PUISI Marhalim Zaini: Siapakah Engkau, Corona

Siapakah Engkau, Corona

Sejak engkau datang, kami mengurung diri
dalam rumah. Mengunci pintu dan jendela, menutup
Lubang angin, menutup segala yang terbuka dari rasa
takut. Padahal kami tak tahu, engkau ada di luar
Atau di dalam tubuh kami.

Siapakah engkau, Corona?
Engkau mengusir kami dari Jalan-jalan, mal, pasar,
kantor-kantor, sekolah, kampus-kampus, bahkan
dari rumah ibadah kami. Padahal kami selalu tak mampu
untuk keluar dari keramaian dalam kepala kami.

Siapakah engkau, Corona.
Engkau datang seperti bala tentara dalam
operasi senyap. Menembaki ribuan orang
di seluruh dunia dengan peluru kecemasan,
padahal kami hanya orang biasa yang tak
Punya senjata, yang selalu percaya bahwa
perang hanya untuk para tentara.

Siapakah engkau, Corona?
Hari ini, kami memang akhirnya mengunci diri
Dalam rumah, tapi kami tidak sedang menyerah.
Peluru-peluru sedang kami siapkan dari doa-doa
yang setiap saat kami rapalkan. Kami punya iman
yang setiap waktu menyala dalam kegelapan.

Tapi siapakah engkau, Corona.
Apakah engkau hanya datang sebagai pengecut, yang
menyerang saat kami buta. Saat kami kerap lalai
menyalakan api iman dalam dada. Saat kami terlalu
bahagia dengan gemerlap dunia, dan lupa pada
dosa-dosa.

Corona, siapapun engkau, kami tak lagi peduli.
Karena hari ini, kami sedang berdiam dalam diri,
mencari tahu, siapakah kami sesungguhnya
dalam tubuh yang fana.

Marhalim Zaini, 2020

Catatan:

Marhalim Zaini, adalah sastrawan asal Riau. Ia sempat kuliah di IAIN (kini UIN) Imam Bonjol Padang. Ia juga aktif di Teater Imam Bonjol.

 Laki-laki kelahiran Teluk Pambang, Bengkalis Riau, 15 Januari 1976 ini, alumnus Jurusan Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ia merupakan budayawan dan sastrawan yang aktif di dunia literasi.

 Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, esai budaya, resensi, naskah drama, juga cerbung dipublikasikan ke berbagai media massa lokal, nasional, dan internasional.

 Sejumlah puisi-puisi dan karya sastra lainnya juga telah di bukukan, Di antaranya, Segantang Bintang Sepasang Bulan (Kumpulan Sajak, 2003). Di Bawah Payung Tragedi (Kumpulan Drama, 2003). Langgam Negeri Puisi (Kumpulan Sajak, 2004). Tubuh Teater (Kumpulan Esai, 2004), Getah Bunga Rimba (sebuah Novel yang menerima Penghargaan Utama Ganti Award dari Yayasan Bandar Serai, 2005).

 Pada 2005, Ia diundang ke Ubud Write and Reader Festival Bali. Satu ajang bergengsi bagi penulis se-Indonesia.

Facebook Comments
(Visited 186 times, 1 visits today)
455 views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *