergi bersama untuk mewujudkan kedaulatan dan kemandirian energi masa depan.[]

Penulis, Alumnus UII Jogjakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *