Jalin

Catatan: Iranda Novandi

MENDENGAR kata Jalin, pikiran orang bisa saja melayang ke banyak hal. Mulai dari wisata alam, transmigrasi hingga teroris. Mungkin dua kata terakhir disebut, memang begitu melekat dibenak setiap orang.

Daerah Jalin memang terkenal sebagai daerah transmigrasi yang cukup terkenal di Aceh secara umum dan Aceh Besar khususnya. Lalu, teroris membenak di otak kita saat sejumlah orang sempat latihan meliter di kawasan Gampong Suka Tani, merupakan daerah yang sebelumnya sempat didiami 200 KK kepala keluarga (KK) warga transmigrasi.

Namun dalam tulisan ini, kita tak membahas dua hal tersebut, yakni transmigrasi dan teroris. Yang jadi pokok sorotan kita, yakni wisata alam. Jalin memiliki potensi alam yang sangat menjanjikan.

Hamparan ‘kepingan tanah surga’ ini, memilik pesona yang amat eksotik. Perbukitan yang indah dengan pemandangan yang memanjakan mata. Krueng (sungai) Jalin yang bisa ditingkatkan menjadi spot wisata arung jerang dan banyak lainya yang bisa dinikmati dan dikelola oleh banyak pihak, bukan saja pemerintah.

Jangan biarkan hamparan ‘kepingan tanah surga’ ini mubajir, tanpa sentuhan rasa dan peduli dari pihak yang mampu membuat kawasan Jalin menjadi daya pikat. Karena Jalin hanya butuh sentuhan tangan dingin sang inovatif dan kreatif saja.

*

Memasuki gerbang tol Jantho, pesona Aceh Besar begitu terasa. Pemandangan alam dengan pegunungan yang indah dan hamparan sawah yang mulai menguning dan sebagian warga sedang disibukan dengan panen padi yang telah tiba saatnya, menjadi cerita tersendiri bagi mata yang milintas tol Jantho.

Tol Jantho sepanjang 16 km ini, merupakan ruas jalan ke tiga dari sejumlah ruas yang menghubungan tol Sibanceh (Sigli-Banda Aceh). Melewati tol Jantho membuat perjalan Banda Aceh (Ibukota Provinsi Aceh) ke Jantho (Ibukota Kabupaten Aceh Besar) bisa ditempuh hanya dengan waktu sekitar 25-30 menit saja. Bila sebelumnya harus memakan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan.

Akses yang semakin mudah ini, seharusnya membuat daerah Jantho dan sekitarnya bisa berkembang cepat dan pesat. Karena, jarak tempuh yang semakin singkat, akses yang mudah ini harus bisa dimaksimalkan untuk menambah nilai tawar Aceh Besar, khususnya Jantho yang bisa berkembang lagi.

Baca Juga  Kerahkan TNI-Polri, Besok Pedagang Peurelak Dipindah

Hingga bila ada pameo selama ini yang menyebutkan, diluar jam kerja para PNS, Kota Jantho menjadi kota ‘hantu’, kota seakan tak berpenghuni. Padahal banyak yang bisa dijadikan daya tarik bagi siapapun terutama wisatawan untuk berkunjung kesana.

**

Direktur Dana dan Jasa Bank Aceh Syariah, Amal Hasan saat beri sambutan pada malam keakraban di Krueng Jalin.

Dua tenda biru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Besar sudah berdiri dengan kokoh. Dapur Umum dari Dinas Sosial (Dinsos) Aceh Besar sudah beroperasi. Pasukan Taruna Siaga Bencana (Tagana) di bawah kendali Kadis Sosial Aceh Besar, Bahrul Jamil sudah siaga.

Tak kalah ketinggalan pasukan trail dari Bang Bank Aceh Syariah (Trabas) dibawah komando Om Amal. Om Amal, merupakan sapaan akrab anak-anak Trabas pada Direktur Dana dan Jasa Bank Aceh Syariah.

Sedangkan sejumlah wartawan senior Aceh, Imran Joni (Pimpinan Umum Hr Rakyat Aceh), Nurdinyam, Nasir Yusuf (Pemred dan PP AcehHerald.com), HT Anwar Ibrahim (Pemred Acehstandar.com), Azhari (Pemred KBA.one) terlihat sedang bercengkrama dengan Saifullah (Harian Serambi Indonesia), Saifuddin Ali (acehwow), T Pribadi (AcehInspirasi.com), Hendra Sukmana (Penapost), Cek Boy (Pos Aceh) termasuk Ziat (Humas Bank Aceh Syariat) dan sejumlah wartawan lainnya.

Sabtu, 5 Maret 2022, pukul menujukan pukul 18.05 wib, Krueng Jalin terlihat begitu hangat. Nyanyian dan tarian moyet ekor pajang di perbukitan dan gemercik air yang mengantarkan simponi alam membuat suasana senja itu terasa begitu damai dan indah.

Iya, hari itu merupakan hari pertama media gathering antara wartawan dengan Bank Aceh Syariah, dengan didukung BPBD dan Dinas Sosial Aceh Besar. Berbagai kegiatan dilakukan dalam media gathering tersebut.

Di awali dengan penyerahan bantuan kepada meunasah (Mushalla) Gampong Jalin, berupa pompa air, guna menarik air dari sumur ke keran wuduk, penyerahan sajadah, paket olahraga (net dan bola voli) dan bantuan lainnya.

Baca Juga  Sektor Pertanian Berperan Penting bagi Perekonomian Nasional

Kumandang adzan magrib terdengar sayup-sayup lewat toa pengeras suara dari perkampungan memecah gemercik suara air dari sungai. Syukur, warga jalin, tidak mengatur pengeras suara adzan, maka suaranya bisa terdengar hingga jauh meski sayup-sayup.

Seketika, cengkrama yang penuh ke akraban pun bubar sendiri. Semua bergegas menuju sungai untuk mengambil wudhu guna melaksanakan shalat magrib berjemaah. Dengan modal terpal silver, shalat magrib yang di imami Amal Hasan, di tegah alam terbuka begitu syahdu terasa.

Di tempat lain, karena kondisi dengan keterbatasan, sejumlah peserta media gathering membuka saf lain untuk juga melaksanakan shalat magrib berjemaah di bawah tenda. Magrib itu benar-benar syahdu dan indah, di tengah rasa syukur yang teramat tinggi akan nikmat dan anugerah yang masa kuasa, Allah SWT.

Selepas mahrib, makan malam dengan menu utama masakan khas Aceh Rayeuk yang dirajik dan diramu, Bahrul Jamil juga tak kalah nikmatnya. Ternyata sosok Bahrul Jamil memiliki bakat terpendam dalam mengolah masakan khas Aceh Besar ini.

Malam itu, suasana Krueng Jalin begitu hangat. Semua cerita mencairkan suasana dan kepenatan kerja yang sebelumnya penuh rutinitas dari semua kalangan yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Merasa tak mau ketinggalan, Kalak BPBD Aceh Besar Ridwan Jamil pun ikut hadir selepas shalat Isya dan ikut bercerita menemani angin malam yang begitu lembut membelai kulit di pinggir Krueng Jalin.

Jalin sungguh mempunyai daya megis yang kuat. Tak terasa suasana malam hidup hingga dini hari bahkan jelang subuh pada esok harinya. Batasan pimpinan dan bawahan tak terasa, semua berbaur dalam satu keluarga besar dan pertemanan serta persahabatan.

***

Minggu 6 Maret 2022, Pukul 05.20 wib, Krueng Jalin kembali berdenyut. Sejumlah peserta media gathering yang rata-rata baru terlelap hanya 1-2 jam kembali berkativitas. Selepas shalat subuh, semua memainkan perannya sendiri, tanpa meski di komando dan diarahkan secara berlebihan.

Baca Juga  Pencabul Anak Dibawah Umur Diringkus di Kantor Keuchik
Kadis Sosial Aceh Besar, Barul Jamil saat meramu Kuah Beulangong

Menikmati nasi goreng ala dapur umum Dinsos menjadi kenangan tersendiri. Hanya dengan modal telur dadar dan ikan asin, semua terlihat lahap. Bukan karena lapar, tapi memang makanannya sungguh lezat. Hehehe..

Minggu itu, aktivitas terus berlanjut dengan cengrama bersama alam. Sejumlah pesertapun merendam badan mereka di Krueng Jalin yang sejuk dan segar. Rasanya, tak mau keluar dari air dengan belaian lembut aliran sungai yang tenang dan bersahabat tersebut.

Kruang Jalin hari itu begitu bersahabat. Airnya bening dan bersih. Tak ada warna coklat sedikitpun. Layaknya sungai lainnya di Aceh, yang kebanyakan berwarna coklat, akibat pembalakan liar yang dilakukan orang-orang yang tak bertangungg jawab.

Jelang siang, sepelas bercengrama dengan alam Jalin yang begitu eksotis, para peserta disuguhkan makanan yang tak kalah nikmatnya. Kuah Beulangong yang diramu dan dimasak langsung Kadis Sosial Aceh Besar.

Telen terpendam yang dimiliki Bahrul Jamil ini, ternyata mampu memanjakan lidah bagi siapapun yang menikmati masakan tersebut. Tidak ada piring kaca, atau gelas kaca. Semua peserta menikmati masakan tersebut dengan piring plastik. Sekali lagi dipastikan, tak ada pimpinan dan bawahan disini, semua merasakan hal yang sama dan berbaur dalam satu komunitas keluarga besar.

Jalin, magis mu cukup tinggi. Aliran sungaimu begitu lembut, angin manja membelai hati, hamparan alam buai sukma-sukma lara. Jalin, sambutan para tamu-tamu mu yang nanti datang menyapa mu di lain hari, karena ku tahu, mereka rindu alam mu yang indah ini.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.