Puisi Widji Thukul: Buruh-buruh dan Suti

BURUH-BURUH

Di batas desa
pagi-pagi
dijemput truk
dihitung seperti pesakitan
diangkut ke pabrik
begitu seterusnya

Mesin terus berputar
pabrik harus berproduksi
pulang malam
badan loyo
nasi dingin

Bagaimana kalau anak sakit
bagaimana obat
bagaimana dokter
bagaimana rumah sakit
bagaimana uang
bagaimana gaji
bagaimana pabrik? mogok?
pecat! mesin tak boleh berhenti
maka mengalirlah tenaga murah
mbak ayu kakang dari desa

SUTI
Suti tidak kerja lagi
pucat ia duduk dekat amben-nya
Suti di rumah saja
tidak ke pabrik tidak kemana-mana
Suti tidak ke rumah sakit
batuknya memburu
dahaknya berdarah

Suti kusut-masai
di benaknya menggelegar suara mesin
kuyu matanya membayangkan
buruh-buruh yang berangkat pagi
pulang petang
hidup pas-pasan
gaji kurang
dicekik kebutuhan

Suti meraba wajahnya sendiri
tubuhnya makin susut saja
makin kurus menonjol tulang pipinya
loyo tenaganya
bertahun-tahun dihisap kerja

Suti batuk-batuk lagi
ia ingat kawannya
Sri yang mati
karena rusak paru-parunya

Suti meludah
dan lagi-lagi darah

Suti memejamkan mata
suara mesin kembali menggemuruh
bayangan kawannya bermunculan
Suti menggelengkan kepala
tahu mereka dibayar murah

Suti meludah
dan lagi-lagi darah

Suti merenungi resep dokter
tak ada uang
tak ada obat

Widji Thukul, bernama asli Widji Widodo adalah sastrawan dan aktivis hak asasi manusia berkebangsaan Indonesia. Thukul merupakan salah satu tokoh yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru.

Thukul yang lahir 23 Agustus 2963 ini, hobi menulis puisi sejak kecil. Thukul juga dikenal sebagai aktivis buruh yang juga pejuang hak asasi manusia (HAM). Untuk menuntut nasib buruh, dia bersuara melalui serangkaian puisi dan sajak ciptaannya.

Pada 1991, Thukul memperoleh “Wertheim Encourage Award” yang diberikan Wertheim Stichting, Belanda, bersama WS Rendra. Pada 2002, Ia dianugerahi penghargaan “Yap Thiam Hien Award 2002”

Widji Thukul hilang dan tak tahu dimana rimbanya sejak Mei 1998. Bahkan keluarganya pun tidak pernah tahu keberadaannya hingga saat ini. Hanya bait-bait puisi yang pernah ia torehkan yang menjadi pengingat jejaknya.[red 01]

Facebook Comments
(Visited 55 times, 1 visits today)
191 views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *