Kebijakan Pemerintah Tutup Bantaran DAS Krueng Aceh, Bentuk Pembunuhan Perekomian Rakyat

halaman7.com Aceh Besar: Disaat daerah lain di Indonesia berlomba melahirkan ide untuk bisa kembali menghidupkan sektor ekonomi rakyat pada saat Covid-19. Sehingga masyarakat bisa sedikit berdampak legak dengan dampak Covid-19.

Namun, kebijakan aneh dilakukan oleh Pemerintah Aceh dan Pemkab Aceh Besar. Malah, pemerintah membunuh sektor ekonomi rakyat tersebut, dengan menutup dan menghentikan semua usaha masyarakat di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Aceh.

Masyarakat seputaran DAS Krueng Aceh tiba-tiba dikejutkan dengan keluar kebijakan Pemerintah Aceh dan Pemerinta Kabupaten Aceh Besar. Melalui surat No.614/2804, tanggal 6 Juli 2020, tentang pembongkaran dan pemebersihan Bantaran Sungai Krueng Aceh.

Usman Lamreung

Padahal menurut Pemerhati Sosial Politik Kemasyarakatan, Usman Lamreung, pengelolaan DAS oleh masyarakat Aceh Besar tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan seperti banjir, kebakaran dan lainnya.

Seperti halnya penutupan café Cot Iri. Usman Lamreung yang mantan volunteer BRR Aceh – Nias (2005-2009) itu, dengan jelas memperlihatkan bagaimana upaya pemerintah mematikan perekonomian masyarakat.

Bebas Sosial

Padahal, Cafe di Cot Iri banyak sejahterakan orang Aceh Besar. Seperti pedagang kopi, mi, martabak, nasi kuah beulangong, lontong, nasi guri, bulukat selai dan lain sebagainya.

“Kalau cafe itu dipaksa tutup, maka mereka akan jadi penganggur dan beban sosial,” Usman mengingatkan.

Selain itu, kawasan Cot Iri jadi indah berkat ada cafe, tertata rapi dan bersih dan tidak seram dan kumuh seperti dulu.

“Dulu kawasan DAS di Cot Iri menakutkan, sering ada kriminal. Sekarang mau dimundurkan lagi? Ini kan gila,” kata dia.

Dikatakan, kawasan ini menjadi kawasan wisata berkat adanya café. Banyak orang kota Banda Aceh, bahkan dari daerah lain untuk menikmati kuliner di Cot Iri.

“Apa sekarang rela kita dimundurkan pariwisata Aceh Besar? Seharusnya Pemkab Aceh Besar membantu membimbing mereka, memberikan stimulus, bukan malah hendak menghancurkan,” kata dosen yang dikenal kritis ini.

Hak Guna Kelola Lahan

Dalam kilas balik kawasan tersebut, Akademisi Unaya ini menuturkan, sejak peresmian Krueng Aceh di era Gubernur Ibrahim Hasan pada era 1990-an. Masyarakat yang berdekatan dengan DAS Krueng Aceh dari Alue Naga Banda Aceh hingga Indrapuri Aceh Besar diberikan hak guna untuk mengelola lahan tersebut. Untuk dijadikan lahan produktif yang dapat menggerakkan urat nadi pendapatan keluarga.

Dengan diberikan izin hak mengelola lahan di DAS Krueng Aceh oleh pemerintah melalui lembaga terkait. Masyarakat mengelola lahan tersebut seperti bertani, berternak, membuka berbagi usaha dan lainnya.

Dampaknya adalah sejumlah keluarga yang gigih dalam berusaha dalam mencari nafkah di sepanjang DAS itu terangkat kesejahteraannya. Para pemimpin dulu sangat pro rakyat kecil.

“Jadi terasa aneh kalau sekarang ada elite negeri di Aceh Besar yang mau hancurkan ekonomi mereka,” kata Usman Lamreung.

Usman menambahkan, setelah sekian waktu berjalan. DAS bantaran Krueng Aceh memberikan dampak positif pada masyarakat sekitar dengan mulai berkembangnya berbagai usaha kecil-kecilan.

“Pasca Tsunami 2004, bukankah banjir yang terjadi di Banda Aceh dan Aceh Besar tidak disebabkan karena meluapnya air Krueng Aceh. Bukankah selama ini berkurangnya debit air Krueng Aceh bukan karena adanya seratusan kandang sapi dan sejumlah bangunan itu?,” Usman bertanya.

“Banjir selama ini karena gorong-gorong yang bermasalah, tidak tersedia tempat penampungan sampah di pemukiman dan kurangnya debit air karena pengrusakan di hulu oleh oknum,” lanjut Usman.

Seharus pemerintah  bersama dengan masyarakat mengelola DAS Bantaran Krueng Aceh sebagai salah tempat parawisata, dengan mempetimbangkan dan pengelolaan bantaran tersebut sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan.

Ini adalah peluang besar untuk menambah kesempatan kerja masyarakat sekitar, bukan melakukan pembongkaran dan pembersihan ketika masyarakat sudah merasakan mamfaat DAS bantaran Krueng Aceh.[andinova | red 01]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *