Aceh Kehilangan Tiga Ulama Selama Ramadhan 1442 H, Pertanda Apa?

Catatan: Iranda Novandi

RAMADHAN 1442 H telah berlalu. Hari nan fitri sedang kita jalani saat ini. Hari kemenangan setelah 30 hari menjali proses pensucian diri dari segala nafsu yang menyelimuti hati manusia selama ini.

Dibalik hari kemenangan ini, Aceh dirundung duka yang mendalam. Pasalnya, tiga ulama kharismatik di bumi Serambi Mekah ini, telah tiada pada bulan Ramdhan 1442 H. Tiga lentera kehidupan umat itu, telah menghadap illahi rabbi.

Tgk H Sayed Abu Bakar (Waled)

Pada awal Ramadhan 1442 H atau tepatnya 4 Ramadhan 1442 H, seorang ulama Aceh Tgk H Sayed Abu Bakar (Waled) meninggal dunia, Jumat 16 April 2021. Pemakaman almarhum di lakukan di rumah duka. Dusun Pasantren Desa Gelanggang Merak, Kecamatan Manyak Payed Aceh Tamiang,  Sabtu 17 April 2021.

Sebelum dimakaman. Almarhum di shalatkan di halaman rumah duka yang dihadiri para alim ulama, masyarakat dan ratusan murid serta sanak keluarga.

Tgk H Sayed Abu Bakar (Waled) adalah seorang tokoh yang di kenal masyarakat secara turun temurun di Kecamatan Manyak Payed.

Almarhum Waled meninggalkan seorang istri, Ummi Sarifah Asma (55 tahun). Lima orang anak yakni Said Hidayahtullah (38 tahun). Syarifah Muizzatulhasah (35 tahun), Said Munawar khalil (33 tahun). Syarifah Miftahull Janna (31 tahun) dan Said Ikwani (30 tahun).

Kepergian Pimpinan Pondok Pesantren Zawiyah Babussalam, Manyak Payed ini menjadi awal berita duka bagi Aceh di bulan Ramadhan 1442 H.

Abulah Kruet Lintang

Pada Selasa, 4 Mei 2021, kembali salah satu ulama kharismatik Aceh, Tgk H Abdullah Rasyid atau Abulah Kruet Lintang, meninggal dunia. Almarhum meninggal dunia sekitar pukul 23.05 WIB, di RSUD Sultan Abdul Aziz Syah (SAAS), Peureulak Aceh Timur.

Almarhum adalah pemimpin Dayah Darul Mutaalimin Kruet Lintang. Abulah Kruet Lintang dikenal masyarakat dengan ciri khasnya selalu “bersarung (memakai kain sarung). Itu tetap diperlihatkannya meski sempat menjadi anggota DPRK Aceh Timur priode 2004-2009.

Abu Matang Perlak

Selang tiga hari kemudian, kabar duka kembali menyelimuti Aceh. Seorang ulama sepuh, Tgk H Abdul Wahab atau Abu Matang Perlak, meninggal dunia.

Pimpinan Dayah Darussa’adah, Matang Perlak, Kecamatan Pante Bidari Lhok Nibong, Aceh Timur berpulang ke rahmatullah pada Jumat 7 Mei 2021 pukul 16.30 wib atau bertepatan 25 Ramadhan 1442 Hijriah.

Kepergian ulama kharismatik ini akibat sakit. Dimana dalam beberapa bulan terakhir kondisi kesehatannya kurang baik.

Pewaris Para Nabi

Ulama dikenal memiliki ilmu yang tergolong tinggi dalam bidang keagamaan. Karenanya ulama juga dikenal dengan sebutan perawis para Nabi.

Posisi ulama disebut sebagai pewaris Nabi, sebab keberadaannya turut berperan penting setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Karena itu, Allah SWT akan mengangkat derajat para ulama lebih dari orang-orang yang beriman.

Kehilangan seorang ulama, itu artinya kita juga kehilangan pustaka ilmu. Sebab ilmu yang kita peroleh dari ulama itu, sungguh membawa kita kesuatu keberuntungan. Karena kita bisa mengambil hikmah dan pembelajaran tentang tuntutan kehidupan di dunia.

Sebagaimana Hadist Nabi:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ ‏دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

”Sesungguhnya Ulama adalah pewaris para Nabi. ‎Sungguh para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan ‎dirham (uang/harta benda), namun mereka ‎mewariskan ilmu (kepada Ulama). Barangsiapa ‎mengambil ilmu dari Ulama, maka ia telah ‎mendapat keberuntungan yang melimpah”.‎ (HR. Ahmad : 20723)

Wafatnya Ulama Pertanda Apa?

Dengan wafatnya ulama yang merupakan pewaris nabi jelas musibah tak tergantikan bagi umat Islam. Wafatnya ulama merupakan salah satu tanda dekatnya akhir zaman.

Rasulullah juga menegaskan wafatnya para ulama sebagai musibah. Wafatnya ulama adalah hilangnya ilmu umat manusia.

مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ

Artinya: “Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama” (HR al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’)

Sebagai muslim, tentu merasa kehilangan dan bersedih atas wafatnya ulama. Hanya orang munafik saja yang tidak bersedih atas wafatnya pewaris Nabi.

Dalam kitab Tanqihul Qoul atau Lubabul Hadis karya Imam As Suyuthi menyebutkan orang yang tidak bersedih atas wafatnya ulama adalah munafik.

Ini merujuk dari Sabda Nabi: “Ketika seorang alim meninggal maka menangislah ahli langit dan bumi selama tujuhpuluh hari. Barangsiapa tidak sedih atas meninggalnya orang alim maka dia adalah orang munafik, munafik, munafik.”

Kata munafik disebutkan Nabi sampai tiga kali.

Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita dari kehancuran dan kebinasaan dalam kemunafikan. Wallahu a’lam Bissawab.[]

Facebook Comments
(Visited 309 times, 1 visits today)
648 views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *