APRI Aceh Pertanyakan Bukti Pernyataan Mirza Koordinator AMPS

halaman7.com Banda Aceh: Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Provinsi Aceh terkejut dan heran terhadap kicauan Mirza Sultan Farza yang mengaku sebagai Koordinator Aliansi Mahasiswa Pencinta Syariah (AMPS) yang meminta kepada Menteri untuk mencopot Kanwil Kemenag Aceh.

Menurut APRI, sangatlah aneh dengan membeberkan seolah-olah di Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh terjadi kegaduhan, tanpa adanya bukti yang dipenuhi.

“Bagi kami, selaku pegawai Kementerian Agama, dan sebagai APRI kondisi ini perlu diluruskan. Maka kami menjumpai Kakanwil Kemenag Aceh terkait yang disampaikan Koordinator AMPS,” Kata Ketua APRI Aceh, Erman Jaya, Minggu 18 Juli 2021.

Dijelaskan Erman Jaya, pihaknya berkesimpulan apa yang dituduhkan Koordinator AMPS  sudah mengandung nilai kebencian personal. Pencemaran nama baik. Hal ini cukup bahaya bagi penyelenggaraan pemerintahan dan negara.

“Hal ini dilakukan seakan untuk menurunkan kepercayaan publik kepada penyelenggara negara,” katanya.

Sebenarnya, jika kegaduhan yang dimaksud dikarenakan memutasikan orang dari jabatan satu ke jabatan lain. Mestinya mutasi yang pernah dilakukan terdahulu disebut juga dapat disebut kegaduhan.

Dikatakan, mutasi itu sesuatu yang lumrah bagi PNS sekaligus memenuhi kebutuhan organisasi dimanapun di negeri ini. Semua mutasi yang dilakukan sudah memenuhi kriterianya.

“Namun jika ada yang tidak puas dengan mutasi tersebut saya pikir manusiawi sekali. Tapi tidak boleh merusak sistim yang berlaku di lembaga. Kita punya kode etik dan aturan di korps masing-masing,” tegas Erman.

Jika Mirza menilai Kanwil Kemenag Aceh dibawah kepemimpinan Dr H Iqbal, tidak mampu dan tidak memiliki kapasitas serta kecakapan yang cukup sebagai seorang pemimpin, menurut APRI ungkapan itu mengada-ada.

“Karena setahu kami dan yang kami lalui dibawah kepemimpinan pak Iqbal. Kanwil Aceh telah menelurkan banyak prestasi baik di daerah dan nasional,” katanya.

Perlu diketahui juga, lanjut Erman, Iqbal menjadi Kakanwil Kemenag Aceh telah melewati asismen terbuka dengan jumlah peserta 19 orang dan dibuka secara umum. Maka jika Mirza menganggap Iqbal tidak mampu, itu sama artinya melecehkan keputusan Menteri Agama. Yang telah menetapkan dan melantiknya sebagai Kakanwil Kemenag Aceh.

Erman Jaya mengatakan tuduhan yang diteruskan perlu pembuktian dari koordinator AMPS. Jika tidak dapat dibuktikan, sangat khawatir hal ini dapat menyeret Mirza ke ranah hukum. Apalagi hal ini sudah menjurus kepada kebencian personal yang ditujukan kepada Kakakanwil Kemenag Aceh.

“Selayaknya kita jaga bersama nama baiknya termasuk AMPS sebagai pemerhati Syariat,” ujarnya.

Erman Jaya mengaku heran mengenai pengetahuan Mirza tentang serapan anggaran di Kanwil Kemenag Aceh. Orang APRI sendiri tidak mengetahui seperti yang diketahui Mirza. Dalam kapasitas apa Mirza bisa menilai kondisi di lingkungan Kanwil Kemenag Aceh.

INFO Terkait:

Minta Maaf

Berdasarkan kondisi ini, APRI Aceh meminta Mirza agar segara minta maaf kepada Kanwil Kemenag Aceh. Berjanji tidak mengulangi lagi perbuatan yang sama.

“Jika saudara Mirza tidak bersedia meminta maaf, agar segera membutikan tuduhan yang dituding,” tegas Erman.

Jika Mirza tidak mampu membuktikannya. Maka pihaknya menyarankan kepada bagian yang menangani hukum agar menempuh jalur hukum. Diserahkan kepada pihak yang berwenang.

“Kami meminta kepada Mirza, agar tidak mengganggu kenyamanan dan kekompakan ASN Kemenag Aceh yang telah terbina selama ini,” tegas Erman Jaya dalam klarifikasinya.[ril | red 01]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *