Berpikir Kritis dalam Menyikapi Hoaks Covid-19

Oleh: Subhan Tomi

MENYIKAPI penyebaran dan penanganan Covid-19 yang tengah kita hadapi bersama saat ini. Tentu penuh dengan tantangan. Baik dari pemerintah, pengamat serta masyarakat Indonesia. Jika kita amati problem yang begitu sering muncul adalah penyebaran hoaks dan informasi yang salah. Ini dapat menyebabkan kebingungan, bahkan bisa membuat masyarakat takut dan panik.

Subhan Tomi

Anda boleh saja tidak percaya Covid-19 itu adalah hak anda. Tetapi ingat lah, ketika anda mengumbar itu di sosial media, anda telah melukai perasaan saudara kita yang tengah berjuang melawan Covid-19 baik isoman atau didalam perawatan. Ada juga yang telah merenggut nyawa keluarganya. Maka berpikirlah dan berperilaku secara bijak.

Sesungguhnya ini adalah ancaman yang begitu serius. Disaat pemerintah memberlakukan PPKM Darurat untuk menekan laju Covid-19 yang begitu hebatnya. Berdampak pada ke berlangsung hidup secara komprehensif.

Media online merupakan faktor utama dalam penyebaran berita hoaks di berbagai media sosial masyarakat. Era yang serba digital saat ini, menyebabkan media online memiliki sifat yang sangat cepat. Sehingga sesuatu dapat diduplikasi dalam hitungan detik.

Dirangkum Kompas Tekno dari We Are Social, Selasa 23 Februari 2021. Dimana, waktu yang dihabiskan orang Indonesia untuk mengakses internet per hari rata-rata yaitu 8 jam 52 menit.  Pada Januari 2021, pengguna internet di Indonesia tercatat mencapai 202,6 juta dengan penetrasi 73,7 persen di antaranya menggunakan smartphone untuk mengakses internet.

Pemberitaan mempunyai peran penting untuk menyampaikan informasi yang tepat dan benar. Dikarenakan begitu pesatnya perkembangan teknologi, begitu bagi individu yang mempunyai akun sosial media yang  sangat mudah mendapatkan akses dari pemberitaan. Membuat konten status didalam hal apapun yang menjadi subtansi dari sebuah permasalahan.

Objektif dan Kritis

Sebagai manusia yang di bekali dengan akal pikiran. Hendaklah kita lebih objektif dan kritis tentang pemilihan konten yang akan di buat. Dengan begitu banyaknya persoalan di tengah pandemi ini.

Orang disebut dewasa ketika memiliki fungsi akal, pikiran yang baik. Guna menunjang terwujudnya perilaku dan kepribadian yang kritis dan positif. Salah satu tanda kedewasaan manusia adalah adanya kesadaran akan tanggungjawab untuk tidak menyebarkan dan mempengaruhi orang lain dengan penyebaran hoaks.

Berita palsu dan konten yang sengaja di buat sering disalah gunakan dan dishare orang yang tidak bertanggung jawab dan dikonsumsi orang atau sekelompok untuk memperkeruh situasi. Seperti bahwasanya Covid-19 adalah bentuk konspirasi untuk membuat kehancuran di dunia ini.

Program vaksin untuk keperluan bisnis, adanya warga atau pasien dengan sengaja di positif Covid-19 dengan PPKM  kita tidak lagi diperbolehkan untuk beribadah, kenapa pasar tetap di buka.

Fenomena ini, sering terjadi menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menangkal hal tersebut. Bahwa yang dilakukan pemerintah semata-mata adalah kebaikan dan pemulihan kita semua. Sebagai mana ada beberapa negara sudah tidak lagi menggunakan masker ini menjadi contoh yang baik. Bagaimana warga negara tersebut taat akan aturan pada pemerintah.

Beberapa  langkah yang dapat kita lakukan dalam menghindari berita atau konten yang tidak benar hati-hati dengan judul provokatif, mencermati alamat situs, periksa fakta kejadian peristiwa nya, cek keaslian foto, dapatkan informasi resmi dari otoritas kesehatan global dan lokal, ikut serta grup diskusi anti-hoaks.

Mari kita berpikir kritis untuk menghadapi dan menelaah setiap berita yang ada. Agar Indonesia terbebas dari Covid-19.[]

Penulis, Kolomnis dan tinggal di Aceh Singkil

Facebook Comments
(Visited 26 times, 1 visits today)
165 views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *