Abiya Jeunieb, Lelaki Ceking Ayah 500 Anak Yatim di Bireuen

Abiya Jeunieb

TUBUHNYA kurus alias ceking. Wajahnya sering terlihat lelah. Langkahnya pelan. Namun di balik fisik yang tampak rapuh itu,dia adalah sosok seorang ulama dengan hati seluas samudera.

Namanya Teungku Muhammad Yusuf Nasir, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Abiya Jeunieb. Di Dayah Rauhul Mudi Al-Aziziah, Lancang Raya, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen, Abiya menjadi ayah bagi sekitar 500 anak yatim piatu dan anak terlantar.

Lima ratus anak. Lima ratus masa depan. Lima ratus amanah yang beliau jaga setiap hari.

Mengasuh 500 Anak

Mengurus ratusan anak bukan perkara ringan. Kelelahan menjadi bagian dari keseharian.

Tak jarang Abiya harus diinfus karena kelelahan. Namun saat ditanya mengapa beliau tetap bertahan, jawabannya selalu sederhana namun penuh keyakinan.

“Rezeki anak-anak itu sudah Allah takar, tidak akan tertukar,” ujarnya.

Kalimat itulah yang membuat beliau tetap berdiri, meski tenaga sering melemah.

Dayah yang Menjadi Rumah

suasana di Dayah Rauhul Mudi Al-Aziziah

Di dayah itu, anak-anak yatim tidak diperlakukan sebagai beban. Makan mereka ditanggung, pakaian mereka disiapkan, sekolah mereka diurus bahkan uang jajan pun diperhatikan.

Abiya memastikan tidak ada satu pun anak yang merasa hidupnya “kurang” hanya karena mereka kehilangan orang tua.

Beliau bahkan sering makan bersama anak-anak yatim tersebut. Di beberapa kesempatan, Abiya terlihat menyuapi anak-anak satu per satu, seolah mereka adalah anak kandungnya sendiri.

Hati Seorang Ayah yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Ketika Abiya keluar berdakwah selama dua atau tiga hari, pikirannya tetap tertambat pada anak-anak dayah.

Pertanyaan yang paling sering beliau ucapkan:

“Apakah anak-anak sudah makan?”

Pertanyaan itu bukan sekadar kebiasaan, melainkan bentuk cinta seorang ayah yang tak ingin anak-anaknya merasa sendirian.

Baca Juga  Abiya Jeunieb Layak Jadi Bupati Bireuen ke Depan

Mengasuh 500 anak tentu membutuhkan biaya besar. Sebagian berasal dari dana pribadi Abiya, sebagian lagi dari para donatur yang memilih tidak disebut namanya.

Menurutnya, ada yang mengirim sedekah harian, ada yang bulanan dan ada juga yang tahunan.

Bahan, dukungan datang dari dalam negeri hingga luar negeri, dari grup WhatsApp kecil, hingga individu-individu yang diam-diam peduli.

Mereka mungkin tak dikenal publik. Namun kebaikan mereka hidup di piring-piring makan anak yatim setiap hari.

Di balik keteguhan imannya, Abiya tetap manusia biasa. Ada satu kalimat yang sering beliau sampaikan dengan suara lirih.

“Kalau kelak aku mati, tolong berikan mereka makan, pakaian, dan kasih sayang,” pesan Abiya

Kalimat itu bukan tentang ketakutan, Itu tentang cinta. Cinta seorang ayah yang tidak ingin anak-anaknya kehilangan pelindung untuk kedua kalinya.

Menjaga 500 Masa Depan

Di Dayah Rauhul Mudi Al-Aziziah, anak-anak tidak hanya belajar agama dan sekolah formal. Mereka juga belajar arti keluarga. Dayah menjadi rumah dan para penghuninya adalah keluarga atau saudara.

Di rumah itu, ada seorang lelaki kurus yang setiap hari berdiri di antara lelah dan cinta—menjaga 500 masa depan anak yatim agar tetap menyala.[Muzakir Jeumpa | red 01]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *