halaman7.com – Banda Aceh: Maraknya Gelandangan dan pengemis (Gepeng) di Banda Aceh akhir-akhir ini, ternyata didominasi para Gepeng impor dari luar Kota Banda Aceh.
Kepala Dinas Sosial melalui Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, TM Syukri SSos MAP mengakui hal itu. Dimana dari hasil penertiban yang dilakukan, 90 persen gepeng tersebut berasal dari luar Banda Aceh.
“Dari 10 orang gepeng yang kita tertibkan, hanya satu orang warga Banda Aceh,” ujar Syukri, Senin 27 Juli 2020.
Dikatakan, penertiban gepeng dilakukan pada Kamis 23 Juli 2020 lalu. Melibatkan Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh. Hasilnya 10 gepeng yang sedang beraksi terjaring di persimpangan dan sudut Kota Banda Aceh.
“Penertiban bersama Satpol PP dan WH ini berdasarkan perintah walikota di beberapa titik. Seperti di Jambo Tape, Simpang BPKP, Simpang Tiga dan di sekitaran Neusu,” kata Syukri.
Kata Syukri, dari 10 gepeng tersebut, didominasi warga pendatang dari luar kota. Sekarang, mereka sedang dilakukan pembinaan di Rumah Singgah Dinsos di Gampong Lamjabat, Kecamatan Meuraxa.
“Kita melakukan pembinaan lebih seperti biasannya dan mereka akan dibebaskan setelah lebaran sesuai dengan arahan pak wali kota,” kata Syukri.
Rp4 Juta/Orang
Selain pembinaan, Syukri mengatakan upaya lainnya yang diberikan yaitu bantuan sosial penyandang disabilitas bagi penyandang tuna netra. Anak dengan kecacatan (ADK) dan orang dengan kecacatan berat (ODKB) .
“Bantuan ini diberikan untuk setiap tahunnya sebesar Rp4 juta per orang. Bantuan ini diberikan dengan harapan penyandang disabilitas tidak turun kejalan untuk meminta-minta lagi,” kata Syukri.
Syukri menegaskan, untuk Gepeng yang telah mendapatkan bantuan tersebut akan dipertimbangkan kembali pemberian bantuan di tahun depan jika kedapatan masih turun ke jalan untuk meminta-minta.
Ia juga berharap, untuk pengguna jalan serta masyarakat Kota Banda Aceh agar tidak memberi dalam bentuk apapun kepada Gepeng yang meminta-minta.[ril | red 01]

















