Lima Tahun Perjalanan Tanpa Arah (Bagian I)

Oleh Sulthan Alfaraby

SEBELUMNYA perkenalkan, saya Muhammad Sulthan Alfaraby. Awalnya berperawakan cupu serta kurang percaya diri. Bisa dikatakan sebagai pemalu berat. Hobi penulis sangatlah banyak. Mulai membaca buku sejarah, menggambar, membuat dan bermain musik, mengedit video dan beberapa hal yang berbau kreatifitas lainnya.

Penulis lahir di pantai ujung barat Aceh, yaitu Kota Meulaboh Kecamatan Johan Kabupaten Aceh Barat. Tumbuh besar di Desa Paya Lumpat Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat.

Saya juga merupakan sosok yang menyukai corak pada bendera “Bintang Bulan” Aceh, yaitu garis merah putih dan hitam. Maka tak heran, jika konten-konten maupun desain grafis yang penulis buat, lebih mengarah kepada corak bendera “Bintang Bulan” Aceh tersebut.

Penulis juga berpesan, semoga dengan diperingatinya 15 Tahun Perdamaian Aceh dan Republik Indonesia 2020 ini. Bisa menghasilkan nuansa sejuk untuk Aceh ke depannya. Kita selaku pemuda, juga mendukung penuh langkah-langkah kongrit dari hasil perdamaian ini, demi masa depan Aceh yang lebih baik ke depannya. Panjang umur hal-hal baik!

***

Mari kita kembali berbicara soal “Lima Tahun Perjalanan Tanpa Arah”. Sebenarnya hal itu menilik dari kejadian penulis beberapa tahun lalu. Di mana, penulis memulai langkah awal untuk berkarya dan berjuang tanpa memikirkan arah sebelumnya.

Bisa disebut sebagai “keberuntungan”. Karena kejadian-kejadian dalam kisah penulis ini merupakan hal yang jauh dari dugaan sebelumnya. Kisah penulis dimulai dari pagi hari yang cerah di akhir Desember 2012.

Hari Kiamat

Hal yang cukup mengejutkan terjadi, yaitu isu “hari kiamat” (prediksi suka Maya di Amerika Tengah-red) yang sudah lama digaung-gaungkan sejak jauh-jauh hari sebelumnya menjadi perbincangan hangat netizen di dunia maya. Bagaimana tidak, isu tersebut sudah sangat lama merebak luas dan menggegerkan dunia karena “hari kiamat” dikabarkan akan terjadi pada akhir Desember 2012.

Faktanya pada hari itu, keadaan normal-normal saja. Saya sempatkan untuk bernostalgia menonton beberapa film yang menggambarkan keadaan “hari kiamat” yang diklaim akan terjadi pada 2012.

Namun, meskipun begitu saya tetap merasa takut dan sisi positifnya juga tentu kita menjadi sadar akan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan untuk segera meminta ampunan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pada tahun 2012 juga, merupakan tahun paling bersejarah di dalam kehidupan saya. Pada masa itu, masih bersekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN). Pada masa itu mulai mencoba untuk terjun langsung ke dalam dunia musik yang bergenre Hip Hop.

Karena dorongan maupun terinspirasi dari orang-orang lain yang sudah dahulu terjun untuk segera ikut berkiprah dan berkarya. Ya, pembaca pasti mengetahui bagaimana rasanya ingin menjadi orang terkenal atau mengikuti gaya sang tokoh panutan dalam dunia entertainment.

Saya sebelumnya juga banyak mendengarkan lagu-lagu Hip Hop dari berbagai musisi luar negeri maupun dalam negeri untuk menjadikan mereka sebagai referensi dalam berkarya. Hal yang paling saya sukai adalah mendengarkan musik Hip Hop yang digaungkan rapper di Aceh, Hip Hop Nad Syndicate adalah salah satunya dan paling terkenal pada masa itu.

Alasan menyukai para rapper di Aceh adalah karena nuansa musik mereka lebih menggambarkan Ke aceh-an dan kedaerahan dibandingkan rapper lainnya. Meskipun tanpa sepengetahuan saya, padahal banyak juga rapper lainnya yang berada di luar Aceh juga menggaungkan musik dengan nuansa kedaerahan mereka. Misalnya Jogja Hip Hop Foundation, namun saya tidak mengetahui akan hal tersebut pada masa itu.

Nah, kembali lagi soal keinginan dan ambisi penulis untuk mulai berkarya di 2012. Meskipun dengan tampang cupu dan pemalu. Dengan bermodalkan menonton video di Youtube, saya mulai mencari ilmu secara otodidak dan men-download beberapa software penunjang untuk menciptakan musik Hip Hop yang akan digunakan ketika hendak dinyanyikan atau yang lebih dikenal dengan Ngerap.

Seminggu saya mencoba untuk mencari referensi di Youtube dan juga bermodalkan komputer di warung internet (warnet). Di mana pada saat itu saya belum mempunyai perangkat yang signifikan dan terpaksa harus menggunakan jasa Warnet.

Meskipun bermodalkan seadanya dan juga beberapa kali bolos sekolah akibat ambisi untuk berkarya (jangan ditiru), saya akhirnya berhasil membuat sebuah instrumen musik Hip Hop sederhana meskipun sedikit meniru dan memodifikasi dari instrumen musik orang lain.

Saya mulai merekam suara melalui Handphone (HP) di rumah dan kemudian kembali ke warnet untuk mengedit menjadi musik Hip Hop. Setelah selesai mengedit musik dan jadilah lagu yang tak berjudul serta bertema cinta serta dengan format MP3.

Sayapun segera mengupload karya tersebut ke situs internet yang paling eksis pada saat itu, yaitu Reverbnation. Alhasil, karena hobi bermain Facebook (FB) ini juga menyebarkan secara membabi buta hasil karya tersebut ke publik.

Namun, apalah daya ketika melihat respon daripada netizen yang menghujat penulis dan mengatakan bahwa lagu tersebut sangatlah buruk. Saya menjadi sedikit terpuruk dan mencoba untuk belajar lebih keras lagi, sampai-sampai kegiatan sekolah menjadi terbengkalai.

Di dunia maya, penulis juga semakin berinisiatif belajar dari musik-musik orang lain yang sudah populer dan membandingkan karya mereka dengan karya penulis. Ternyata, perbandingan karya penulis dengan mereka ibarat langit dan bumi.

Namun, sisi positifnya adalah pada saat itu tetap pantang menyerah dan terus semangat untuk berkarya. Usai beribadah, saya selalu berdoa dan berharap agar penulis bisa menjadi musisi Hip Hop paling terkenal di Aceh.

Lucu juga kalau diingat-ingat. Namun, hal tersebut merupakan motivasi kuat bagi saya untuk bisa terus belajar tanpa mengenal kata menyerah.

Menjadi Introvert… Bersambung

PENULIS adalah Ketua Umum Dewan Pimpinan Pemuda Cinta Aceh, Mahasiswa dan Pegiat Sosial

2 tanggapan untuk “Lima Tahun Perjalanan Tanpa Arah (Bagian I)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *