News, Opini  

Cinta Karena Allah

Oleh: Aji Setiawan

DI antara kebaikan sifat umat Nabi Muhammad SAW dan kekhususan-kekhususannya ialah bahwa Allah SWT berkenan mengaruniakan ganjaran pahala yang besar dan kebajikan yang banyak kepada orang Muslim yang mencintai saudaranya sesama Muslim, demi karena Allah SWT semata’mata. Tidak bertujuan dan tidak bermaksud selain itu.

Aji Setiawan

Jika hal itu terbukti dalam kenyataan, itu berarti orang yang bersikap demikian sudah bertambah kuat keimanan dan keyakinannya. Hingga seolah-olah ia sudah dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri hakikat iman dan merasakan adanya sinar memancar di dalam hatinya.  Ia dapat mengetahui soal-soal khusus yang tidak dapat diketahui siapa pun, kecuali orang yang telah membuktikannya sendiri.

Itulah makna ucapan Nabi Muhammad SWA yang menyatakan: “Jika tiga hal ada pada seseorang, dengan tiga hal itu ia dapat merasakan betapa manisnya (lezatnya) iman.

(1) Orang yang lebih mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya daripada kecintaannya kepada selain yang dua itu;

(2) Orang yang mencintai seorang budak dan kecintaannya kepada budak itu semata-mata demi karena Allah;

(3) Orang yang tidak mau kembali menjadi kafir setelah ia diselamatkan Allah dari kekafirannya. Dalam hal itu ia sama dengan orang yang tidak mau dicampakkan ke dalam api (neraka).”

Orang beriman yang mencintai saudaranya seiman demi karena Allah SWT, di akhirat kelak akan diseru (dipanggil) Al-Maula Jalla Sya’nuhu (yakni Allah) di tengah hamba-hamba-Nya sebagai para saksi: “Manakah orang-orang yang saling mencinta demi kemuliaan-Ku, pada hari tiada naungan (dziil) selain naungan-Ku?” (Diriwayatkan Al-Bazzar dengan isnad hasan (baik).

Mencintai karena Allah SWT, di akhirat kelak akan menempatkan orang yang terkait di bawah naungan ‘Arsy Tuhan, pada hari tiada naungan selain naungan Allah SWT. Mengenai itu sebuah hadits menuturkan: “Tujuh (golongan manusia) akan beroleh naungan Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya. Di antara mereka terdapat dua orang yang saling mencintai demi karena Allah, berkumpul karena Allah, dan berpisah karena Allah.”(HR Bukhari: No.620 dan 1334, Muslim: No.1712, Tirmidzi: No. 2313 dan Nasai: No.5285)

Baca Juga  Bupati Lepas 52 Kafilah Aceh Timur ke MTQ XXXV di Bener Meriah

Allah SWT juga berfirman: “Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istri keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (QS At-Taubah:24).

Ayat itu menegaskan, seorang hamba Allah hendaknya lebih mencintai Zat Yang Maha Agung daripada lain-lain.

Allah telah menganugerahkan perasaan cinta kepada manusia, lengkap dengan akal untuk mempertimbangkannya. Cinta pada dasarnya adalah fitrah kemanusiaan. Ini berupa dorongan perasaan dan gejolak hati dari seorang untuk menggapai sesuatu dengan penuh kelembutan, kasih sayang, dan kegairahan.

Karena cinta adalah fitrah, berarti wujud awal cinta adalah suci. Tetapi persoalannya, kerap kali cinta menjadi sebuah bumerang, malapetaka dan kehancuran. Itulah akibatnya kalau cinta tanpa dituntun akal sehat.

Peranan akal yang dituntun hidayah – Alquran dan Sunah – diperlukan untuk mengefektifkan arah cinta. Tanpa itu, cinta akan sia-sia belaka.

Rasulullah menjelaskan, “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka seluruh yang ada di langit akan mencintai orang tersebut. Sebaliknya, jika Allah membenci, maka bencilah seluruh penduduk langit dan bumi, termasuk Malaikat Jibril.” (HR Bukhari-Muslim).[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.