Mantan Kepala BRR Reg I Aceh-Nias: Penanganan Bencana Tidak Boleh Dilakukan Secara Reaktif

Ruslan saat bicara di acara diskusi bersama unsur pemerintah daerah Kabupaten Aceh Tengah dan masyarakat di Aula Badan Keuangan Aceh Tengah.[FOTO: h7 - dok kna]

halaman7.com – Aceh Tengah: Tokoh masyarakat Gayo ahli  bidang Lingkungan. Ir Ruslan Abdul Gani Dpl SE menegaskan meningkatnya bencana alam di Aceh tidak terlepas dari kerusakan lingkungan dan perubahan keseimbangan alam akibat aktivitas manusia.

Karena itu, penanganan bencana tidak boleh dilakukan secara reaktif dan panik, tetapi harus berbasis ilmu pengetahuan, data teknis, serta kearifan lokal.

Hal tersebut disampaikan Ruslan yang juga Mantan Kepala BRR Reg I Aceh-Nias, dalam forum diskusi bersama Keluarga Negeri Antara (KNA) dengan unsur pemerintah daerah Kabupaten Aceh Tengah dan masyarakat di Aula Badan Keuangan Aceh Tengah, Takengon, Sabtu 10 Januari 2026.

Ruslan mengutip Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 41 yang menyebutkan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat perbuatan tangan manusia, sebagai peringatan agar manusia kembali ke jalan yang benar dan menjaga alam.

Menurut Ruslan, perpindahan tanah dari kawasan gunung ke sungai dan laut, kerusakan hutan, serta perubahan struktur lempeng bumi telah memperbesar risiko banjir, longsor, dan gempa. Aceh sendiri berada di jalur sesar aktif dan memiliki sejumlah gunung api, sehingga membutuhkan perencanaan mitigasi jangka panjang yang serius.

Ruslan menilai kebijakan relokasi warga harus dikaji secara matang karena berdampak sosial dan ekonomi besar. Sebagai alternatif, pemerintah didorong untuk melakukan normalisasi sungai, pembangunan tanggul, konsolidasi lahan, serta penataan ruang yang lebih adaptif terhadap bencana.

Manta Bupati Bener Meriah ini juga mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali kearifan lokal. Seperti pembangunan rumah panggung yang terbukti mampu mengurangi risiko banjir sejak zaman leluhur masyarakat Aceh dan Gayo.

Dalam aspek pemulihan lingkungan, Ruslan mengusulkan rehabilitasi hutan secara masif dengan tanaman aren. Selain memiliki akar kuat yang mampu menahan erosi dan menjaga bantaran sungai, aren juga memiliki nilai ekonomi tinggi karena produk gula aren diminati pasar internasional.

Baca Juga  Jalan Blangkejeren - Kutacane Lumpuh Total

“Mitigasi bencana tidak cukup dengan proyek jangka pendek. Harus dirancang sebagai program besar, melibatkan dukungan nasional bahkan internasional, agar keberlanjutan lingkungan dan keselamatan masyarakat benar-benar terjamin,” tegas Penasehat KNA ini.

Mantan Kepala BRR Aceh Nias pascatsunami Aceh ini juga mendorong pengawasan yang lebih ketat terhadap aktivitas di kawasan rawan bencana, seperti daerah danau, lereng gunung, dan kawasan hutan. Agar tidak terjadi pelanggaran tata ruang yang memperbesar risiko bencana.

Pertemuan tersebut turut serta Sekda Aceh Tengah, Bappeda Aceh Tengah, SKPK dan pihak terkait dengan kebencanaan.[ril | red 01]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *