halaman7.com – Aceh Besar: Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) Aceh Besar menggelar diskusi interaktif bagi anak-anak muda di wilayahnya untuk bertukar pikiran dan merefleksikan perjalanan 20 tahun perdamaian Aceh.
Diskusi yang diikuti lebih dari 100 peserta itu digelar di Kantor Dekranasda Aceh Besar, Gampong Gani, Kecamatan Blang Bintang, Kecamatan Aceh Besar, Senin 20 Oktober 2025
Diskusi ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Deputi 1 Badan Reintegrasi Aceh, Fauzan Azima dan Dosen Ilmu Politik FISIP USK, Iqbal Ahmady. Sementara jalannya diskusi dipandu dengan apik oleh Saifullah Abdulgani atau akrab disapa SAG.
Fauzan Azima mengatakan, sebagai mantan panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Gayo, mengaku perdamaian Aceh merupakan nikmat yang harus disyukuri oleh semua pihak.
Dahulu, katanya, harus berjuang dan bergerilya ke hutan. Bukan hanya untuk berperang, tetapi juga berjuang menyadarkan masyarakat tentang ideologi Aceh.
Jaga & Rawat
“Damai yang kita rasakan hari ini harus kita jaga dan rawat, namun bukan berarti perjuangan sudah berakhir,” kata Fauzan.
Menurut Fauzan, perjuangan Aceh pasca-perdamaian justru jauh lebih besar dibandingkan masa konflik. Ia menilai masih banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan semua pihak, terutama kaum muda, untuk mewujudkan Aceh yang lebih baik.
Sejarah Panjang
Sementara itu, Dosen Ilmu Politik USK Iqbal Ahmady mengingatkan kembali sejarah panjang kaum muda yang berperan besar dalam mewujudkan perubahan di negeri ini. Mulai dari Sumpah Pemuda 1928, kemudian gerakan Rengasdengklok 1945 yang memicu proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Selanjutnya, kaum muda juga mengambil peran penting pasca-kemerdekaan. Pada 1966, pemerintahan Orde Lama yang membuat kondisi negeri carut-marut berhasil runtuh lewat gerakan kaum muda.
Bahkan pada tahun 1998, gerakan mahasiswa kembali mencatat sejarah dengan menggulingkan pemerintahan Orde Baru di bawah rezim Soeharto yang diktator.[ril | Antoedy]

















