Surat Terbuka Anak Korban Konflik pada Jokowi tentang Pj Gubernur Aceh

Catatan: Cut Tania Safira

ANAK korban konflik (anak yang lahir pada masa konflik) meminta dengan sangat rendah hati kepada Presiden RI dan Menteri Dalam Negeri untuk mengirimkan seorang Pj Gubernur yang berlatarbelakang darah Aceh.

Sebagai anak yang lahir saat konflik Aceh-Indonesia berkecamuk pada 2001 dan juga merasakan dampak buruk dari terjadinya konflik tersebut.

Saya tentu ingin menyampaikan rasa trauma kepada Bapak Presiden. Agar mengirim sosok pemimpin yang ideal untuk menjadi Pj Gubernur Aceh

Dengan adanya calon Pj Gubernur berlatarbelakang darah Aceh dan berpendidikan tinggi. Kami anak korban konflik akan besar harapan bisa pulih kembali mental health kami. Sekaligus merasa nyaman dan tenang dengan hal yang selama ini membuat kami trauma.

Seperti yang kita ketahui permasalahan Aceh saat ini adalah tingkat kemiskinan di Aceh meningkat. Ironisnya pada 2021 besaran dana Otsus Rp11,430 triliun.

Begitu besarnya angka dana Otsus tetapi tidak sampai dampaknya hingga ke desa-desa. Mengakibatkan banyak warga, korban konflik hidup dibawah garis kemiskinan.

Berdasarkan data dari BPS pada September 2021. Jumlah penduduk miskin di Aceh sebanyak 850,26 ribu orang atau 15,53% bertambah 16.000 orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2021 yang jumlahnya 834,24 ribu orang

Ditambah lagi, salah satu permasalahan pendidikan di Aceh saat ini ialah tidak menunjukkan kurikulum yg mengangkat identitas ke-Aceh-an. Yaitu Muatan Lokal (Mulok) Bahasa Aceh. Hal ini menjadi ancaman akan tergerusnya nilai adat istiadat ke-Acehan.

Harapan kami anak korban konflik adalah terpilihnya seorang Pj Gubernur berdarah Aceh yang mau dan bisa memahami hal-hal ini. Sosok seseorang yang bisa membangun hubungan sosial emosional yang baik dengan kami.

Baca Juga  85 Warga Langsa Terima Stimulan UEP Pertanian

Seseorang yang mengerti dan peduli betul terhadap sejarah kebudayaan, pendidikan, ekonomi dan masa depan. Juga tetap mempertahankan misi perdamaian Aceh.[]

Penulis, Mahasiswa Hubungan internasional Universitas Almuslim, Bireuen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.