Adab Mubaligh

Oleh: Aji Setiawan

MUBALIGH, da’i atau ustadz mereka adalah pembawa panji-panji ulama. Kesadaran ini bisa dijadikan bekal bagi dai dan mubaligh dalam berdakwah. Sehingga dakwahnya tidak asal bunyi dan bisa diterima umat (dakwah bil hikmah wal maudzatil khasanah).

Aji Setiawan

Karena Rasululullah SAW pernah bersabda, ”Sesungguhnya ulama itu pewaris nabi, sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan mewariskan ilmu. Karena itu siapa saja yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang besar” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad Al Hakim, Al Baihaqi dan Ibnu Hibban).

Mereka punya peran penting dalam membumikan nilai-nilai agung syariat yang dibawa Rasulullah SAW. Sebagai penyambung lidah Rasulullah SAW melalui ulama kepada umat. Karena itu perlu persiapan bekal ilmu dan ittiba’ (mengikuti ) ulama amillin. Berkaitan dengan pentingnya peran dai dan mubaligh terutama dalam konteks keIndonesiaan, di damping peran ulama dan mubaligh dalam memberikan ceramah-ceramah dengan bidang ilmu dan ittiba’ para ulama.

Karena itu perlu bekal ilmu bagi para dai dan mubaligh. Sebagai ulama tidak saja membawa panji-panji agama namun juga punya tugas sebagai individu sebagai jalan ibadah meraih keridhaan Allah SWT.

Karena itu adab, mempunyai peran penting disamping ilmu sebagai contoh dan karakter orang berilmu. Adab orang berilmu dapat dijadikan sebagai pegangan bagi mereka yang memilih dan menjadikan jalan dakwah sebagai pilihan hidup.

Kita lebih butuh sedikit adab dari pada banyak ilmu. Barang siapa meremehkan adab, niscaya dihukum tidak memiliki sunnah. Barang siapa meremehkan sunnah, niscaya dihukum tidak mengerjakan hal-hal wajib, dan barang siapa meremehkan hal-hal wajib niscaya dihukum dengan tidak memiliki ma’rifah.

10 adabnya orang alim

Pertama, inshaf, menyadari kebenaran dan keadilan.

Kedua, mengatakan tidak tahu dan wallahu a’lam (Allah lebih mengetahui) apabila ditanya ihwal sesuatu yang tidak diketahuinya. Sebagaimana firman Allah SWT ”Katakanlah (wahai Muhammad), Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu dab aku bukanlah termasuk orang-orang yang mengada-adakan.” (QS Shaad: 86).

Ketiga, berhati-hati memberikan fatwa.

Keempat, memandang rendah dunia. Al Ghazali menyebutkan, seorang alim yang menjadi budak dunia keadaannya lebih buruk dan adzabnya lebih keras dibandingkan dengan orang yang jahil.

Kelima, adab seorang alim atau ulama adalah bersikap tawadhu kepada Allah baik dalam keadaan sendiri maupun di tengah orang banyak.

Keenam, meninggalkan perdebatan.

Ketujuh, tidak bergaul dengan penguasa atau aparat kekuasaan.

Kedelapan, seorang alim itu bersikap lemah lembut kepada para penuntut ilmu.

Rasulullah SAW sendiri telah mengingatkan ahli ilmu atau orang-orang alim dalam sabdanya, ”Sesungguhnya manusia mengikuti kalian dan sesungguhnya orang-orang dari berbagai tempat akan mendatangi kalian untuk mendalami agama. Maka apabila mereka mendatangi kalian, berikanlah wasiat kepada mereka untuk berbuat kebaikan.” (HR At Tirmidzi dari Abu Harun Al Abd dan Abu Sa’id Al Hudri).

Kesembilan, ikhlas dan sabar. Rasulullah adalah penyambung lisan para ulama kepada umat. Karena itu perlu kesiapan matang keikhlasan dan kesabaran yang murni dari para dai mutlak diperlukan. Sehingga amanah dan tugas mulia agung ini dapat dipanggul oleh para dai dan mubaligh. Dengan dua bekal ini para mubaligh dapat menjalankan tugasnya dengan kesabaran, keikhlasan, penuh kesadaran dan kehati-hatian.

Kesepuluh, beramar ma’ruf nahy munkar. Saat ini kemaksiatan dan kemungkaran telah merajalela di mana-mana. Tontonan jadi tuntunan, demikian sebaliknya tuntunan jadi tontonan.

Korupsi, suap, kolusi, nepotisme adalah bagian dari kemungkaran dan kemaksiatan yang sangat dilarang agama mana pun di muka bumi serta akan mendapat laknat Allah SWT. Padahal kondisi seperti itu sudah merata di seluruh lini kehidupan dan amat sedikit yang mencegahnya dari perbuatan munkar.

Sungguh beruntung orang berbuat amar ma’ruf nahy munkar. Allah SWT berfirman “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali ‘Imran: 110).

Rasulullah SAW bahkan memerintahkan kita untuk ber amar ma’ruf nahy munkar. “Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia menghilangkannya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Orang yang tidak mampu dengan lisannya, maka dengan hatinya. Dan dengan hati ini adalah lemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).

Beliau juga melalui hadist riwayat At Tirmidzi bersabda, ”Demi Allah yang jariku berada di dalam genggamannya, kamu harus menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran atau kalau tidak, pasti Allah akan menurunkan siksa kepadamu kemudian kamu berdoa , maka tidak diterima doa darimu.”

Nabi Muhammad SAW mengingatkan, ”Sesunguhnya jika melihat manusia berbuat jahat dan tidak mereka cegah. Hampir-hampir Allah akan meratakan siksa atau adzabnya kepada mereka.” (HR Abu Dawud).[]

Penulis tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *