Demi Shalat di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, H Teguh Gowes dari Klaten, Jawa Tengah

Catatan: Iranda Novandi

USIA bukanlah ukuran dari kemampuan seseorang. Meski semangat masih berkobar, tetap semangat untuk bisa melangkah mekain hanya selangkah.

Meskipun helaian putih sudah menghiasi mahkota, keriput membalut kening dan pipi, semangat yang diperlihatkan H Teguh Mukti Widodo (61 tahun) bukanlah hanya isapan jempol belaka. Namun terbukti bisa.

Dengan modal sepeda yang dibelinya Seharg Rp570 Ribu, H Teguh membulatkan niatnya untuk bisa bersujud di mihrab Masjid Raya Baiturrahman.

Hal itu dilakukannya bukanlah dengan mudah dan sangat gampang. Melainkan harus mengowes dari Klaten, Jawa Timur menuju kilometer Nol Indonesia, di Pulau Weh, Sabang.

“Niat saya hanya ingin shalat dan bersujud di lantai Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Serangkan ke Sabang, hanya bagian pelengkap dari niat suci ini,” ujar H Teguh saat bertemu di salah satu cafe rest area di kawasan Saree, Aceh Besar, Senin 21 Februari 2022, sore.

Kenapa harus ke Masjid Raya Baiturrahman? “Saya mau tobat dan mohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa saya,” ujar Teguh dengan mata menerawang jauh seakan mengenang perjalan hidupnya yang penuh dinamika.

Lelaki kelahiran Surabaya, 1 Desember 1961 ini bukanlah orang yang tak mampu. Melainkan Ia merupakan seorang pengusaha Keramik di Klaten. Berkat usahanya yang maju, pada 2002, Teguh menunaikan ibadah haji.

Namun, Allah memberikan ujian berat padanya. Prahara rumah tangga merusak semua kejayaan bisnis yang sudah sangat sukses. Pada 2017 selepas berpisah dengan sang istri, Teguh melalang buana ke kawasan Tengah dan Timur Indonesia dengan menggunakan sepeda motor pinjam dari temannya.

Berkeliling Pulau Kalimantan, Sulawesi dan Papua terpaksa di hentikannya ketika pandemi Covid-19 mendera negeri tercinta ini. Dan dia pun kembali ke Klaten.

Baca Juga  Danramil Perintah Babinsa Monitor Pasar dan Harga Sembako

Setelah pandemi sedikit mereda, niatnya untuk ke Aceh semakin tinggi. Semula ingin naik sepeda motor. Namun, diurungkan, karena dalam benaknya itu sangat mudah untuk bisa dilakukan. Maka dipilihlah untuk bersepeda.

Hanya saja, saat itu H Teguh belum bisa menggunakan sepeda. Tetapi karena tekadnya telah bulat, maka dibelilah sepeda pada ulang tahunnya ke 60, 1 Desember 2021. Sehari setelah membeli sepeda seharga Rp570 Rb itu, Teguh terus belajar sekuat tenaga untuk bisa mengayuh sepeda dengan baik.

Hingga tibalah waktunya, pada 20 Desember 2021, Teguh mulai mengayuh sepedanya dari kampung halamannya. Hanya bermodal uang sekedarnya, baju kaos 4 lembar dan satu selimut yang dikemas dalam tas dan di ikat dibagian belakang sepeda.

“Hari pertama, kedua dan ketiga, saya masih keluarkan uang untuk beli makanan dan minuman. Namun, sejak hari ke empat selalu saja ada orang yang membantu untuk memberi makan, minum dan tumpangan, tempat istirahat atau tidur,” ujarnya.

Meskipun banyak orang menawarkan tempat istirahat atau tidur di banyak daerah, namun banyak yang ditolaknya, Teguh lebih memilih untuk istirahat di SPBU di kota yang dilaluinya.

“Seperti hari ini, saya akan istirahat di SPBU Saree,” ujarnya.

Teguh juga terlihat dengan pasih menyebutkan nama-nama daerah yang sudah dilaluinya meskipun itu dalam bahasa daerah setempat.

“Besok saya mau istirahat di Blang Malu, Pidie. Ini perjalanan pulang, jadi saya tak miliki target. Minimal sehari 40 km saya jalani,” ujar bapak satu anak ini.

Dalam perjalanan pergi dengan jarak tempuh kurang lebih 3.000 km dari Klaten ke Sabang. H Teguh, sempat 4 kali bocor ban dan sekali harus ganti ban dalam sepeda. Bahkan di satu kabupaten di pulau Jawa, pernah menawarinya menggunakan sepeda lebih layak, namun di tolaknya dengan halus.

Baca Juga  Personel Polresta Banda Aceh dapat Masker Hasil Infak Sendiri

“Alhamdulillah, pada 17 Februari lalu saya tiba di Banda Aceh dan langsung malam itu ke masjid Raya Baiturrahman,” ujarnya.

Ke Esokan harinya langsung ke Sabang. Setelah dua hari (18-19 Februari 2022) berkeliling pulau Sabang, ia pun melanjutkan misi balik ke Klaten. Setelah nginap di Banda Aceh, pada 21 Februari selepas subuh, H Teguh kembali melanjutkan gowes untuk balik ke Klaten.

21 Februari 2022 sore, saya bersama dua teman yang sedang dalam perjalanan ke Bireuen, saat melintas di Saree, terlihat H Teguh gontai mengayuh sepedanya. Di belakang sepeda tertulis Klaten ke Sabang.

Kamipun mencari rest area di Saree untuk menunggu H Teguh. Biar bisa mengajaknya istirahat dan makan minum. Dari rest area itulah, bibir teguh bercerita perjalanan hidupnya yang panjang penuh liku, sepanjang jalan yang ditempuhnya saat mengayuh sepeda.

Butuh Dirawat
Sebelum berpisah, saya lontarkan pertanyaan.
Pertama, bagaimana Indonesia dimatanya. “Indonesia sangat Indah”
Kedua, bagaimana Aceh dimatanya. “Sayang, Aceh butuh dirawat”.

Jawaban tentang Aceh itu, sudah sangat dalam dan bisa multi tafsir. Hingga saat ini, jawaban itu masih berkecamuk dibenak ku.

Selamat jalan Pak Teguh. Semoga Allah melindungi mu dalam perjalan pulang le Klaten dan bisa bertemu kembali dengan keluarga dengan hati yang kembali suci, setelah terbasuh wudhuk di Baiturrahman.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.