Forum PRB Ajak Semua Pihak Kurangi Risiko Bencana

halaman7.com – Banda Aceh: Bencana alam banjir akibat tingginya intensitas curah hujan telah mengepung hampir seluruh kecamatan di Kota Banda Aceh, dan sebagian di Kabupaten Aceh Besar, sejak Jumat lalu. Lebih ironis lagi, banjir kali ini telah memaksa warga mengungsi karena rendaman air di permukiman sudah sangat tinggi.

Meskipun sejak Sabtu, 9 Mei 2020 di beberapa lokasi banjir sudah mulai surut, namun di beberapa wilayah seperti di Gampong Garot, Aceh Besar dan beberapa titik lokasi lainnya masih belum menunjukkan tanda-tanda air akan surut. Bahkan hingga saat ini hujan masih terus terjadi, dan BMKG memperkirakan hingga tiga hari ke depan masih akan turun hujan dengan intensitas sangat lebat dan ekstrim.

Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (Forum PRB) Aceh, Nasir Nurdin menyatakan, banjir yang terjadi di beberapa wilayah bukan saja meluas, akan tetapi berimbas dari wilayah hulu sungai ke pemukiman penduduk yang berada di hulu sungai, terutama yang berada di dekat Daerah Aliran Sungai (DAS).

Dikatakan, Forum PRB Aceh terus melakukan monitoring, dan belum menperoleh laporan adanya korban jiwa maupun data terkait kerugian bencana alam ini dan akan selalu berkoordinasi dengan BPBD setempat.

Untuk mengurangi kerugian akibat bencana, lanjut Nasir, perlu dilakukan berbagai upaya dalam rangka pengurangan risikonya. Upaya mengurangi risiko bencana dapat dilakukan pemerintah, masyarakat, bahkan dari individu sendiri.

“Semua orang baik individu maupun kelompok dapat bertindak sesuai peran masing-masing untuk mengurangi risiko bencana,” ujar Nasir Nurdin yang didampingi Wakil Ketua ForumPRB Aceh TM Zulfikar.

Dikatakan, Pengurangan risiko bencana (PRB) adalah konsep dan praktek mengurangi risiko bencana melalui upaya sistematis untuk menganalisa dan mengurangi faktor-faktor penyebab bencana.

Mengurangi paparan terhadap bahaya, mengurangi kerentanan manusia dan properti, manajemen yang tepat terhadap pengelolaan lahan dan lingkungan, dan meningkatkan kesiapan terhadap dampak bencana merupakan contoh pengurangan risiko bencana.

Pengurangan risiko bencana meliputi disiplin seperti manajemen bencana, mitigasi bencana dan kesiapsiagaan bencana, tetapi PRB juga merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan. Agar kegiatan pembangunan dapat berkelanjutan mereka juga harus mengurangi risiko bencana.

Disis lain, TM Zulfikar menambahkan, berkaca dari bencana banjir sebelumnya, sebenarnya sangat menarik bila dikaji tentang penyebab terjadinya bencana tersebut. Bukan maksud untuk menyalahkan para pihak, namun saat ini telah berkembang berbagai pendapat terkait sebab terjadinya bencana banjir tersebut.

Salah satunya adalah tentang masih lemahnya tata kelola lingkungan, minimnya partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan, tidak baiknya sistem aliran air (drainase), pembalakan liar di wilayah hulu sungai, dan beragam pendapat lainnya.

Paradigma penanggulangan bencana menegaskan bahwa bencana tidak dapat dihindari, tapi masih dapat dikurangi risikonya.  Risiko bencana diartikan sebagai besarnya potensi kerugian, baik langsung maupun tidak langsung, jika suatu bencana terjadi. Pertanyaannya adalah upaya-upaya apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko bencana banjir tersebut?

Untuk itu, Forum PRB Aceh menyarankan setidaknya ada tiga langkah untuk mengurangi risiko bencana banjir, diantaranya: Pertama mengenali lokasi rawan banjir. Mengenali lokasi-lokasi yang rawan banjir dan rawan longsor di suatu wilayah merupakan tahap paling awal untuk mengurangi risiko bencana.

Kedua, mitigasi bencana. Mitigasi merupakan upaya jangka menengah dan jangka panjang untuk mengurangi atau menghilangkan dampak bencana sebelum kejadian bencana. Mitigasi dapat dilakukan secara struktural maupun nonstruktural. Mitigasi struktural dilakukan dengan membuat atau memperkuat sarana untuk mengurangi dampak banjir, baik itu secara alami maupun dengan rekayasa teknis.

Ketiga, siap mengantisipasi bencana dengan skenario kasus terburuk. Untuk keperluan ini, analisis evolusi risiko bencana dapat dilakukan dengan memadukan informasi potensi banjir atau longsor terbesar dan potensi dampak yang dihasilkannya.

Evolusi risiko bencana dianalisis dengan mengidentifikasi perkembangan proses alamiah yang terjadi dan elemen berisiko (misalnya bangunan, penduduk, dan lahan produktif) secara temporal. Setelah memahami potensi risiko bencana, upaya pencegahan, mitigasi, dan peningkatan kesiapsiagaan terhadap banjir dan longsor dapat dilakukan dengan lebih terarah dan tepat sasaran.

Dengan ketiga langkah tersebut, risiko yang timbul saat terjadi bencana setidaknya dapat diminimalkan serendah mungkin. Cuaca ekstrim menyebabkan terjadinya banjir yang sangat ekstrim. Selain itu, longsor pun juga terjadi di beberapa tempat dalam waktu yang hampir bersamaan. Kejadian-kejadian tersebut sebenarnya dapat diantisipasi dampaknya jika kita sudah siap dengan skenario tersebut. Manusia yang bijak adalah manusia yang dapat belajar dari pengalaman.

“Untuk itu kita harus lebih siap lagi dalam mengantisipasi kejadian serupa di masa yang akan dating,”tutup TM Zulfikar.[SP | red 01]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *