Aceh, Opini  

Menjadi Introvert (Bagian II)

Oleh Sulthan Alfaraby

TAHUN 2013 pun mulai datang. Kala itu musik Hip Hop menjadi trend yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan anak muda. Juga, mulai tercium aroma “kesuksesan” bagi saya. Ntah dari mana arah datangnya.

Mei 2013, saya mendaftar di salah satu grup Hip Hop yang dicetus salah satu rapper terkenal di Kota Meulaboh, Aceh Barat. Saya banyak belajar dari grup tersebut. Alhamdulillah, karya demi karya sudah mengalami peningkatan. Meskipun hanya sebesar 10% dari sebelumnya.

Untuk membuat sebuah karya, saya dipinjamkan fasilitas oleh grup Hip Hop tersebut. Seperti komputer dan alat-alat permusikan lainnya.

“Alhamdulillah, semua itu merupakan bantuan yang tak terduga dan harus dianfaatkan,” pikir Saya.

Namun, sebulan berlanjut dan terjadilah permasalahan pribadi dalam grup tersebut. Akhirnya penulis memutuskan untuk keluar dan mencoba untuk mendirikan sebuah grup sendiri pada Juni 2013 bersama dengan teman-teman yang sepemikiran di sekolah.

Kami membuat karya pertama dari hasil belajar secara otodidak. Terciptalah satu karya lagi dan kemudian mendapatkan hujatan dari berbagai pihak. Bahkan, ratusan siswa di sekolah atau bisa dikatakan secara kasar “seluruh siswa di sekolah” juga ikut menghujat, karena karya kami masih sangat jelek.

Saya pada saat itu sangat tertekan. Ingin sekali mengakhiri semua ini. Orang-orang juga banyak menyebut saya sebagai orang gila yang terlalu memaksakan diri dalam hal berkarya. Saya yang mempunyai mental ‘tempe’, akhinya kewalahan menanggapi respon negatif dari orang-orang.

Apalagi, di luar sekolah juga banyak juga grup-grup Hip Hop lokal terkenal yang menyindir kami lewat lagu. Mereka menilai bahwa kami adalah pecundang yang ikut-ikutan berkarya tanpa kualitas.

Pubertas

Dengan psikis yang semakin tertekan dan juga jerawat penulis juga semakin menjadi-jadi tumbuh di wajah. Pada 2013 itu juga merupakan awal kepuberan saya dari remaja menuju dewasa.

Ya, begitulah sekiranya. Jerawat tumbuh hampir memenuhi wajah dan semakin stres dengan hujatan seluruh siswa di sekolah dan orang-orang di sekitar. Sudah kurang tampan, ditambah dengan tumbuhnya “cobaan” jerawat ini. Maka saya putuskan untuk tidak keluar dari rumah selama setahun.

Baca Juga  342 Mahasiswa STIKes di Wisuda Serentak

Setahun? Ya, setahun! Lalu, bagaimana penulis bersekolah? Saya tetap pergi ke sekolah. Namun tidak pernah keluar dari kelas dikarenakan psikis tertekan akibat hujatan orang-orang. Apalagi juga sudah dianggap sebagai rapper gadungan.

Saya pernah masuk ke sekolah diam-diam melewati sela-sela dinding yang sempit (Tidak pernah melewati pintu utama). Karena tidak ingin terlihat oleh orang lain. Hal ini disebabkan karena malu dengan keadaan diri yang penuh jerawat di wajah pada saat itu.

Ketika pulang sekolah, juga nyaris tidak pernah keluar dari rumah kala itu akibat tekanan psikis yang berkepanjangan. Saya benar-benar ingin segera mengakhiri hidup. Selalu berharap di saat tidur pada malam hari “semoga malam ini menjadi malam yang panjang,” ujar saya dalam hati ketika menjelang tidur malam hari.

Sampai segitunya saya tidak ingin menjalani hari-hari yang penuh dengan tekanan. Itu adalah cobaan terberat dalam hidup yang harus penulis terima. Untuk sekedar diketahui lagi, saya juga merupakan tipe orang yang sangat pemalu pada saat itu. Melihat mata perempuan saja tidak mau dan memilih untuk tertunduk.

Apalagi, jika disuruh mempresentasikan tugas sekolah di depan teman-teman. Bisa-bisa saya pingsan di tempat. Ditambah dengan wajah yang penuh dengan jerawat. Alhasil, saya kemudian memutuskan untuk menjadi Introvert dan menutup diri dari publik selama setahun. Ini benar-benar membuat saya sangat terpuruk!

INFO Terkait:

Memberanikan Diri untuk Berkarya Kembali

Pada 2014. Alhamdulillah, berkat dukungan dari orang tua dan juga rajin merawat wajah. Akhirnya jerawat mulai hilang. Sesuatu yang sangat diharapkan tersebut akhirnya terjadi, yaitu melepas status introvert pada diri dan ingin kembali kepada kehidupan normal.

Saya juga masuk ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) pada 2014. Saya mengira, bahwa ketika sudah menjadi siswa MAN, maka kehidupan akan aman dan membaik. Ternyata tidak! Nama saya yang sudah dikenal sebagai “Rapper Pecundang” sejak MTsN.

Baca Juga  Lampulo Jadi Kampung Bebas Narkoba

Kini mulai dicari-cari oleh ‘preman’ di sekolah tersebut. Saya sering dibully dan dipaksa untuk bernyanyi di lapangan ketika itu serta dipermalukan. Alhasil, saya menjadi tertekan kembali dan mengambil jalan pintas yang sekaligus sangat bodoh. Dengan membayar pimpinan preman tersebut sebesar Rp50.000 per minggu dengan tujuan agar tidak diganggu lagi.

Sayapun terpaksa jarang jajan selama setahun. Karena kondisi keuangan yang menipis akibat digunakan untuk membayar ‘Jatah Preman’.

Dalam kondisi seperti ini, Saya tidak berputus asa dan tetap melanjutkan niat awal yaitu berkarya. Dengan wajah yang sudah ‘kinclong’ meskipun tak tampan. Bisa menjadi modal awal untuk bisa meluruskan niat agar menjadi rapper terkenal.

Lagu demi lagu mulai tercipta beserta video klip sederhana dan terus mengasah skill. Banyak uang yang terkuras pada masa itu. Namun, masa bodoh! saya akan tetap mewujudkan mimpi yang sudah dibangun dari nol.

Sulthan Alfaraby

Percaya Diri

Perlahan tapi pasti, dari panggung ke panggung saya naiki dan belajar untuk meningkatkan rasa percaya diri meskipun agak sedikit canggung. Mulai dari acara di dalam kota, sampai dengan acara yang berada di luar kota.

Alhamdulillah, saya mendapatkan banyak kenalan. Juga ilmu agar bisa menciptakan karya yang berkualitas sembari mengasak skill dan mental. Untuk terus berani ke depannya menghadapi respon publik.

Sayapun mulai menyadari, bahwa “passion” saya bukanlah menciptakan lagu yang bertemakan “cinta”, melainkan bertema “Gangsta”. Gangsta adalah sebuah aliran lagu yang mengarah kepada lirik-lirik dan nada yang keras dan juga tajam.

Tepat pada 2015, saya mengadakan kegiatan musik. Juga diajak untuk bergabung ke salah satu aliansi Hip Hop yang terdiri dari orang-orang hebat di dalamnya. Impian untuk bisa berkarya pada saat itu bisa dibilang sangatlah sukses dan kesempatan juga sudah terbuka sangat lebar.

Baca Juga  Polres Atam Dapat Penghargaan dari Plt Gubernur Aceh

Saya juga membuka usaha rekaman dan juga jasa pembuatan video. Hasil dari usaha tersebut bisa dibilang lumayan. Meskipun belum signifikan untuk menunjang seluruh kebutuhan kehidupan sehari-hari.

Bersamaan jejak perjalanan ini, saya juga pernah mendapatkan kesempatan On Air di salah satu radio ternama untuk berbagi pengalaman hidup. Pada tahun yang sama pula, terjadi ‘konflik Hip Hop’ antar kota. Di mana musisi saling serang menyerang lewat karya. Saya ikut berkecimpung di dalamnya.

Lucunya, kini kami sekarang sudah menjadi teman dekat. Sungguh kekonyolan yang miris untuk diingat kembali. Setelah beberapa waktu yang lumayan lama dari hasil belajar manggung. Maka jiwa sudah semakin terisi rasa percaya diri dan lebih berani tampil di publik.

Ternyata, dari hinaan dan cemoohan orang-orang bisa membuat kita tetap tegar dengan kerasnya kehidupan. Juga bisa membuat kita “kebal” untuk tetap bisa melangkah ke depannya.

Karena itu, saya berharap kita tidak menyerah atau berputus asa dalam menggapai impiannya. Ketika kita sudah berusaha berjuang kemudian gagal, maka kita akan mendapatkan hasil yang nyata, yaitu hikmah besar.

Namun, ketika kita tidak bergerak sama sekali akibat takut akan kegagalan. Maka kita berarti sudah ditaklukkan oleh rasa “pengecut” yang ada di dalam diri kita. Sehingga hal tersebut akan menghambat kita untuk maju.

Mari semangat untuk mewujudkan mimpi kita sendiri atau orang lain akan mempekerjakan kita untuk membangun mimpi mereka!

Dari Barat Mencoba untuk ‘Taklukkan’ Kutaraja…bersambung

PENULIS adalah Ketua Umum Dewan Pimpinan Pemuda Cinta Aceh, Mahasiswa dan Pegiat Sosial

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *