60 Persen Sumber Media Meinstrem dari Medsos, Standar Jurnalistik Makin Rendah

halaman7.com – Banda Aceh: Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat, Nurjaman Mochtar mengungkapkan, saat ini media meinstrem lebih 60 persen sumber beritanya dari Media Sosial (Medsos). Kecenderungan ini kian hari kian terasa, hingga merubah pola reportase dari seorang wartawan.

Maka tidak heran, jika satu media online yang didirikan dan hanya di kelola oleh tiga orang saja, konten atau beritanya selalu penuh. Karena, cukup dengan mem-follow sejumlah akun di medsos, media tersebut dapat mengisi halaman di medianya.

Ke depannya, bukan tidak mungkin, salah satu reportase seperti temu pers, akan hilang. Buktinya saja, saat ini presiden saja, memberikan materi konferensi pers lewat chanel medsos, lewat akun YouTube.

“Ini sudah dirasakan media besar di Indonesia, termasuk televise yang banyak memiliki konten online. Tidak hanya mengandalkan sinetron saja,” tegas Nurjaman dalam Safari Jurnalistik yang diselenggarakan PWI Pusat lewat zoom metting, Kamis 2 September 2021.

Pemred Sariagri.id ini juga mengatakan, hanya media yang mampu menyesuaikan dengan kondisi zaman yang mampu bertahan di era digital saat ini. Sebab, semua bentuk penyiaran bisa tersaja didalam satu kanal.

“Nyamuk adalah hewan purba. Namun, mampu bertahan hingga saat ini, karena mampu menyesuaikan dengan perkejmbangan zaman,” ujar Nurjaman memberi ilustrasi.

Standar Jurnalistik Rendah

Pemred Kumparan.com, Arifin Asydhad mengungkapkan, saat ini banyak media online hanya mengejar pageviews. Hal ini dilakukan dengan cara clickbait, mencuri konten atau mengutip Medsos.

“Jika ini dilakukan, maka standar jurnalistik akan rendah. Media tersebut hanya bertahan distu-situ aja dan akan sulit berkembang,” ujar Arifin.

Di era digital atau 5.0 G, kolaborasi adalah salah satu ‘kewajiban’. Ini guna memperkaya konten. Makanya, kumparan, banyak bekerjasama dengan banyak media lokal di berbagai daerah. Jadi, tidak saja asal comot dari media lokal tersebut.

“Jadi Medsos bagi kami, bukan sasaran utama. Namun Medsos itu hanya untuk menaikan breand media (meinstrem) itu sendiri,” ujar Arifin.

Untuk itu, Arifin mengatakan, untuk mengembalikan standar jurnalistik, maka konfirmasi itu hal yang paling penting. Tidak hanya mengandalkan kecepatan. Sebab, akurasi lebih penting dari pada hanya sekedar kecepatan.

Dalam peningkatakan SDM, lanjutnya, kumparan juga tidak asal menerima wartawan. Kualitas wartawan juga menjadi hal yang penting. Makanya, 80 persen wartawan kumparan itu telah lulus Uji Kompetensi.

Safari Jurnalistik yang dimoderatori, Direktur Jurnalisme Indonesia PWI Pusat, Ahmed Kurnia ini, juga menghadirkan narasumber Ketua Umum PWI Pusat, Atal S Depari. Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Usman Kansong serta dari PT Astra.[andinova | red 01]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *